Kebumen Rawan Kebakaran, 24 Kebakaran Rumah Hingga Karhutla di Puncak Kemarau

Banyumas Raya
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Sep 10, 2026
Caption Foto : Salah satu peristiwa kebakaran di Kabupaten Kebumen.(Foto :Dok. Polres Kebumen).

ORBIT-NEWS.COM, KEBUMEN – Kabupaten Kebumen sedang berada dalam fase rawan kebakaran. Puncak musim kemarau yang membuat vegetasi mengering telah memicu berulangnya kebakaran di sejumlah wilayah, mulai dari lahan dan kawasan hutan hingga rumah warga.

Berdasarkan rekap Pusdalops BPBD Kabupaten Kebumen, hingga 20 Agustus 2026 sudah tercatat 15 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di tujuh kecamatan dan 14 desa. Kecamatan Kebumen menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni lima kasus, disusul Sempor tiga kasus, Pejagoan dan Buayan masing-masing dua kasus, serta Alian, Sadang dan Ayah masing-masing satu kasus. Seluruh kejadian tersebut berhasil ditangani dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Namun, ancaman kebakaran ternyata terus berlanjut. Hingga hari ini, Kamis (10/9/2026), sedikitnya tujuh kejadian kembali teridentifikasi dari laporan lapangan dan pemberitaan.

Tanggal LokasiJenis KebakaranDampak
28 Agust Grenggeng, Karanganyar Lahan                    ±1,3 hektare
31 Agust  Soka, Poncowarno RumahRumah terbakar
4 Sept Kedungwaru, Karangsambung Lahan±3 hektare
5 Sept Karanggayam Hutan Perhutani±1,5 hektare
7 Sept Kelurahan Kebumen Sampah keringBerhasil dipadamkan
8 Sept Ayah Hutan Perhutani±2 hektare
9 Sept Karanggayam Lahan±0,4 hektare

Sumber: Polres Kebumen.

Sehingga total ada 24 peristiwa kebakaran yang terjadi di Kabupaten Kebumen sejak awal Agustus 2026 hingga hari ini.

Baca juga: Bersih dan Higienis, Begini Cara SPPG Kanding Banyumas Menjaga Kualitas Makanan MBG

Api Tidak Hanya Mengancam Hutan

Kebakaran terbaru menunjukkan bahwa ancaman api tidak hanya terjadi di kawasan hutan. Pada 28 Agustus, lahan pekarangan sekitar 1,3 hektare di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, terbakar. Polisi menduga api dipicu kelalaian saat membakar sampah.

Sementara pada 31 Agustus, rumah warga di Desa Soka, Kecamatan Poncowarno, terbakar. Kebakaran diduga dipicu korsleting akibat instalasi listrik yang tidak sesuai standar.

Memasuki September, kebakaran lahan semakin terlihat. Lahan sekitar tiga hektare di Desa Kedungwaru, Kecamatan Karangsambung, terbakar pada 4 September. Sehari kemudian, sekitar 1,5 hektare lahan Perhutani di Karanggayam juga dilalap api. Angin kencang membuat api lebih cepat merambat.

Pada 7 September, tumpukan daun kering di tempat pembuangan sampah liar dekat Makam Singapatra, Kecamatan Kebumen, kembali terbakar. Kemudian pada 8 September, kebakaran melanda hutan tanaman jati Perhutani di Petak 43, Desa/Kecamatan Ayah, dengan luas sekitar dua hektare dan lokasi sekitar 100 meter dari permukiman.

Baca juga: Pemkab Kebumen Pangkas Anggaran Hibah dan Bansos Rp26,96 Miliar

Terbaru, pada 9 September, kebakaran kembali terjadi di Dukuh Situ, Desa Karanggayam. Lahan sekitar 0,4 hektare terbakar dan api sempat membesar akibat kondisi kering serta hembusan angin.  Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan satu pola yang sama, Kebumen sedang berada dalam periode sangat rawan kebakaran.

BPBD sebelumnya telah mengingatkan bahwa puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Pada saat yang sama, dampak kekeringan juga semakin meluas. Hingga 20 Agustus, BPBD telah menyalurkan 356.000 liter air bersih ke 21 desa yang terdampak kekeringan.

Kondisi lahan yang kering membuat rumput, ilalang, daun dan ranting mudah terbakar. Dalam beberapa kasus, aktivitas manusia seperti pembakaran sampah diduga menjadi pemicu. Di kawasan permukiman, korsleting listrik juga menjadi salah satu risiko. Artinya, ancaman kebakaran di Kebumen bukan lagi sekadar persoalan karhutla. Rumah warga, lahan pekarangan, tempat pembuangan sampah hingga kawasan hutan sama-sama menghadapi risiko.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan masyarakat menjadi sangat penting. Membakar sampah atau lahan secara sembarangan dapat menjadi awal kebakaran, sementara instalasi listrik yang tidak standar juga berpotensi memicu api di permukiman. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

■ ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: