ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan proses hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Menurut Luthfi, perlindungan terhadap santri dan lingkungan pesantren harus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan. Langkah tersebut dinilai penting agar kasus serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
“Kita harus saling asah dan asuh. Tidak cukup dengan penegakan hukum. Kita harus mengumpulkan seluruh tokoh masyarakat untuk menyadarkan kembali agar kejadian kekerasan tidak terulang,” kata Luthfi usai menghadiri peringatan Hari Lahir ke-76 Fatayat NU di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Sabtu (30/5/2026).
Ia menjelaskan, penanganan kasus kekerasan tetap menjadi ranah aparat kepolisian. Namun, proses pemulihan korban dan pembenahan lingkungan pesantren memerlukan dukungan berbagai pihak agar dapat berjalan secara optimal.
Sebagai bagian dari langkah pencegahan, Luthfi mengaku telah berkomunikasi dengan Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin. Hasil pembahasan tersebut akan ditindaklanjuti melalui sinergi bersama kementerian terkait, aparat penegak hukum, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.
Menurutnya, sejumlah kasus yang mencuat belakangan ini harus menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat sistem perlindungan di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan tersebut.
“Peristiwa yang terjadi harus menjadi pembelajaran bagi kita semua agar tidak terulang kembali. Pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan banyak pihak,” tegasnya.
Keberanian Untuk Melapor
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Tengah, Tazkiyatul Mutmainah, menegaskan komitmen organisasinya dalam memperjuangkan perlindungan perempuan dan anak, termasuk mendorong pencegahan kekerasan seksual. Menurut Tazkiyatul, keberanian korban maupun masyarakat untuk melapor menjadi salah satu kunci penting dalam memutus rantai kekerasan.
“Kita aktif menyadarkan masyarakat untuk berani speak up, berani bersuara ketika melihat atau menjadi korban kekerasan, terutama kekerasan seksual, karena ini adalah tugas kita bersama,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Tegal tersebut menambahkan, Fatayat NU Jawa Tengah siap mendukung berbagai program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, perlindungan perempuan, dan perlindungan anak.
Melalui kerja sama lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan lingkungan pesantren di Jawa Tengah dapat menjadi ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.