Caption Foto : Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya. (Foto : Dok. Kemenag).
ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Penentuan awal bulan Zulhijah 1447 Hijriah mengarah pada hasil yang cukup kuat. Kementerian Agama (Kemenag) mengungkapkan bahwa posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia telah memenuhi kriteria yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Berdasarkan perhitungan hisab tersebut, awal Zulhijah atau 1 Dzulhijjah 1447 H diperkirakan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026.
Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya menjelaskan, standar penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia menggunakan acuan MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat. Hasil perhitungan menunjukkan seluruh wilayah Indonesia telah melampaui dua syarat tersebut.
“Jika melihat peta ketinggian hilal di Indonesia, titik terendah berada di Merauke, Papua Selatan, yakni 3,29 derajat. Sedangkan titik tertinggi berada di Sabang, Aceh, mencapai 6,95 derajat,” kata Cecep, Minggu (17/5/2026).
Tak hanya dari sisi ketinggian, indikator lain yang menjadi perhatian adalah elongasi. Berdasarkan data pemantauan, seluruh provinsi di Indonesia juga sudah memenuhi batas minimal yang dipersyaratkan. Di wilayah Merauke, elongasi tercatat mencapai 8,91 derajat, sedangkan Sabang berada di angka 10,62 derajat. Nilai tersebut dinilai jauh melampaui batas minimal MABIMS yang berada pada angka 6,4 derajat.
“Artinya, posisi hilal awal Zulhijah kali ini berada jauh di atas ambang minimum yang telah disepakati,” terang Cecep.
Posisi Hilal Awal Zulhijah 1447 H Dinilai Sangat Ideal
Kemenag mencatat, ijtima atau konjungsi terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026 sekitar pukul 03.00 WIB. Saat matahari terbenam pada hari yang sama, kondisi hilal di seluruh Indonesia menunjukkan hasil positif.
Data rinci memperlihatkan tinggi hilal berada pada rentang 3°17’33” atau sekitar 3,29 derajat hingga 6°56’58” atau 6,95 derajat. Sementara elongasi tercatat antara 8°54’49” hingga 10°37’07”. Dengan capaian tersebut, hilal awal Zulhijah 1447 H secara teoritis telah memenuhi syarat imkan rukyat atau visibilitas hilal yang berlaku di negara-negara anggota MABIMS. Kondisi ini juga membuka peluang besar bagi tim pemantau hilal di lapangan untuk melakukan rukyat secara langsung.
Meski hasil hisab menunjukkan seluruh wilayah Indonesia telah lolos kriteria, Cecep menegaskan bahwa penetapan resmi awal Zulhijah 1447 H tetap menunggu hasil Sidang Isbat.
Dalam mekanisme yang digunakan Indonesia, penentuan awal bulan penting seperti Ramadan, Syawal, dan Zulhijah dilakukan melalui kombinasi metode hisab dan rukyat. Hisab berfungsi sebagai dasar perhitungan astronomis, sementara rukyat digunakan sebagai verifikasi lapangan sebelum pemerintah menetapkan keputusan akhir.
“Pada 29 Zulqa’dah 1447 H atau 17 Mei 2026, secara hisab posisi hilal di seluruh wilayah NKRI memang telah memenuhi kriteria MABIMS. Namun penetapan resminya tetap menunggu keputusan Sidang Isbat,” tegas Cecep.