ORBIT-NEWS.COM, KEBUMEN – Identitas makam tua di puncak Gunung Grenggeng, Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, kembali menjadi bahan diskusi. Makam yang selama ini dikenal sebagai tempat peristirahatan Syekh Baribin itu ternyata menyimpan sejumlah pertanyaan sejarah yang belum terjawab.
Dalam sebuah Saresehan Budaya bertajuk Syekh Baribin dan Adipati Jana, Sabtu (31/10/2026) malam, budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun mengungkapkan adanya perbedaan antara cerita yang berkembang di masyarakat dengan keterangan dalam naskah sejarah Babad Banyumas Danuredjan. Bahkan, berdasarkan naskah tersebut, sosok yang dimakamkan di Gunung Grenggeng bukanlah Raden Baribin, melainkan Raden Jaka Krenda atau Raden Haryo Panulahar, putra Prabu Brawijaya V.
Paparan tersebut membuka kembali pertanyaan mengenai siapa sebenarnya tokoh yang dimakamkan di kompleks makam tua yang selama ini menjadi tujuan wisata religi dan ziarah masyarakat tersebut. Nassirun menjelaskan bahwa selama ini masyarakat menghubungkan Syekh Baribin di Gunung Grenggeng dengan Raden Baribin, tokoh yang dikenal dalam silsilah leluhur Dinasti Banyumas.
"Raden Baribin memiliki keterkaitan dengan sejarah kepemimpinan Wirasaba dan Banyumas. Dalam sejumlah versi Babad Banyumas, Raden Baribin disebut memiliki putra bernama Raden Katuhu yang menjadi Bupati Wirasaba, serta cucu bernama Raden Jaka Kaiman yang dikenal sebagai Adipati Mrapat dan Bupati Banyumas," ungkanya.
Namun, menurut Nassirun, tidak ditemukan keterangan dalam naskah-naskah Babad Banyumas yang secara tegas menyebut Raden Baribin dimakamkan di Gunung Grenggeng. Ia kemudian mengacu pada Babad Banyumas Danuredjan, sebuah naskah yang ditulis oleh Patih Yogyakarta, Adipati Danureja V, pada 1883 atau setahun sebelum meninggal dunia pada 1884.
Naskah tersebut dinilai penting karena Adipati Danureja V juga merupakan tokoh yang membangun kompleks makam di Gunung Grenggeng.
Hal itu dibuktikan dengan prasasti berhuruf Jawa yang hingga kini masih terpasang pada cungkup makam.
Prasasti tersebut berbunyi:
"Ingkang yasani Pasareyan Garenggeng: Kangjeng Raden Adipati Danureja: Ridder Ordhe Nederlan Sleyo: Pepatih Dalem ingkang kaping 5 Negari Ngayogya."
Tulisan tersebut bermakna bahwa makam Grenggeng dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati Danureja, Patih kelima Kesultanan Yogyakarta yang memperoleh gelar kehormatan Ridder Orde Nederland Leeuw.
Menariknya, dalam naskah yang ditulis oleh tokoh pembangun makam tersebut, sosok yang dikisahkan berkaitan dengan Gunung Grenggeng justru bukan Raden Baribin.
"Jadi, dalam naskah ditulis bahwa pertapa yang bertapa di Gunung Grenggeng, dan kemudian dimakamkan di Gunung Grenggeng, adalah Raden Jaka Krenda, atau Raden Haryo Panulahar, anak Prabu Brawijaya V yang nomor 78. Bukan Raden Baribin atau Syekh Baribin," ungkap Nassirun.
Kisah Raden Haryo Panulahar dan Adipati Jana
Babad Banyumas Danuredjan juga memuat kisah perjalanan Raden Haryo Panulahar, termasuk hubungannya dengan tokoh yang dikenal sebagai Adipati Janah. Dalam cerita tersebut, Raden Haryo Panulahar digambarkan pernah bertapa di Gunung Grenggeng. Di tempat itu pula ia bertemu dengan Adipati Janah yang kemudian menjadi muridnya.
Setelah meninggalkan Gunung Grenggeng, Raden Haryo Panulahar melanjutkan perjalanan dakwah hingga menetap di kawasan Ayah, tepatnya di sekitar Gunung Sikanco. Ia kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di wilayah tersebut.
Baca juga: GAPEKA 2026 Ubah Jadwal dan Rute Kereta Api, KA Pangandaran Kini Sampai Sidareja
Kabar meninggalnya sang guru disampaikan oleh murid-muridnya kepada Adipati Janah yang berada di Gunung Grenggeng. Mendengar kabar itu, Adipati Janah meminta agar jenazah Raden Haryo Panulahar dibawa dan dimakamkan di Gunung Grenggeng.
Namun, permintaan tersebut ditolak oleh murid-murid Raden Haryo Panulahar di Ayah. Penolakan itu memicu perebutan jenazah yang dikisahkan berlangsung sengit hingga menimbulkan banyak korban di sekitar tepian sungai. Peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan munculnya nama Kali Bacin.
Dalam kisah yang sama, jenazah Raden Haryo Panulahar akhirnya berhasil dibawa melalui gorong-gorong bawah tanah. Jejak gorong-gorong yang dikaitkan dengan cerita tersebut disebut masih dapat ditemukan di kompleks makam Gunung Sikanco, Desa Sikanco, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap.
Kisah ini menjadi salah satu bagian penting dalam penelusuran hubungan sejarah antara Gunung Grenggeng, Ayah, dan kawasan Cilacap selatan.
Persoalan identitas makam Gunung Grenggeng juga ditinjau dari sisi arkeologis oleh Dr. Muhammad Yaser Arafat. Berdasarkan kajiannya terhadap bentuk dan karakter nisan, Yaser menyampaikan bahwa nisan yang selama ini diyakini sebagai makam Syekh Baribin memiliki gaya yang berkembang sekitar tahun 1600-an.
Baca juga: Wacana Relokasi PKL Jalan Bung Karno Purwokerto Tuai Dukungan, Muncul Usulkan CFD Setiap Akhir Pekan
Jika perkiraan periode tersebut digunakan sebagai acuan, makam itu kemungkinan berkaitan dengan seseorang yang hidup pada kisaran 1500-an.
Temuan tersebut menarik karena Raden Baribin diperkirakan hidup pada masa akhir Kerajaan Majapahit, sebelum abad ke-16. Sementara Raden Haryo Panulahar, yang disebut sebagai keponakan Raden Baribin, memiliki kemungkinan periode kehidupan yang lebih sesuai dengan perkiraan usia nisan tersebut.
Meski demikian, Yaser mengingatkan bahwa hasil pembacaan nisan maupun keterangan dalam naskah sejarah tidak bisa langsung dijadikan kesimpulan final.
Ia tidak mengklaim Babad Banyumas Danuredjan sebagai satu-satunya sumber sejarah yang paling valid. Menurutnya, isi naskah tersebut masih terbuka untuk diuji dan didiskusikan melalui penelitian lebih lanjut.
"Saya hanya menyampaikan apa yang tertulis dalam naskah dari orang yang membangun makam tersebut, yaitu Patih Danureja V," jelasnya.
Baca juga: Hujan Deras Picu Longsor di Tiga Lokasi Somagede Banyumas
Pertanyaan mengenai siapa sebenarnya tokoh yang dimakamkan di Gunung Grenggeng belum sepenuhnya terjawab. Selama ini, papan nama yang dipasang Pemerintah Kabupaten Kebumen menyebut makam tersebut sebagai makam Syekh Baribin. Statusnya sebagai situs cagar budaya juga menjadikannya salah satu tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah setiap tahun.
Namun, dalam saresehan tersebut terungkap bahwa juru kunci maupun Kepala Desa Grenggeng juga belum menemukan sumber sejarah yang benar-benar menguatkan bahwa makam tersebut merupakan makam Syekh Baribin atau Raden Baribin.
Di akhir pemaparannya, Nassirun Purwokartun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Desa Grenggeng apabila penjelasan yang disampaikannya menimbulkan pertanyaan terhadap keyakinan sejarah yang selama ini berkembang.
Ia juga mendukung upaya Pemdes Grenggeng untuk terus merawat kompleks makam tua di Gunung Grenggeng, sekaligus mendorong penelitian sejarah agar identitas dan latar belakang situs tersebut dapat diketahui secara lebih mendalam. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.