Kemenkes Gaet Investasi Takeda Bangun Pabrik Plasma Darah

Perkuat Hilirisasi Industri Kesehatan Nasional
Kesehatan Nasional
By Ariyani  —  On Jul 18, 2026
Caption Foto : Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Foto : Dok. Kemenkes).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mempercepat transformasi sektor kesehatan melalui penguatan industri farmasi dalam negeri. Salah satu langkah strategis yang kini diwujudkan adalah menggaet investasi dari perusahaan biofarmasi global asal Jepang, Takeda, untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah di Indonesia.

Investasi berskala besar yang masuk sepanjang 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi industri kesehatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor obat-obatan berbasis plasma darah. Kehadiran fasilitas produksi baru itu juga diharapkan mampu menjamin ketersediaan obat esensial bagi masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pembangunan industri plasma darah merupakan implementasi nyata Pilar Ketiga Transformasi Kesehatan, yakni Ketahanan Kesehatan. Menurutnya, pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk membangun kemampuan produksi obat dan alat kesehatan secara mandiri.

"Pada masa pandemi, masyarakat mengalami kesulitan memperoleh obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP) seperti Albumin, IVIG, Faktor VIII, dan Faktor IX. Selain langka, harganya juga sangat mahal," kata Budi Gunadi Sadikin dalam rilis resmi Kemenkes.

Plasma Derived Products (PDP) merupakan kelompok obat yang dihasilkan melalui proses fraksionasi plasma darah manusia. Produk ini banyak digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu pasien yang mengalami gangguan pembekuan darah sehingga menjadi salah satu komponen penting dalam layanan kesehatan.

Baca juga: Jangan Hanya Jalan Kaki, Latihan Otot Penting Saat Memasuki Usia Tua

Indonesia Berpeluang Mandiri Produksi PDP

Budi menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang mandiri dalam memproduksi PDP. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, ketersediaan bahan baku plasma darah dinilai sangat melimpah dan mampu mendukung pengembangan industri nasional.

"Sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki sumber daya plasma darah yang sangat besar. Potensi tersebut harus dimanfaatkan melalui hilirisasi agar kebutuhan obat plasma dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri," tegasnya.

Untuk mempercepat pembangunan industri tersebut, Kemenkes telah melakukan penyederhanaan regulasi sejak 2023. Kebijakan itu membuka peluang investasi bagi perusahaan biofarmasi internasional untuk membangun fasilitas produksi plasma darah di Indonesia.

Langkah tersebut lebih dulu menarik minat perusahaan asal Korea Selatan, SK Plasma, yang bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority (INA). Melalui investasi senilai USD300 juta, SK Plasma membangun pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 600 ribu liter per tahun.

Baca juga: Logo Mandiri Hilang dari Gedung Thamrin, Ada Apa??

Pembangunan fasilitas tersebut telah rampung pada 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2027 setelah memperoleh izin operasional dan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Keberhasilan menciptakan iklim investasi yang kondusif kemudian mendorong Takeda, salah satu produsen Plasma Derived Products terbesar di dunia, untuk menanamkan investasi pembangunan pabrik plasma darah kedua di Indonesia. Fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi yang lebih besar sehingga mampu memperkuat pasokan obat plasma nasional.

Selain memperkuat industri obat berbasis plasma darah, Kemenkes juga terus mendorong peningkatan kapasitas produksi vaksin nasional. Saat ini dua pabrik vaksin berskala besar telah beroperasi di dalam negeri, yakni PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia.

PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia bahkan tengah mengembangkan Vaksin Merah Putih yang merupakan hasil riset ilmuwan Indonesia. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat kemandirian vaksin nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Budi Gunadi Sadikin menegaskan, transformasi ketahanan kesehatan tidak hanya menjadi respons atas krisis pandemi, tetapi juga menjadi fondasi jangka panjang untuk membangun industri kesehatan nasional yang lebih tangguh.

Baca juga: Haedar Nashir Raih Penghargaan Achmad Bakrie 2026

"Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi mengambil langkah nyata untuk memperbaikinya. Dengan hadirnya fasilitas produksi Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, kita memastikan kebutuhan obat dan vaksin masyarakat akan semakin terjamin, lebih terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri," pungkasnya. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: