ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Puasa merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam yang tidak hanya menuntut umat Muslim menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga sikap, lisan, dan perilaku. Ibadah ini mengajarkan pengendalian diri sekaligus meningkatkan ketakwaan. Agar puasa yang dijalankan sah dan bernilai sempurna, penting untuk memahami apa saja yang dapat membatalkannya serta adab-adab yang dianjurkan selama menjalankannya.
Dalam kajian fikih, terdapat beberapa perkara yang dapat membatalkan puasa, yaitu makan dan minum dengan sengaja. Seseorang yang secara sadar mengonsumsi makanan atau minuman di siang hari saat berpuasa, maka puasanya batal. Namun, jika hal tersebut terjadi karena lupa, puasanya tetap sah dan tidak ada kewajiban mengganti (qada) maupun membayar kafarah.
Kemudian, muntah dengan sengaja. Jika seseorang dengan sengaja memuntahkan isi perutnya, puasanya menjadi batal. Sebaliknya, apabila muntah terjadi tanpa disengaja, maka puasanya tetap sah dan tidak ada kewajiban qada ataupun kafarah.
Selanjutnya, haid dan nifas. Apabila seorang perempuan mengalami haid atau nifas, meskipun terjadi menjelang waktu berbuka, puasanya batal. Para ulama telah bersepakat dalam hal ini dan puasa tersebut wajib diganti setelah suci.
Dan terakhir, hubungan suami istri pada siang hari Ramadan. Ini termasuk pelanggaran berat dalam ibadah puasa. Selain wajib mengganti puasa, pelakunya juga dikenai kafarah secara berurutan, yakni memerdekakan budak jika mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut jika tidak mampu, dan jika masih tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.
Baca juga: 400 Siswa Unggulan Lolos Seleksi SMA Kemala Taruna Bhayangkara 2026
Adab yang Menyempurnakan Puasa
Selain menjauhi hal-hal yang membatalkan, Islam juga mengajarkan sejumlah adab agar puasa semakin bernilai dan bermakna.
Baca juga: Unsoed Gandeng PT Sang Hyang Seri, Perkuat Riset Benih Unggul untuk Ketahanan Pangan
Dengan memahami aturan dan adabnya, puasa tidak hanya menjadi kewajiban tahunan, tetapi juga sarana pembentukan karakter, penguatan spiritual, dan latihan pengendalian diri. Di situlah letak esensi puasa: bukan sekadar menahan lapar, melainkan menumbuhkan ketakwaan dan kepekaan sosial.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.