ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terus memperkuat komitmennya dalam pelestarian ekosistem laut melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Bersama WWF Indonesia, Unsoed menggelar Workshop dan Pelatihan Identifikasi Endangered Species bertema "Mengenal dan Melindungi Keanekaragaman Hayati Laut melalui Identifikasi Spesies Kunci" di Ruang Rapat LPPM Unsoed, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Pusat Biodiversitas dan Maritim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed ini diikuti mahasiswa serta dosen dari Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Diponegoro (Undip). Workshop tersebut menjadi wadah penguatan pengetahuan sekaligus keterampilan teknis dalam mengidentifikasi spesies laut yang terancam punah.
Sebagai narasumber utama, Marine ETP Specialist for Sea Turtle WWF Indonesia, Ratih R. Ayustina, memaparkan pentingnya konservasi kelompok Marine Endangered, Threatened, and Protected (ETP) Species. Kelompok ini mencakup hiu paus, pari, penyu, mamalia laut, hingga ikan karang yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Ratih menjelaskan, berbagai spesies laut tersebut kini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat aktivitas manusia. Ancaman yang dihadapi meliputi tangkapan sampingan (bycatch), eksploitasi langsung, perdagangan ilegal satwa, kejadian terdampar, aktivitas wisata yang tidak ramah lingkungan, penangkapan ikan berlebih, kerusakan habitat, pencemaran laut, hingga dampak perubahan iklim.
"Berbagai ancaman tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas identifikasi dan monitoring sebagai dasar pengambilan keputusan konservasi yang berbasis data," jelas Ratih.
Baca juga: Bukan Sekedar Kenyang, Ini Makanan yang Bisa Mendukung Kecerdasan Anak
Perkuat Literasi
Sementara itu, Kepala Pusat Biodiversitas dan Maritim LPPM Unsoed, Dr. rer. nat. Riyanti mengatakan, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi sekaligus kemampuan teknis sivitas akademika dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati laut.
Menurutnya, peserta tidak hanya dibekali pemahaman mengenai karakteristik spesies laut yang dilindungi, tetapi juga dilatih mengolah serta menginterpretasikan data visual untuk mendukung kegiatan pemantauan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
"Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami karakteristik spesies kunci, tetapi juga mampu mengolah dan menginterpretasikan data visual untuk mendukung kegiatan pemantauan keanekaragaman hayati laut," ujarnya.
Dalam workshop tersebut, peserta memperoleh pelatihan identifikasi spesies menggunakan metode Photo Identification (Photo ID) dan Baited Remote Underwater Video (BRUV). Kedua metode ini dikenal sebagai teknik pemantauan biota laut yang efektif, minim gangguan terhadap habitat, serta mampu menghasilkan data penting untuk kegiatan monitoring jangka panjang.
Baca juga: Pelemparan Kereta Api di Daop 5, KAI Soroti Aksi Berbahaya yang Masih Terjadi
Selain sesi materi, peserta juga mengikuti diskusi interaktif, tanya jawab, hingga praktik langsung mengidentifikasi hiu, pari, penyu, dan ikan karang berdasarkan dokumentasi visual. Mereka juga mempelajari status konservasi berbagai spesies serta dampak aktivitas manusia terhadap kelestarian ekosistem laut.
Melalui kolaborasi ini, LPPM Unsoed bersama WWF Indonesia berharap semakin banyak akademisi muda yang terlibat aktif dalam pemantauan dan perlindungan spesies laut yang terancam punah. Sinergi antara perguruan tinggi, lembaga konservasi, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut Indonesia. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.