ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Nama Rianto bukan lagi sosok asing di dunia seni pertunjukan internasional. Maestro lengger lanang asal Banyumas ini berhasil membawa kesenian tradisional Banyumas menembus panggung dunia, sekaligus menjadi duta budaya yang konsisten mengenalkan identitas Banyumas ke berbagai negara.
Sejak pertama kali tampil di luar negeri pada tahun 2003, Rianto tidak hanya menampilkan seni tari lengger, tetapi juga aktif memperkenalkan budaya Banyumas secara menyeluruh. Mulai dari kesenian lengger, ebeg, calung, hingga letak geografis Banyumas selalu ia ceritakan kepada masyarakat internasional di setiap kesempatan pentas.
Dalam perbincangan bersama Orbit-News.com, Sabtu (16/5/2026), Rianto menceritakan perjalanan panjangnya mengenalkan Lengger Banyumas ke dunia internasional. Jepang menjadi negara pertama yang membuka jalan karier internasionalnya.
“Istri saya mengajar di Jepang, kemudian saya diminta untuk pentas lengger sekaligus mengisi workshop di sana,” tutur Rianto.
Pada awal pementasan di Jepang, Rianto tampil di sebuah studio yang disaksikan para penari Jepang. Antusiasme penonton membuat pertunjukan berkembang hingga tampil di Kai dengan penonton masyarakat umum. Saat itu, Rianto membawakan pertunjukan lengger dan sintren yang sukses menarik perhatian publik Jepang.
Baca juga: Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran Setengah Kilogram Ganja, Pengedar Asal Wangon Dibekuk
Rianto mengaku tidak pernah merasa grogi saat tampil, termasuk ketika pertama kali membawa lengger ke panggung internasional. Namun, ia mengalami culture shock saat melihat kehidupan masyarakat Jepang yang sangat modern dan memiliki mobilitas tinggi.
“Saya melihat di tengah kesibukan mereka, ternyata ada ruang kosong yang akhirnya terisi lewat pertunjukan seni, termasuk saat mereka menyaksikan lengger dari Banyumas,” ungkapnya.
Lengger Banyumas Dikenalkan Hingga Korea dan Yunani
Baca juga: Rumah di Kemranjen Banyumas Ludes Dibakar, Pelaku Diduga Anak Kandung yang Alami Gangguan Jiwa
Kesuksesan di Jepang membuat perjalanan budaya Rianto terus berlanjut. Pada tahun 2005, ia kembali membawa Lengger Banyumas tampil di Korea dengan menggelar pertunjukan di tiga kota sekaligus. Di setiap pentas, Rianto selalu menyisipkan edukasi budaya tentang Banyumas dan filosofi lengger kepada penonton internasional.
“Saya selalu menunjukkan peta Banyumas, menjelaskan bahwa di Indonesia ada Pulau Jawa, Jawa bagian tengah, dan Banyumas yang memiliki kesenian lengger,” jelasnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Rianto terjadi saat tampil di Yunani. Negara yang dikenal kaya peradaban kuno tersebut dinilai memiliki apresiasi tinggi terhadap budaya dan seni tradisional. Ia mengaku merasa sangat tersanjung ketika Lengger Banyumas dipentaskan di gedung teater besar dengan ribuan penonton.
“Saya benar-benar merasa bangga karena Lengger Banyumas mendapat tempat di sana,” katanya.
Menurutnya, masyarakat Yunani sangat tertarik dengan konsep lengger yang melampaui batas maskulin dan feminin. Ketertarikan itu semakin besar ketika ia menjelaskan sejarah lengger sebagai ritual kesuburan yang dahulu dimainkan oleh laki-laki.
Baca juga: Polresta Banyumas Persempit Ruang Balap Liar, Pelanggar Ditindak Tegas
“Kesenian cross gender sangat menarik bagi mereka dan membuat mereka ingin mempelajari lebih dalam,” ungkapnya.
Tak hanya tari lengger yang mencuri perhatian dunia, alat musik tradisional calung Banyumas juga sukses memikat masyarakat internasional. Suara khas bambu yang dihasilkan calung dianggap unik dan memiliki karakter kuat. Bahkan, saat ini salah satu perangkat calung Banyumas telah dibawa hingga ke Jepang sebagai bagian dari pelestarian budaya Indonesia di luar negeri.
Rianto menilai masyarakat luar negeri memiliki kepedulian besar terhadap warisan budaya leluhur. Semangat untuk menjaga dan mempelajari budaya tradisional itu, menurutnya, harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Banyumas.
“Jangan mengaku orang Banyumas kalau tidak mengenal lengger,” tegasnya.
Baca juga: FTIK UIN Saizu Kirim 300 Mahasiswa ke Banjarnegara, Bantu Atasi Kekurangan Guru di Sekolah
Rumah Lengger Banyumas Jadi Pusat Pelestarian Budaya
Sebagai bentuk komitmennya menjaga warisan budaya Banyumas, Rianto mendirikan Yayasan Rumah Lengger di Jalan Kawedanan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Tempat tersebut dipersiapkan sebagai pusat dokumentasi sekaligus bank data Lengger Banyumas. Rumah Lengger menyimpan berbagai koleksi kostum, atribut, hingga perlengkapan maestro lengger dari masa ke masa.
“Generasi mendatang harus mengenal lengger sebagai warisan budaya nenek moyang. Karena itu, Rumah Lengger kami siapkan agar mereka bisa mengetahui sejarah, kostum, hingga perlengkapan para maestro lengger terdahulu,” jelasnya.
Rianto juga menyoroti pentingnya regenerasi lengger di kalangan anak muda. Menurutnya, menjadi penari berbeda dengan menjadi lengger sejati.
Baca juga: Dalami Kasus Penipuan Berkedok Sultan Nusantara, Polresta Banyumas Gandeng MUI Bentuk Tim Tabayun
“Penari hanya menghafal gerakan, sedangkan lengger harus menjalani proses panjang, memahami laku hidup, dan konsisten menjaga nilai budaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, filosofi lengger memiliki makna mendalam tentang kehidupan dan penyatuan dengan semesta.
“Lengger itu melampaui batas gender. Dari kata ‘leng’ yang berarti lubang dan ‘ngger’ sebagai panggilan anak laki-laki, menjadi laki-laki yang menari dengan gerakan perempuan, menyatu dengan semesta,” pungkasnya.
Melalui perjalanan panjangnya keliling dunia, Rianto membuktikan bahwa budaya lokal Banyumas memiliki daya tarik global yang luar biasa. Upaya konsisten mengenalkan lengger, calung, dan budaya Banyumas ke panggung internasional menjadi inspirasi bahwa warisan leluhur dapat terus hidup, berkembang, dan dihormati dunia ketika dijaga dengan cinta dan dedikasi.
Baca juga: Kecanduan Judi Slot, Pria di Banyumas Nekat Curi Motor Yamaha N-Max
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.