ORBIT-NEWS.COM, PURBALINGGA – Pengalaman menghadapi banjir bandang dan tanah longsor pada Januari 2026 mendorong penguatan kesiapsiagaan bencana di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemasangan teknologi Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Perangkat tersebut dipasang sebagai upaya membantu masyarakat mendeteksi potensi ancaman banjir dan tanah longsor lebih awal. Dengan sistem ini, warga diharapkan memiliki waktu untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum bencana terjadi.
Ketua Tim Kesiagaan Bencana Unsoed, Dyah Susanti mengatakan, pemasangan EWS menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat bertajuk Smart Village Tangguh Bencana yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed melalui skema Smart Village.
Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga mencakup edukasi kebencanaan, pelatihan kesiapsiagaan warga, serta konservasi lahan pertanian di kawasan yang memiliki potensi bencana.
"Pemasangan perangkat tersebut merupakan kelanjutan dari pendampingan yang telah dilakukan Unsoed kepada masyarakat Desa Serang sejak bencana banjir bandang dan longsor melanda wilayah tersebut," jelasnya, Senin (2/11/2026).
Baca juga: Diduga Hirup Gas Beracun Saat Gali Sumur, Pria di Rawalo Tewas Tercebur
Sebelumnya, saat masa tanggap darurat, Unsoed turut memberikan bantuan berupa pelayanan kesehatan, logistik, hingga pemenuhan kebutuhan sanitasi. Kini, dukungan dilanjutkan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat mitigasi bencana.
“Kami mencoba memberikan kontribusi dari sisi akademisi maupun teknologi, tidak hanya untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga untuk mitigasi,” ujar Dyah.
Dalam pemasangannya, tim Unsoed melibatkan Dr. Zaroh Irayani dari Divisi Kajian Ilmiah serta dua mahasiswa yang membantu proses perakitan teknologi. Ketua RT, kelompok tani, hingga komunitas Pemuda Tangguh Bencana ikut mendukung proses instalasi. Bahkan, warga telah menyiapkan dudukan perangkat sebelum tim Unsoed datang ke lokasi.
Cara Kerja EWS Banjir dan Longsor di Desa Serang
Perangkat EWS yang dipasang bekerja dengan memantau curah hujan sebagai salah satu indikator untuk mengidentifikasi potensi terjadinya banjir maupun tanah longsor. Ketika hasil pengukuran menunjukkan angka yang mencapai ambang batas tertentu, sistem akan mengaktifkan alarm sebagai tanda peringatan bagi masyarakat di sekitar lokasi.
Baca juga: Bupati Sadewo Targetkan Registrasi Perlinsos Digital Banyumas Capai 50 Persen pada Akhir 2026
Untuk menjaga agar perangkat tetap berfungsi ketika terjadi gangguan pasokan listrik dari PLN, sistem ini juga dilengkapi panel surya sebagai sumber energi alternatif.
Instalasi EWS ditempatkan di Dusun III atau Kaliurip, Desa Serang. Lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan wilayah yang pernah terdampak bencana sekaligus kemudahan akses bagi komunitas Pemuda Tangguh Bencana dalam melakukan pemantauan dan pengamanan perangkat.
Saat ini, EWS masih menjalani tahap uji coba selama satu minggu. Pengujian dilakukan untuk memastikan seluruh komponen bekerja sesuai kebutuhan di lapangan. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah jangkauan suara alarm, termasuk kemampuannya memberikan peringatan ketika hujan deras disertai petir.
Dyah berharap keberadaan teknologi tersebut dapat membantu mengurangi kepanikan warga ketika menghadapi potensi bencana. Pengalaman bencana sebelumnya memang masih menyisakan kekhawatiran di tengah masyarakat.
“Harapannya, dengan adanya alat ini nantinya warga tidak terlalu panik, tetapi tetap bersiaga,” tuturnya.
Baca juga: Polresta Banyumas Ungkap Pencurian Rp17,2 Juta di Kembaran, Pelaku Ditangkap
Setelah masa pengujian selesai, Tim Kesiagaan Bencana Unsoed akan melakukan evaluasi bersama masyarakat setempat. Tahap berikutnya adalah memberikan pelatihan kepada anggota Pemuda Tangguh Bencana dan perangkat desa. Pelatihan tersebut mencakup pengenalan sistem kerja EWS, tata cara pengoperasian perangkat, hingga langkah koordinasi yang harus dilakukan ketika alarm peringatan berbunyi.
Ke depan, pengelolaan perangkat direncanakan diserahkan kepada pemerintah desa agar sistem peringatan dini tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Meski demikian, Unsoed tetap membuka kesempatan untuk melakukan pendampingan dan pemantauan melalui komunikasi dengan masyarakat Desa Serang.
“Persiapan bencana tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Masyarakat perlu bersama-sama membaca tanda-tanda alam, tetap waspada, dan menyiapkan jalur evakuasi yang aman,” pungkas Dyah. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.