Program yang digagas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam ini dijadwalkan berlangsung mulai H-7 hingga H+7 Idulfitri. Selama periode tersebut, masjid-masjid di jalur mudik akan beroperasi 24 jam untuk melayani kebutuhan pemudik yang membutuhkan tempat beristirahat.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar menegaskan, koordinasi internal telah dilakukan dari tingkat pusat hingga Kantor Urusan Agama kecamatan untuk memastikan kesiapan fasilitas di setiap masjid.
“Koordinasi internal juga dilakukan dalam rangka kesiapan masjid dari tingkat pusat hingga Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan,” ujarnya.
Baca juga: Wapres RI ke-6, Try Sutrisno Wafat di Usia 90 Tahun
Sejumlah layanan dasar diminta tersedia di lokasi singgah, antara lain ruang istirahat, toilet bersih, air wudhu, area parkir aman dan gratis, air minum, serta fasilitas pengisian daya ponsel. Untuk masjid yang memungkinkan, juga diimbau menyiapkan ruang laktasi.
Sediakan Takjil
Selain itu, pengelola diharapkan menyediakan takjil bagi pemudik yang masih berpuasa Ramadan, serta minuman hangat pada malam hari untuk membantu pemulihan stamina pengemudi. Menag juga mengingatkan pentingnya waktu istirahat bagi pengendara guna menekan risiko kecelakaan akibat kelelahan.
“Beristirahat sejenak bisa menyelamatkan nyawa, mencegah musibah karena kalau sopirnya ngantuk dan nanti nabrak, kecelakaan banyak bisa terjadi,” tegasnya.
Tingginya penggunaan kendaraan pribadi, khususnya di jalur Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatra, menjadikan faktor kelelahan pengemudi sebagai perhatian utama pemerintah. Karena itu, masjid diposisikan tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang layanan publik yang ramah bagi pemudik. Untuk memudahkan identifikasi di lapangan, masjid yang berpartisipasi akan diberi penanda khusus di jalur utama sehingga pemudik dapat singgah tanpa ragu.
Baca juga: Komdigi Hadirkan Layanan DARA, Solusi Konsultasi untuk Atasi Adiksi Gim pada Anak
Program ini juga mengedepankan pendekatan inklusif. Di sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara dan kawasan Indonesia Timur, layanan bagi pemudik turut melibatkan rumah ibadah lain, termasuk gereja, sebagai wujud rumah ibadah yang terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang agama.