Caption Foto : Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar program LENTERA BKL di Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. (Foto : Dok.MKM Kelompok 10).
ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Memasuki usia lanjut bukan berarti seseorang harus berhenti beraktivitas. Dengan pola hidup sehat, asupan gizi yang tepat, serta dukungan keluarga dan lingkungan, lansia tetap dapat menjalani hidup secara aktif, mandiri, dan produktif.
Kesadaran inilah yang menjadi dasar pelaksanaan program LENTERA BKL (Lansia Energik, Sehat, Berdaya Bersama Bina Keluarga Lansia) yang digagas oleh mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Kegiatan berlangsung di Bina Keluarga Lansia (BKL) Seroja, Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, pada Kamis (12/6/2026).
Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang tergabung dalam kelompok 10, Raditya Pradipta mengatakan, kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai sarana edukasi kesehatan, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran bersama bahwa lansia memiliki hak untuk tetap sehat, aktif, dan berdaya di tengah masyarakat.
"Kami ingin mengubah cara pandang bahwa menjadi lansia bukan berarti harus pasif. Dengan pengetahuan yang tepat, dukungan keluarga, dan lingkungan yang peduli, lansia dapat tetap mandiri serta menikmati kualitas hidup yang baik," jelasnya.
Program yang merupakan bagian dari implementasi Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan sarkopenia, yaitu kondisi menurunnya massa dan kekuatan otot yang sering dialami oleh lansia.
Sebanyak 32 lansia dan keluarga lansia, lima kader, serta seorang penyuluh keluarga berencana (KB) mengikuti kegiatan yang menggabungkan edukasi kesehatan, praktik aktivitas fisik, dan penguatan peran keluarga dalam menjaga kualitas hidup lansia.
Caption : Caption Foto : Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan edukasi terhadap orang usia lanjut di Purwokerto Selatan. (Foto : Dok. Kelompok 10).
Banyak masyarakat menganggap berkurangnya kekuatan otot saat usia lanjut sebagai hal yang normal. Padahal, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sarkopenia yang berdampak pada menurunnya kemampuan lansia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sarkopenia dapat menyebabkan lansia lebih mudah lelah, mengalami gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, hingga meningkatkan risiko jatuh yang berujung pada cedera serius. Kondisi ini juga berpotensi membuat lansia semakin bergantung pada bantuan orang lain.
Mahasiswa lainnya, Bayu Aji Wicaksono menjelaskan, rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai sarkopenia menjadi salah satu alasan kegiatan edukasi ini penting dilakukan secara berkelanjutan.
"Banyak keluarga belum memahami bahwa penurunan massa otot dapat dicegah. Padahal, langkah sederhana seperti rutin bergerak, berolahraga ringan, dan memenuhi kebutuhan protein harian dapat membantu lansia tetap kuat dan mandiri," kata Bayu.
Melalui program LENTERA BKL, para mahasiswa berupaya memberikan pemahaman bahwa sarkopenia bukan sekadar bagian dari proses penuaan, tetapi kondisi yang dapat dicegah dan diperlambat melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Caption : Caption : Caption Foto : Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melakukan edukasi terhadap orang usia lanjut di Purwokerto Selatan. (Foto : Dok. Kelompok 10).
Edukasi Gizi dan Aktivitas Fisik untuk Menjaga Kekuatan Otot
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan sarkopenia, faktor risiko, pentingnya aktivitas fisik, serta pola makan bergizi seimbang untuk menjaga kesehatan otot. Salah satu fokus utama edukasi adalah pemenuhan kebutuhan protein bagi lansia. Peserta diajak mengenali berbagai sumber protein lokal yang mudah diperoleh dan terjangkau, seperti telur, ikan, ayam, tempe, tahu, dan aneka kacang-kacangan.
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti praktik aktivitas fisik sederhana yang aman dilakukan di rumah, mulai dari latihan peregangan, keseimbangan, hingga latihan kekuatan otot ringan. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari para lansia karena gerakannya mudah dipraktikkan sesuai kondisi fisik masing-masing.
Anggota Kelompok 10, Qorin Annisa,memaparkan kombinasi antara asupan gizi yang baik dan aktivitas fisik teratur menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan lansia agar tetap produktif di usia senja.
"Kami ingin para lansia memahami bahwa menjaga kesehatan otot tidak harus dengan cara yang rumit. Konsumsi makanan bergizi dan aktivitas fisik sederhana yang dilakukan secara rutin sudah memberikan manfaat besar untuk mempertahankan fungsi tubuh," tuturnya.
Keberhasilan menjaga kesehatan lansia tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Karena itu, program LENTERA BKL juga memberikan penguatan kapasitas kepada kader sebagai ujung tombak pemberdayaan masyarakat. Para kader memperoleh pelatihan mengenai edukasi pencegahan sarkopenia, pendampingan lansia, serta skrining sederhana menggunakan instrumen SARC-F untuk mendeteksi risiko sarkopenia secara dini. Dengan peningkatan kapasitas tersebut, kader diharapkan mampu melanjutkan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan Posyandu Lansia maupun Bina Keluarga Lansia secara berkelanjutan.
Di sisi lain, keluarga juga didorong menjadi sahabat sekaligus pendamping utama bagi lansia. Dukungan keluarga dalam menyediakan makanan bergizi, mengajak lansia tetap aktif bergerak, serta mendampingi mengikuti kegiatan kesehatan terbukti memiliki peran besar dalam menjaga kualitas hidup lansia.
Program LENTERA BKL diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat upaya pencegahan sarkopenia berbasis masyarakat di Kabupaten Banyumas. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kader kesehatan, keluarga, dan masyarakat, lansia dapat memperoleh dukungan yang lebih optimal untuk menjalani masa tua yang sehat dan bermakna.
Menutup kegiatan tersebut, Qorin Annisa menegaskan, keberhasilan menjaga kesehatan lansia membutuhkan komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat.
"Harapan kami, edukasi yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan ini saja. Semakin banyak keluarga yang peduli, semakin aktif kader melakukan pendampingan, dan semakin sadar lansia menjaga kesehatannya, maka semakin besar peluang kita mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, bahagia, dan tetap berdaya di tengah masyarakat," pungkasnya.
Program LENTERA BKL menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari langkah sederhana namun berdampak besar bagi kualitas hidup lansia. Melalui edukasi, penguatan kader, keterlibatan keluarga, serta pemanfaatan sumber daya lokal, upaya pencegahan sarkopenia dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Melalui semangat kolaborasi dan pemberdayaan yang diusung dalam program LENTERA BKL, para mahasiswa MKM Unsoed berharap kesadaran tentang pentingnya pencegahan sarkopenia dapat terus tumbuh di masyarakat. Sebab pada akhirnya, masa tua yang sehat bukan hanya impian, melainkan investasi bersama yang dimulai dari langkah-langkah sederhana hari ini untuk menciptakan generasi lansia yang aktif, produktif, dan berkualitas di masa depan. (*)