ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Telur menjadi salah satu pilihan makanan favorit karena mudah diolah, harganya relatif terjangkau, dan kaya protein. Namun, di balik kandungan gizinya, kebiasaan mengonsumsi telur dalam jumlah berlebihan perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi atau gangguan kesehatan tertentu.
Telur mengandung protein berkualitas tinggi serta berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Makanan ini juga dapat membantu menjaga massa otot dan memberikan rasa kenyang lebih lama.
Meski demikian, jumlah telur yang dikonsumsi setiap hari tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi, kondisi kesehatan, dan pola makan secara keseluruhan. Bukan berarti telur harus dihindari, tetapi konsumsinya perlu diatur agar manfaatnya bisa diperoleh secara optimal.
Mengonsumsi telur secara berlebihan, terutama jika menjadi bagian dari pola makan yang tidak seimbang, dapat menimbulkan sejumlah masalah. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Kadar Kolesterol Bisa Meningkat
Baca juga: 5 Pilihan Makanan untuk Penderita Asam Lambung, Bantu Perut Lebih Nyaman dan Kenyang Lebih Lama
Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan konsumsi telur adalah kadar kolesterol dalam darah. Bagian kuning telur mengandung kolesterol makanan yang jumlahnya cukup signifikan.
Pada sebagian orang, asupan kolesterol dari makanan dapat memengaruhi kadar kolesterol LDL atau yang dikenal sebagai kolesterol jahat. Namun, respons tubuh terhadap kolesterol makanan tidak selalu sama pada setiap orang.
Kadar LDL yang tinggi dapat mendorong penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, aliran darah dapat terganggu dan risiko penyakit kardiovaskular meningkat.
Karena itu, orang yang memiliki kolesterol tinggi sebaiknya memperhatikan konsumsi telur sekaligus membatasi makanan tinggi lemak jenuh, seperti daging berlemak dan produk olahan tertentu.
2. Berat Badan Berpotensi Bertambah
Baca juga: Musim Hujan Tiba, Masyarakat Diminta Waspada Banjir dan Ancaman Penyakit
Telur kerap dimasukkan ke dalam menu diet karena kandungan proteinnya membantu memberikan rasa kenyang. Namun, mengonsumsi telur dalam jumlah banyak tetap dapat menambah asupan kalori harian.
Satu butir telur berukuran sedang mengandung sekitar 70 kalori. Jika dikonsumsi beberapa butir sekaligus, jumlah kalorinya akan meningkat, terlebih apabila telur diolah menggunakan banyak minyak, mentega, atau bahan tambahan tinggi kalori.
Berat badan dapat bertambah ketika asupan kalori secara konsisten melebihi energi yang digunakan tubuh.
Oleh sebab itu, konsumsi telur sebaiknya disertai pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup. Mengombinasikan telur dengan sayuran, buah, serta sumber karbohidrat yang sesuai kebutuhan juga membantu menjaga kualitas asupan nutrisi.
3. Pencernaan Bisa Terasa Tidak Nyaman
Baca juga: Musim Hujan Bikin Flu Mudah Menular, Ini Cara Efektif Melindungi Diri
Sebagian orang dapat mengalami rasa begah, kembung, atau tidak nyaman pada perut setelah mengonsumsi telur dalam jumlah banyak.
Keluhan tersebut tidak selalu disebabkan oleh telur itu sendiri. Porsi makan yang terlalu besar, cara pengolahan, serta makanan pendamping yang dikonsumsi bersamaan juga dapat memengaruhi kenyamanan pencernaan.
Selain itu, menu yang terlalu berfokus pada telur tanpa cukup sayur, buah, dan sumber serat lainnya dapat membuat asupan serat harian tidak terpenuhi. Untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan, konsumsilah telur dalam porsi yang sesuai dan variasikan menu dengan makanan bergizi lainnya.
4. Reaksi Alergi Dapat Terjadi
Telur termasuk makanan yang dapat memicu alergi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sensitif terhadap protein tertentu di dalamnya.
Baca juga: Benarkah Minum Teh Setelah Makan Bisa Bikin Gemuk? Ini Penjelasannya
Gejalanya bisa berupa gatal-gatal, ruam kemerahan, bentol pada kulit, mual, atau muntah. Pada reaksi yang lebih berat, alergi telur dapat menyebabkan pembengkakan pada saluran pernapasan hingga kesulitan bernapas.
Perlu dipahami bahwa alergi telur tidak otomatis muncul hanya karena seseorang mengonsumsi telur dalam jumlah banyak. Kondisi ini berkaitan dengan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein telur.
Jika muncul tanda-tanda alergi setelah mengonsumsi telur, hentikan konsumsinya dan konsultasikan dengan tenaga medis. Apabila terjadi sesak napas atau pembengkakan pada lidah dan tenggorokan, segera cari pertolongan medis darurat.
5. Penderita Penyakit Ginjal Perlu Mengatur Asupan Protein
Telur merupakan sumber protein yang bermanfaat untuk menjaga dan memperbaiki jaringan tubuh. Namun, kebutuhan protein setiap orang berbeda, termasuk pada orang yang mengalami gangguan fungsi ginjal.
Baca juga: Jerawat Muncul Terus Menjelang Haid? Ternyata Ini Penyebabnya
Ginjal berperan membuang sisa metabolisme protein dari tubuh. Pada penderita penyakit ginjal kronis, pengaturan asupan protein perlu disesuaikan dengan kondisi penyakit dan rekomendasi tenaga medis.
Meski demikian, bukan berarti konsumsi telur secara berlebihan pasti menyebabkan kerusakan ginjal pada orang yang sehat. Risiko dan kebutuhan pembatasan protein bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu.
Bagi penderita penyakit ginjal, sebaiknya konsultasikan kebutuhan protein harian dengan dokter atau ahli gizi agar asupan makanan tetap mencukupi tanpa memperberat kondisi yang dialami.
Tidak ada satu batas konsumsi telur yang berlaku mutlak bagi semua orang. Jumlah yang sesuai bergantung pada kondisi kesehatan, kebutuhan protein, pola makan, dan faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Bagi orang dewasa yang sehat, satu butir telur per hari umumnya dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang. Konsumsi lebih dari satu butir juga perlu dinilai berdasarkan keseluruhan asupan makanan dan kondisi individu, bukan hanya jumlah telur semata.
Baca juga: Warga Lereng Lawu Terbantu Dengan Program Speling, Kini Bisa Konsultasi Dokter Spesialis Gratis
Sementara itu, orang dengan kolesterol tinggi, diabetes, atau riwayat penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk menentukan porsi yang sesuai. Pembatasan kuning telur tidak selalu harus sama bagi setiap orang.
Putih telur dapat menjadi alternatif sumber protein karena hampir tidak mengandung kolesterol. Meski demikian, kebutuhan protein tetap perlu dipenuhi melalui variasi makanan, bukan hanya mengandalkan telur. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.