Caption Foto : Ritual penyemayaman Api Dharma Waisak 2569 BE/2026 di kawasan Candi Mendut berlangsung khidmat. (Foto : Dok.Pemkab Magelang).
ORBIT-NEWS.COM, MAGELANG – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jumat (29/5/2026), saat ratusan umat Buddha bersama para biksu dari berbagai Sangha mengikuti prosesi penyemayaman Api Dharma Waisak 2569 BE/2026. Ritual sakral ini menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Hari Raya Waisak yang dipusatkan di kawasan Candi Borobudur.
Api Dharma yang menjadi simbol penerangan batin tersebut sebelumnya diambil dari sumber Api Abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan. Setelah menempuh perjalanan panjang, api tiba di Candi Mendut sekitar pukul 15.40 WIB dan disambut dengan prosesi keagamaan yang berlangsung penuh penghormatan.
Sekretaris Jenderal Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Bikkhu Kamsai Summano Mahatera menjelaskan, Api Dharma memiliki makna mendalam bagi umat Buddha. Api tersebut melambangkan cahaya kebijaksanaan yang mampu mengikis berbagai kotoran batin, seperti kemarahan, kebencian, dan kebodohan.
“Api itu menjadi simbol penerangan dalam kehidupan. Cahaya Dharma merupakan kebijaksanaan yang mampu membersihkan dan melenyapkan kotoran batin,” ujar Bikkhu Kamsai di sela prosesi di Candi Mendut.
Dalam ritual tersebut, nyala lilin berwarna-warni yang ditempatkan di altar utama menjadi simbol persatuan dan harapan setelah melewati kegelapan. Prosesi penyalaan lilin dilakukan secara bergantian oleh perwakilan dari masing-masing Sangha sebagai wujud kebersamaan umat Buddha.
Berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, prosesi Waisak tahun ini mengalami sejumlah penyesuaian. Ritual Pradaksina atau mengelilingi candi searah jarum jam serta kegiatan doa dan meditasi hanya dilaksanakan di area pelataran Candi Mendut. Penyesuaian tersebut dilakukan karena struktur utama Candi Mendut masih dalam tahap pemeliharaan dan perbaikan yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX.
“Tahun ini Pradaksina dan meditasi dilaksanakan di area samping. Kami tidak naik ke bagian atas candi karena masih dalam proses perbaikan,” kata Bikkhu Kamsai.
Penyematan Api Dharma
Prosesi penyemayaman Api Dharma berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Setelah api tiba, para rohaniwan menyalakan obor, lilin, dan dupa yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa suci, mantra, serta parita oleh para biksu dari berbagai majelis dan Sangha Buddha.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Walubi Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, mengatakan bahwa Api Dharma yang dibawa dari Mrapen diterima secara simbolis oleh 20 perwakilan rohaniwan yang mewakili berbagai Sangha. Menurutnya, api tersebut selanjutnya digunakan dalam berbagai rangkaian ritual keagamaan sebelum puncak perayaan Waisak digelar.
“Api Dharma diterima oleh 20 perwakilan dari berbagai Sangha. Setelah itu digunakan untuk menyalakan obor dan lilin, dilanjutkan dengan doa bersama, ritual sesuai tradisi masing-masing majelis, kemudian ditutup dengan Pradaksina,” jelas Tanto.
Ritual penyemayaman Api Dharma di Candi Mendut menjadi salah satu agenda penting menjelang puncak perayaan Waisak 2026. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan nilai spiritual umat Buddha, tetapi juga menjadi simbol persatuan, kedamaian, dan kebijaksanaan yang terus dijaga lintas generasi. (*)