Daop 5 Resmikan Patung Raden Soetedjo di Stasiun Purwokerto, Ini Sosok Pencipta Lagu Di Tepinya Sungai Serayu

Banyumas Raya
By Hermiana E. Effendi  —  On Oct 21, 2026
Caption Foto : Peresmian patung R. Soetedjo di Stasiun Purwokerto, Rabu (21/10/2026). (Foto ; Hermiana E. Effendi).

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Lagu Di Tepinya Sungai Serayu yang selama ini menjadi penanda kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto kini mendapat penghormatan khusus. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto meresmikan patung maestro musik Banyumas, Raden Soetedjo, di area boarding Stasiun Purwokerto, Rabu (21/10/2026).

Patung tersebut menjadi bentuk apresiasi KAI terhadap sosok komponis yang karyanya telah melekat dalam pengalaman perjalanan penumpang kereta api. Penghargaan ini juga ditujukan kepada keluarga dan ahli waris Raden Soetedjo yang selama ini tidak menarik royalti atas penggunaan lagu Di Tepinya Sungai Serayu sebagai bel kedatangan kereta api di stasiun-stasiun wilayah Daop 5 Purwokerto.

Peresmian patung Raden Soetedjo merupakan bagian dari Program Bantuan Bina Lingkungan 2026. Dalam pelaksanaannya, KAI Daop 5 Purwokerto berkolaborasi dengan Yayasan Lestari Banjoemas Raya (YLBR) untuk menghadirkan ruang apresiasi seni dan budaya yang dapat diakses masyarakat luas.

Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana mengatakan, keberadaan patung tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap kontribusi seniman daerah yang karyanya terus hidup dan dikenal lintas generasi.

“Bagi kami, lagu Di Tepinya Sungai Serayu bukan sekadar penanda kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto. Lagu ini telah menjadi bagian dari identitas dan pengalaman perjalanan masyarakat. Kami sangat menghargai keputusan keluarga dan ahli waris Raden Soetedjo yang tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut,” ujar Rangga.

Baca juga: UIN Saizu Perkuat Tradisi Intelektual Pesantren, Siapkan Mahasiswa Berilmu dan Berkarakter

Menurutnya, patung Raden Soetedjo diharapkan dapat memperkenalkan perjalanan hidup dan karya sang maestro kepada generasi muda, sekaligus menjadi pengingat bagi para penumpang bahwa stasiun tidak hanya berfungsi sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengenal sejarah serta kebudayaan daerah.

“Stasiun merupakan ruang pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kami berharap Patung Raden Soetedjo dapat menjadi tempat untuk mengenal lebih dekat tokoh seni Banyumas dan mengingat bahwa karya budaya memiliki nilai yang melampaui zamannya,” tambahnya.

Patung Raden Soetedjo Dilengkapi Biografi dan Replika Biola

Pembuatan patung ini melibatkan sejumlah pekerja seni dari berbagai bidang. Septian Puji Andriyanto, pematung asal Magelang, turut mengerjakan elemen patung. Sementara itu, Jatmiko Wicaksono, dosen STIKOM Yogyakarta, berperan dalam penataan desain artistik.

Area apresiasi tersebut juga dilengkapi biografi singkat Raden Soetedjo dan replika biola Stradivarius Paganini yang dibuat oleh perajin alat musik Banyumas, Sugeng Riyanto. Kehadiran elemen-elemen tersebut diharapkan membantu pengunjung mengenal sosok Raden Soetedjo, perjalanan kariernya, serta kontribusinya terhadap perkembangan musik Indonesia.

Baca juga: Sekda Agus Nur Hadie Resmi Dimutasi Jadi Staf Ahli, Bupati Banyumas Puji Kinerjanya

Perwakilan keluarga dan ahli waris Raden Soetedjo, Artika Mantaram, menyampaikan rasa haru dan terima kasih atas penghargaan yang diberikan KAI.

“Kami sekeluarga merasa sangat terharu dan berterima kasih atas apresiasi yang diberikan KAI kepada Raden Soetedjo. Bagi keluarga, karya beliau merupakan bagian dari warisan budaya yang patut terus dikenang,” kata Artika.

Ia berharap sudut apresiasi di Stasiun Purwokerto tersebut dapat mendorong masyarakat untuk mengenal lebih jauh sosok leluhurnya sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap musik dan kebudayaan Banyumas.

Selama ini, keputusan keluarga untuk tidak menarik royalti atas penggunaan Di Tepinya Sungai Serayu menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam menjaga kedekatan lagu tersebut dengan masyarakat. Melodi lagu itu telah akrab di telinga penumpang dan menjadi ciri khas yang menyambut kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto.

Melalui kolaborasi dengan YLBR, KAI Daop 5 Purwokerto berharap pelestarian warisan seni daerah dapat melibatkan lebih banyak pihak, mulai dari komunitas sejarah, keluarga seniman, hingga para pekerja seni. Dengan demikian, karya maestro Banyumas tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga terus diperkenalkan kepada generasi mendatang.

Baca juga: Telur Rp19 Ribu per Kilogram, GPM di Purbalingga Diserbu Warga

Raden Soetedjo, Maestro Musik Banyumas yang Menempuh Pendidikan di Roma

Raden Soetedjo lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909. Ayah kandungnya bernama Poerwadibroto. Namun, ia kemudian diasuh oleh pamannya, Raden Soemandar, yang bekerja di Pabrik Gula Klampok, wilayah Distrik Purwareja Banyumas, yang kini masuk Kabupaten Banjarnegara.

Sejak muda, Soetedjo memiliki cita-cita mengabdikan hidupnya untuk musik. Ia bahkan menempuh pendidikan musik di Konservatori Musik Roma, Italia. Pengalaman tersebut turut membentuk kemampuannya sebagai komponis dengan cakrawala musikal yang luas.

Salah satu karyanya yang paling dikenal masyarakat adalah Di Tepinya Sungai Serayu. Selain lagu tersebut, Soetedjo juga menghasilkan sejumlah karya lain, antara lain Tidurlah Intan, Melati Pesanku, Selamat Berjuang, Keroncong Senja, Hamba Menyanyi, dan Juwita Malam.

Kontribusinya dalam dunia musik Indonesia tidak hanya melalui penciptaan lagu. Pada 1946, Soetedjo tercatat menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto. Dua tahun kemudian, pada 1948, ia memelopori berdirinya Orkes Studio Djakarta (OSD), yang terlibat dalam perekaman lagu Indonesia Raya dan menjadi cikal bakal Jakarta Philharmonic Orchestra.

Baca juga: Resmi Jadi Staf Ahli, Ini Deretan Prestasi Agus Nur Hadie Saat Menjabat Sekda Banyumas

Pada 1950, Soetedjo bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Atas pengabdiannya, ia memperoleh pangkat kehormatan Letnan Muda Udara I AURI. Kiprahnya di bidang seni juga mendapat pengakuan melalui penghargaan dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada 1968.

Raden Soetedjo wafat di Jakarta pada 12 April 1960 dalam usia 50 tahun dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Namanya tetap dikenang di daerah asalnya melalui Taman Budaya Soetedja yang diabadikan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas.

Peresmian patung Raden Soetedjo di Stasiun Purwokerto menjadi salah satu upaya untuk menjaga ingatan publik terhadap perjalanan hidup dan karya sang maestro. Melalui penghormatan tersebut, musik yang telah menemani perjalanan masyarakat diharapkan terus menjadi penghubung antara warisan budaya Banyumas, sejarah musik Indonesia, dan generasi masa kini. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: