ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Ancaman El Nino yang diprediksi berlangsung cukup panjang menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Banyumas. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air untuk sektor pertanian, terutama di wilayah yang masih mengandalkan air hujan.
Untuk mengantisipasi dampak El Nino sekaligus menjaga stok pangan daerah, Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Banyumas menyiapkan sejumlah strategi. Mulai dari memperluas pemanfaatan irigasi perpompaan (Irpom), mempercepat masa tanam melalui Gerakan 10 Hari Tanam (G10T), hingga mengoptimalkan alat dan mesin pertanian (Alsintan).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Dinpertan Banyumas dalam mempertahankan produktivitas pertanian sekaligus mendukung swasembada pangan di tengah tantangan perubahan kondisi cuaca.
Kepala Dinpertan Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Buwono mengatakan, Banyumas mendapatkan bantuan pembuatan irigasi perpompaan dari pemerintah pusat. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu petani, khususnya dalam menghadapi potensi keterbatasan sumber air.
Selain bantuan Irpom, Dinpertan Banyumas juga terus menggalakkan program inisiasi daerah berupa Gerakan 10 Hari Tanam atau G10T. Program tersebut menjadi salah satu strategi untuk mempercepat masa tanam sehingga tanaman dapat memanfaatkan ketersediaan air secara lebih optimal.
Baca juga: Pelemparan Kereta Api di Daop 5, KAI Soroti Aksi Berbahaya yang Masih Terjadi
“Kita sudah siapkan berbagai antisipasi, selain bantuan irpom yang tersebar pada 17 kecamatan, kita juga menggalakan G 10 T pada 10 kecamatan di tahun ini. Dengan adanya percepatan tanam, harapannya ketersediaan air masih mencukupi, ditambah dengan upaya irpom,” terang Arif kepada Orbit-News.com, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, percepatan tanam menjadi penting ketika ancaman El Nino berpotensi berlangsung dalam waktu cukup panjang. Dengan mengatur ritme tanam secara lebih cepat, petani diharapkan dapat memanfaatkan periode ketersediaan air sebaik mungkin.
Di sisi lain, dukungan terhadap petani juga datang melalui berbagai alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang diberikan Kementerian Pertanian melalui berbagai pihak. Keberadaan Alsintan turut membantu mempercepat proses tanam sekaligus mendukung petani saat memasuki masa panen.
Dengan dukungan teknologi pertanian tersebut, proses budidaya diharapkan dapat berlangsung lebih efektif dan efisien. Ritme kerja petani yang semakin cepat juga diharapkan mampu meminimalkan dampak El Nino terhadap produktivitas pertanian Banyumas.
“Untuk bantuan irpom ini, sebagian sudah bisa difungsikan dan sebagian lagi masih dalam proses pengerjaan, namun pada bulan Oktober nanti, semuanya sudah selesai dan bisa digunakan oleh para petani,” kata Arif.
Baca juga: Meresahkan Warga, Polisi Evakuasi ODGJ di Buayan ke Rumah Sakit
Dinpertan Banyumas Targetkan 7.000 Hektare Sawah Tadah Hujan Terentaskan
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dinpertan Banyumas, Hery Jatmiko menjelaskan, salah satu dampak El Nino yang paling dirasakan sektor pertanian adalah berkurangnya bahkan hilangnya ketersediaan air di permukaan. Kondisi tersebut membuat Dinpertan Banyumas perlu mencari alternatif sumber air agar lahan pertanian tetap dapat memperoleh pasokan air. Salah satu solusinya adalah memanfaatkan sumber air dari sumur dalam melalui sistem irigasi perpompaan.
Bantuan irigasi perpompaan dari Kementerian Pertanian tahun ini mencapai 136 titik yang dialokasikan dan tersebar di 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas. Melalui penambahan jaringan irigasi perpompaan tersebut, Dinpertan Banyumas juga menargetkan dapat mengentaskan sekitar 7.000 hektare sawah tadah hujan. Dengan demikian, lahan yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan diharapkan memiliki akses sumber air yang lebih terjamin.
“Harapannya, irpom ini bisa menyuplai air sepanjang tahun, karena kedalaman sumur yang disyaratkan Kementan mencapai 70 meter,” kata Hery.
Baca juga: Polresta Banyumas Bongkar Penggelapan Uang ATM BRI, Dua Karyawan Jadi Tersangka
Menurut Hery, seluruh wilayah di Banyumas pada dasarnya sudah memiliki irigasi perpompaan. Namun, bantuan Irpom yang kembali diberikan tahun ini akan memperluas jangkauan layanan irigasi sehingga semakin banyak area persawahan yang dapat memperoleh pasokan air.
Secara teknis, sistem irigasi perpompaan memanfaatkan sumur dalam yang dilengkapi pompa. Dengan menggunakan tenaga listrik, air dari dalam tanah kemudian dipompa dan disalurkan menuju area persawahan. Penyaluran air tersebut dapat dilakukan menggunakan jaringan pipa maupun melalui saluran irigasi tersier terdekat. Dengan semakin banyaknya titik Irpom, luasan sawah yang dapat dijangkau dan mendapatkan pasokan air juga semakin besar.
“Teknisnya di dalam sumur dalam diberi pompa, kemudian menggunakan tenaga listrik air tersebut diambil dan disalurkan ke area sawah dengan menggunakan pipa-pipa atau bisa juga melalui irigasi tersier terdekat. Dengan bertambahnya irpom, maka luasan area sawah yang dijangkau semakin banyak,” jelas Hery.
Perkuat Swasembada Pangan Lokal Banyumas
Baca juga: Kasus Dugaan Penipuan Pensiunan di Purwokerto Disidangkan, Dika Didakwa Penipuan dan Penggelapan
Berbagai langkah yang dilakukan Dinpertan Banyumas tersebut tidak hanya menjadi respons terhadap ancaman El Nino, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Percepatan tanam melalui G10T, perluasan irigasi perpompaan, optimalisasi Alsintan, serta upaya meningkatkan akses air bagi sawah tadah hujan menjadi satu rangkaian kebijakan yang diarahkan untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian Banyumas.
Langkah tersebut juga sejalan dengan program Trilas Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, khususnya poin ke-9, yakni mewujudkan swasembada pangan lokal menuju kesejahteraan petani.
Dengan dukungan infrastruktur pertanian dan percepatan tanam yang semakin diperkuat, petani Banyumas diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi ancaman El Nino, tetapi juga memiliki sistem pertanian yang semakin tangguh dalam menghadapi perubahan iklim.
Kepala Dinpertan menegaskan, bahwa berbagai program tersebut akan terus didorong untuk memastikan sektor pertanian tetap produktif dan kebutuhan pangan masyarakat dapat terjaga.
Baca juga: Rp. 19,07 Triliun Mengarah ke Jateng, CJIBF 2026 Buka Jalan Investasi Baru
“Kita akan terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga produksi pertanian, baik melalui percepatan tanam, G 10 T, pemanfaatan irpom maupun optimalisasi Alsintan. Harapannya, petani tetap bisa berproduksi dan swasembada pangan lokal di Banyumas dapat terus kita pertahankan,” kata Arif. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.