Banner Utama

Denting Warisan 170 Tahun dari Wonosobo: Pandai Besi Dusun Dalangan Bertahan di Tengah Modernisasi dan Sepinya Regenerasi

Banyumas Raya
By Vivin  —  On May 21, 2026
Caption Foto : Pandai besi di Dusun Dalangan, Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo masih bertahan di tengah keterbatasan. (Foto : Dok.Pemkab Wonosobo).

ORBIT-NEWS.COM, WONOSOBO — Dentingan palu yang menghantam besi panas masih terdengar nyaring dari bengkel-bengkel sederhana di Dusun Dalangan, Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Di antara kepulan asap dari tungku berbahan arang, para pengrajin tetap tekun menempa sabit, cangkul, dan berbagai alat pertanian, menjaga tradisi pandai besi yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Meski era modern terus berkembang dan minat generasi muda mulai bergeser, sentra pandai besi di Dusun Dalangan masih bertahan. Tradisi yang sudah hidup sejak sekitar tahun 1850-an itu kini tetap dijaga melalui sekitar 125 industri rumahan yang tersebar di wilayah tersebut.

Kepala Desa Purwojati, Nuruddin Ma’ruf, mengatakan kerajinan pandai besi bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas yang melekat pada masyarakat Dusun Dalangan sejak desa berdiri.

“Sejak awal berdirinya desa, warga Dusun Dalangan sudah menekuni kerajinan pandai besi. Sampai sekarang tradisi itu masih terus diwariskan secara turun-temurun,” tuturnya.

Dari total sekitar 4.500 penduduk atau 1.412 kepala keluarga di Desa Purwojati, sekitar 30 persen warga menggantungkan penghasilan dari sektor kerajinan besi. 

Baca juga: Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran Setengah Kilogram Ganja, Pengedar Asal Wangon Dibekuk

Aktivitas para pengrajin biasanya dimulai sejak pukul 06.00 WIB hingga menjelang siang. Proses pembakaran masih mengandalkan arang karena dinilai mampu menghasilkan panas stabil untuk melebur besi dan baja.

Menurut Nuruddin, penggunaan bahan bakar alternatif seperti batu bara pernah dicoba. Namun hasil pembakaran dinilai belum mampu menyamai kualitas panas dari arang. Karena itu, para pengrajin berharap adanya dukungan teknologi baru, seperti sistem pembakaran berbasis gas atau listrik yang tetap hemat biaya operasional.

“Kalau ada teknologi yang lebih efisien tetapi hasilnya tetap bagus, tentu akan sangat membantu pengrajin,” katanya.

Teknik Tempa Jadi Rahasia Ketajaman Produk Dalangan

Keunggulan alat pertanian buatan pengrajin Dusun Dalangan terletak pada teknik pengolahan material. Mereka memadukan besi dan baja agar menghasilkan produk yang lebih kuat, tajam, serta tahan lama. Proses penyatuan dua karakter logam tersebut menjadi ciri khas yang membedakan hasil tempa Dalangan dengan produk sejenis dari daerah lain.

Baca juga: Rumah di Kemranjen Banyumas Ludes Dibakar, Pelaku Diduga Anak Kandung yang Alami Gangguan Jiwa

“Besi memiliki sifat lebih lunak, sementara baja lebih keras. Keduanya dipadukan agar menghasilkan alat yang tajam dan awet dipakai,” jelas Nuruddin.

Produk yang dihasilkan antara lain sabit, parang, cangkul, pisau pertanian, hingga peralatan kerja untuk sektor perkebunan. Di balik eksistensi yang masih bertahan, para pengrajin menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Ketua Kelompok Pengrajin Pandai Besi Dusun Dalangan, Damianto, menyebut kenaikan harga arang menjadi persoalan utama yang terus membebani biaya produksi. Di sisi lain, menaikkan harga jual juga bukan pilihan mudah karena pasar belum tentu menerima.

“Kalau harga produk ikut naik terus, pembeli juga bisa berkurang. Jadi kami berusaha bertahan sebisa mungkin,” ungkapnya.

Persoalan lain yang mulai terasa adalah menurunnya minat generasi muda untuk meneruskan profesi sebagai pandai besi. Banyak anak muda memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Baca juga: Polresta Banyumas Persempit Ruang Balap Liar, Pelanggar Ditindak Tegas

“Sekarang semakin sedikit anak muda yang tertarik. Padahal ini warisan leluhur sekaligus sumber ekonomi masyarakat,” kata Damianto. 

Meski mempertahankan metode tradisional, para pengrajin mulai mengikuti perkembangan zaman. Jika dulu proses pembakaran memakai pompa manual dan seluruh penempaan dilakukan dengan tenaga manusia, kini sebagian pelaku usaha sudah menggunakan blower serta mesin tempa sederhana. Perubahan juga terjadi dalam strategi pemasaran. Produk pandai besi yang sebelumnya hanya dipasarkan melalui pasar tradisional dan pengepul kini mulai dipromosikan lewat media sosial. Beberapa pengrajin bahkan memanfaatkan siaran langsung di TikTok untuk menawarkan produk kepada calon pembeli.

Langkah digital tersebut membantu memperluas pasar hingga luar Jawa dan berbagai daerah di Indonesia. Bagi warga Dusun Dalangan, suara palu yang beradu dengan besi bukan sekadar rutinitas kerja. Dentingan itu menjadi penanda bahwa warisan budaya berusia hampir dua abad masih hidup, menjaga ekonomi keluarga sekaligus mempertahankan identitas kampung pandai besi yang terus menyala di lereng Wonosobo. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: