ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Tato kini menjadi bagian dari gaya hidup bagi sebagian orang. Motif dan desain yang beragam membuat tato dipilih untuk mempercantik tubuh, menunjukkan identitas, hingga mengabadikan momen tertentu.
Namun, di balik tampilannya yang menarik, tato permanen bukan tanpa risiko. Proses pembuatan tato dilakukan dengan memasukkan tinta ke lapisan kulit menggunakan jarum. Jika prosedurnya tidak dilakukan secara aman dan higienis, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari alergi dan infeksi hingga penularan penyakit.
Karena itu, memahami bahaya tato permanen penting dilakukan sebelum memutuskan untuk membuat tato. Saat membuat tato, kulit akan mengalami luka akibat tusukan jarum yang berulang. Pada saat bersamaan, pigmen atau tinta dimasukkan ke dalam lapisan kulit.
Prosedur tersebut membutuhkan peralatan yang benar-benar steril. Penggunaan jarum yang tidak higienis, tinta yang terkontaminasi, maupun tempat pembuatan tato yang tidak memenuhi standar kebersihan dapat menjadi pintu masuk bakteri dan virus ke dalam tubuh.
Risiko tersebut dapat diminimalkan jika tato dibuat di tempat yang memiliki standar kebersihan baik dan ditangani oleh tenaga profesional yang memahami prosedur keamanan.
Baca juga: Jangan Hanya Jalan Kaki, Latihan Otot Penting Saat Memasuki Usia Tua
7 Bahaya Tato Permanen yang Perlu Diketahui
Berikut sejumlah risiko kesehatan yang perlu diperhatikan sebelum membuat tato permanen:
1. Reaksi Alergi pada Kulit
Salah satu efek samping tato yang dapat muncul adalah reaksi alergi terhadap tinta. Kondisi ini bisa ditandai dengan rasa gatal, kemerahan, ruam, atau iritasi di area tato.
Kandungan tertentu dalam tinta, termasuk beberapa jenis logam, dapat memicu reaksi pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap bahan tersebut. Reaksi alergi juga tidak selalu muncul segera setelah tato dibuat dan dalam beberapa kasus dapat terjadi setelah beberapa waktu.
Baca juga: Kebiasaan Gigit Kuku, Sepele tapi Bisa Berdampak pada Kesehatan
2. Infeksi Kulit
Infeksi menjadi salah satu risiko yang harus paling diperhatikan. Proses penusukan jarum membuat lapisan kulit mengalami luka sehingga bakteri maupun virus lebih mudah masuk.
Infeksi dapat terjadi apabila jarum, peralatan, atau tinta yang digunakan tidak steril. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan kulit yang semakin merah, bengkak, terasa panas atau terbakar, serta munculnya nanah di sekitar tato.
Jika infeksi semakin parah, seseorang dapat mengalami demam, menggigil, dan tubuh terasa tidak nyaman. Kondisi seperti ini sebaiknya segera diperiksakan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.
3. Keloid dan Jaringan Parut
Baca juga: Kalori Nasi Goreng Berapa? Ini Perkiraan Tiap Varian dan Tips Membuatnya Lebih Sehat
Tidak semua kulit merespons proses pembuatan tato dengan cara yang sama. Pada sebagian orang, luka akibat jarum dapat memicu terbentuknya jaringan parut.
Salah satunya adalah keloid, yakni jaringan parut yang tumbuh menonjol dan dapat melebar melebihi area luka. Selain mengganggu penampilan, jaringan parut juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
4. Risiko Gangguan Kulit Serius
Penggunaan tinta tato juga masih menjadi perhatian dalam penelitian kesehatan. Beberapa bahan yang terdapat dalam tinta dapat mengandung senyawa tertentu yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Kaitan antara tato dan kanker kulit masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Karena itu, pemilihan tinta yang aman serta prosedur tato yang memenuhi standar menjadi hal yang penting.
Baca juga: 3 Juta Warga Terpapar Kabut Asap Karhutla
5. Hepatitis B dan Hepatitis C
Risiko tato tidak hanya berkaitan dengan kondisi kulit. Penyakit yang ditularkan melalui darah juga perlu diwaspadai.
Penggunaan jarum yang telah terkontaminasi darah orang lain dapat menjadi media penularan hepatitis B maupun hepatitis C. Risiko ini terutama perlu diperhatikan jika prosedur tato dilakukan tanpa memperhatikan standar sterilisasi peralatan.
6. Risiko Penularan HIV
Penularan HIV melalui prosedur tato memang jarang terjadi, tetapi risiko tersebut tetap perlu diperhitungkan apabila peralatan yang digunakan tidak steril atau jarum dipakai secara bergantian.
Baca juga: Manfaat Nanas untuk Kolesterol, Bantu Jaga Jantung dan Pembuluh Darah
Untuk mengurangi risiko, pastikan jarum yang digunakan merupakan jarum baru dan steril. Peralatan lain yang bersentuhan langsung dengan darah atau kulit juga harus ditangani sesuai prosedur kebersihan.
7. Tetanus
Tato juga dapat meningkatkan risiko tetanus apabila luka pada kulit terpapar bakteri penyebab penyakit tersebut melalui peralatan yang terkontaminasi.
Bakteri Clostridium tetani dapat masuk melalui luka. Karena itu, kebersihan peralatan dan status vaksinasi tetanus menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Ada hal lain yang perlu diketahui pemilik tato. Dalam kondisi tertentu, tato permanen dapat menimbulkan sensasi panas, terbakar, atau pembengkakan pada area kulit bertato ketika seseorang menjalani pemeriksaan MRI.
Baca juga: Polres Kebumen Luncurkan Program Peduli Kaki Pengkor, Bhabinkamtibmas Dimina Turun ke Desa
Selain itu, pigmen tertentu juga berpotensi mengganggu kualitas gambar hasil pemeriksaan. Karena itu, pasien yang memiliki tato sebaiknya memberi tahu petugas medis sebelum menjalani MRI.
Jika tetap ingin memiliki tato permanen, jangan hanya mempertimbangkan desain dan harga. Pastikan tempat tato menerapkan standar kebersihan yang baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain memastikan jarum yang digunakan baru dan steril, peralatan dibersihkan dengan benar, tinta disimpan secara higienis, serta seniman tato memahami prosedur keamanan.
Orang dengan riwayat alergi terhadap bahan tertentu juga sebaiknya mempertimbangkan risiko reaksi terhadap tinta. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau masih ragu mengenai keamanan tato, berkonsultasi dengan dokter dapat menjadi langkah yang lebih aman.
Tato memang dapat menjadi bagian dari ekspresi diri, tetapi keindahan desain sebaiknya tidak mengesampingkan kesehatan. Dengan memahami risiko dan memilih prosedur yang aman, keputusan membuat tato dapat dilakukan dengan pertimbangan yang lebih matang. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.