Karhutla Meluas ke 7 Provinsi, Kemenkes Catat 13.449 Kasus ISPA dan Siagakan 848 Tenaga Kesehatan

Nasional
By Ariyani  —  On Aug 31, 2026
Caption Foto : Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono. (Foto : Dok. Kemenkes).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia mulai memberikan tekanan terhadap sektor kesehatan. Paparan asap dan partikulat menjadi ancaman serius, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan kualitas udara buruk.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat penanganan kesehatan di tujuh provinsi yang terdampak karhutla. Berdasarkan Situation Report Kemenkes hingga 27 Agustus 2026, wilayah terdampak meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Jumlah penduduk yang terdampak mencapai 10.674.201 orang. Dari angka tersebut, sebanyak 123 orang dilaporkan mengalami luka berat atau harus menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan dua orang mengalami luka ringan dan menjalani rawat jalan. Hingga laporan tersebut diperbarui, Kemenkes belum mencatat adanya korban meninggal dunia maupun masyarakat yang harus mengungsi akibat Karhutla.

Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, dampak Karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Asap yang dihasilkan pembakaran juga dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap,” ujar Dante.

Baca juga: KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031

13.449 Kasus ISPA Tercatat

Gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan di wilayah terdampak Karhutla adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Data Kemenkes mencatat 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026. Jika dihitung secara kumulatif, jumlah kasus ISPA telah mencapai 13.449 kasus yang tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak.

Selain ISPA, paparan asap Karhutla juga berpotensi memicu batuk, sesak napas, radang tenggorokan, serangan asma, PPOK, serta iritasi pada mata dan kulit. Dalam kondisi tertentu, paparan polusi udara akibat asap Karhutla juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Kondisi tersebut membuat sejumlah kelompok masyarakat membutuhkan perlindungan lebih. Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta pekerja yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

“Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” kata Dante.

Baca juga: Mentan Amran Copot 13 Pejabat Kementan karena Judi Online, Tegaskan Tak Ada Toleransi

Ancaman kesehatan semakin besar ketika kualitas udara di wilayah terdampak mengalami penurunan drastis. Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB menunjukkan sejumlah daerah berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Parameter yang menjadi perhatian utama adalah PM2.5. Pontianak, Kalimantan Barat, tercatat memiliki ISPU 328 dan masuk kategori berbahaya.

Sementara itu, Kabupaten Tebo di Jambi memiliki nilai ISPU 287. Kabupaten Barito Selatan di Kalimantan Tengah tercatat 274, Katingan 258, dan Kabupaten Pali di Sumatera Selatan 255. Keempat wilayah tersebut berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Menghadapi kondisi tersebut, Kemenkes bersama pemerintah daerah memperkuat pelayanan kesehatan di lapangan. Hingga 27 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB, sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi ke tujuh provinsi terdampak Karhutla. Mereka terdiri atas dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, hingga tenaga pendukung lainnya.

Selain personel, pemerintah juga memperkuat ketersediaan peralatan dan logistik kesehatan. Pemerintah daerah telah memobilisasi 394.385 masker, 56 unit oksigen konsentrator, 1.000 pasang handscoon, 103 tabung Oxycan, 40 dus PMT, 36 face shield, serta delapan APD.

Sementara itu, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes mendistribusikan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang handscoon, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke sejumlah wilayah yang terdampak. Kemenkes juga memastikan fasilitas kesehatan tetap siap melayani masyarakat. Sebanyak 1.691 Puskesmas dan 360 rumah sakit rujukan disiapkan, didukung 87 Labkesmas. (*)

Baca juga: Karangsambung Kebumen Jadi Pusat Agenda IUGS-UNESCO 2027

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: