ParagonCorp Ungkap Strategi Membangun Ekosistem Kosmetik Halal, Konsumen Jadi Prioritas Utama

EKBIS
By Hermiana E. Effendi  —  On Oct 30, 2026
Caption Foto : Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa MD, saat tampil di sesi panel BeautyMatter NEXT50 Summit 2026.(Foto : Dok. ParagonCorp).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - ParagonCorp menempatkan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen sebagai fondasi utama dalam mengembangkan industri kosmetik halal. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada sertifikasi produk, tetapi juga mencakup nilai, pengalaman, hingga kesesuaian produk dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Strategi itu disampaikan Deputy CEO sekaligus Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa MD, dalam sesi panel BeautyMatter NEXT50 Summit 2026. Forum tersebut membahas strategi membangun relevansi merek kecantikan di berbagai pasar global.

Dalam kesempatan itu, dr. Sari mengungkapkan bahwa perjalanan ParagonCorp selama lebih dari empat dekade berangkat dari prinsip sederhana, yakni memahami dan mendengarkan konsumen.

“Pada dasarnya, setiap orang ingin didengar dan merasa dilihat,” ujar dr. Sari.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi penting dalam membangun ekosistem kosmetik halal. Sebab, halal tidak cukup dimaknai sebatas pemenuhan persyaratan teknis atau kepemilikan sertifikasi, melainkan harus tercermin dalam kualitas produk dan pengalaman konsumen.

Baca juga: Investasi Banyumas Butuh Iklim Sejuk dan Kebijakan yang Berpihak kepada Rakyat

Ia mencontohkan, produk kosmetik juga perlu mempertimbangkan kebutuhan perempuan Muslim dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk ketika beribadah dan berwudhu.

“Halal bukan hanya soal apa yang boleh digunakan, tetapi juga apa yang baik untuk kita,” katanya.

Pandangan tersebut membuat konsep halal memiliki cakupan lebih luas, mulai dari kejujuran merek, pilihan konsumsi yang lebih sadar, tanggung jawab perusahaan, hingga keberlanjutan. Dengan demikian, nilai halal tidak berhenti pada label produk, tetapi harus diwujudkan secara konsisten dalam seluruh aktivitas bisnis.

Perempuan Muslim Bukan Satu Segmen Konsumen

Dalam diskusi tersebut, dr. Sari juga menyoroti pentingnya memahami keberagaman perempuan Muslim sebagai konsumen produk kecantikan.

Baca juga: Tiga Perusahaan Lirik Investasi di Purbalingga

Menurutnya, kesamaan keyakinan tidak serta-merta membuat perempuan Muslim memiliki kebutuhan dan preferensi yang sama. Latar belakang budaya, aktivitas sehari-hari, lingkungan sosial, hingga cara mengekspresikan kecantikan dapat berbeda di setiap komunitas dan negara.

Karena itu, perusahaan kecantikan perlu menghindari pendekatan yang menyamaratakan seluruh perempuan Muslim dalam satu kelompok pasar.

“Bicara soal perempuan, kita harus mendengarkan mereka. Jangan sampai apa yang ditampilkan brand justru membuat perempuan merasa itu bukan dirinya,” ucap dr. Sari.

Pendekatan consumer-first juga semakin relevan karena perjalanan konsumen dalam mengenal dan membeli produk kecantikan kini semakin kompleks.

Konsumen bisa pertama kali mengetahui sebuah produk melalui konten kreator di media sosial, kemudian mendatangi toko untuk mencoba langsung, mengikuti kegiatan promosi secara offline, hingga melakukan pembelian melalui platform digital.

Baca juga: Pentingnya Diversifikasi Investasi, Jangan Taruh Semua Uang di Satu Instrumen

Setelah menggunakan produk, mereka dapat membagikan pengalaman yang kemudian memengaruhi keputusan konsumen lainnya. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut mengubah pola tersebut karena konsumen kini mulai memanfaatkan AI untuk mencari informasi dan memperoleh rekomendasi produk.

Kondisi ini membuat setiap titik interaksi atau touchpoint memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan terhadap sebuah merek. Pengalaman positif maupun negatif pada satu kanal dapat memengaruhi persepsi konsumen ketika berinteraksi melalui kanal berikutnya.

Ekosistem Terintegrasi dengan 15 Brand dan 200 Peneliti

Bagi ParagonCorp, keberhasilan membangun industri kosmetik halal tidak semata-mata diukur dari angka penjualan. Kemampuan memahami kebutuhan konsumen dan menerjemahkannya menjadi inovasi produk menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.

Selama lebih dari 40 tahun, ParagonCorp mengembangkan ekosistem value chain terintegrasi yang mencakup riset konsumen, penelitian dan pengembangan (R&D), manufaktur, distribusi, hingga berbagai kanal yang terhubung langsung dengan konsumen.

Baca juga: 9 UMKM Banyumas Raya Tampil di ISEF 2026

Ekosistem tersebut kini menaungi 15 brand dengan dukungan lebih dari 200 peneliti. Kekuatan ini menjadi salah satu fondasi perusahaan dalam mengembangkan produk kecantikan yang relevan dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.

Keikutsertaan ParagonCorp dalam BeautyMatter NEXT50 Summit 2026 sekaligus menjadi kesempatan untuk membagikan pengalaman perusahaan dalam membangun ekosistem kecantikan halal kepada pelaku industri di tingkat global.

Melalui pendekatan tersebut, ParagonCorp menegaskan bahwa inovasi industri kecantikan harus dimulai dari pemahaman terhadap manusia yang menggunakan produknya.

Setiap konsumen memiliki cerita, kebutuhan, dan pengalaman berbeda. Karena itu, tidak ada satu formula yang dapat digunakan untuk memahami seluruh konsumen. Langkah awal yang perlu dilakukan brand adalah mendengarkan dengan saksama, memahami lebih dalam, dan terus belajar mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: