Oleh : Dr. Dimas Indianto S.,M.Pd.I. (Budayawan, Peneliti,
dan Dosen UIN Saizu Purwokerto)
Di titik inilah kearifan lokal
Banokeling menemukan relevansinya sebagai tawaran epistemologis sekaligus etis.
Banokeling tidak hanya hadir sebagai komunitas adat, tetapi sebagai lanskap
nilai yang menyimpan pandangan hidup tentang harmoni, kesederhanaan, dan
keberlanjutan. Pendidikan yang berangkat dari spirit Banokeling sesungguhnya
adalah pendidikan yang mengakar, bukan melayang di udara globalisasi.
Masyarakat Banokeling mengajarkan bahwa menjadi modern tidak harus berarti
tercerabut dari tradisi.
Baca juga: Kritik, Komedi, dan Bullying: Pelajaran Kitab Akhlak Pesantren dari Kontroversi Pandji–Gibran
Banokeling sebagai komunitas adat di
Kabupaten Banyumas (Jawa Tengah) merepresentasikan pengetahuan lokal yang lahir
dari pengalaman panjang berinteraksi dengan alam dan sejarah. Pengetahuan ini
tidak ditulis dalam buku teks modern, tetapi diwariskan melalui laku, ritus,
dan tuturan kolektif (hafalan dan tutur tinular). Dalam perspektif teori
pendidikan berbasis budaya (culturally responsive education), pengetahuan lokal
semacam ini adalah modal utama pembelajaran yang bermakna.
Pendidikan menjadi relevan ketika
mampu berbicara dalam bahasa kebudayaan peserta didiknya. Banokeling
mengajarkan bahwa nilai tidak selalu hadir dalam konsep abstrak, melainkan
dalam praktik keseharian yang konsisten. Ketika mengabaikan dimensi ini,
pendidikan berisiko melahirkan manusia terdidik yang asing di tanahnya sendiri.
Oleh karena itu, pendidikan dalam spirit Banokeling adalah pendidikan yang
mendengar suara lokal sebagai sumber kebijaksanaan. Di sanalah pendidikan
menemukan wajah manusianya.
Baca juga: Luka di Kaki Gunung Slamet: Membaca Ulang Ekstraktivisme dengan Nalar Kritis
Ekopedagogi
Globalisasi membawa arus informasi,
teknologi, dan nilai yang tak terhindarkan. Namun globalisasi juga membawa
ancaman homogenisasi budaya yang perlahan menggerus identitas lokal. Paulo
Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang tidak kritis akan menjadi alat
penindasan yang halus. Dalam konteks ini, pendidikan yang tercerabut dari
kearifan lokal berpotensi melanggengkan kolonialisme kultural baru. Banokeling
menawarkan sikap berbeda, yakni keterbukaan yang selektif dan reflektif.
Masyarakat Banokeling tidak menolak perubahan, tetapi menimbangnya dengan
nilai-nilai leluhur. Sikap ini dapat dibaca sebagai praktik pendidikan kritis
yang hidup dalam budaya. Pendidikan seharusnya meniru kebijaksanaan ini dalam
menghadapi globalisasi.
Baca juga: Tabayun Lirboyo: Ketika Kiai Memilih Islah Mengalahkan Ego
Spirit kearifan lokal Banokeling
bertumpu pada keseimbangan antara manusia, alam, dan Yang Transenden. Nilai ini
sejalan dengan gagasan ekopedagogi yang menempatkan pendidikan sebagai sarana
membangun kesadaran ekologis. Di tengah krisis lingkungan global, pendidikan
modern sering kali gagal menanamkan etika ekologis yang mendalam. Banokeling
justru mempraktikkan pendidikan ekologis melalui tradisi dan laku hidup. Alam
tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan.
Pendidikan yang berangkat dari nilai ini akan melahirkan kesadaran ekologis
yang otentik. Dengan demikian, kearifan Banokeling menjadi jawaban atas krisis
global yang dihasilkan oleh pendidikan yang terlalu antroposentris.
Dalam tradisi Banokeling, pendidikan
tidak dipisahkan dari kehidupan sosial dan spiritual. Belajar bukan aktivitas
terpisah dari bekerja, berdoa, dan bermasyarakat. Hal ini sejalan dengan teori
pendidikan holistik yang menolak fragmentasi manusia. Pendidikan holistik
memandang manusia sebagai kesatuan tubuh, akal, rasa, dan spiritualitas.
Banokeling telah lama mempraktikkan prinsip ini tanpa harus menyebutnya sebagai
teori. Ketika pendidikan modern sering kali terjebak pada capaian kognitif
semata, Banokeling mengingatkan pentingnya dimensi afektif dan etis. Pendidikan
semacam ini melahirkan manusia yang utuh, bukan sekadar cerdas secara akademik.
Di sinilah pendidikan menemukan kedalaman maknanya.
Baca juga: Majelis Taklim untuk Gen Masa Depan
Kearifan Lokal
Kearifan lokal Banokeling juga
menempatkan komunitas sebagai ruang belajar utama. Pengetahuan tidak dimonopoli
oleh individu, tetapi menjadi milik bersama. Ini sejalan dengan teori
konstruktivisme sosial yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui
interaksi sosial. Pendidikan modern sering kali terlalu individualistik,
menilai keberhasilan berdasarkan prestasi personal. Banokeling justru
menekankan kebersamaan dan tanggung jawab kolektif. Dalam perspektif ini,
pendidikan bukan kompetisi, melainkan kolaborasi. Nilai ini sangat relevan
untuk menghadapi dunia global yang membutuhkan kerja sama lintas identitas.
Pendidikan yang berakar pada falsafah Banokeling menyiapkan manusia global yang
tetap berjiwa komunal.
Bahasa, dalam masyarakat Banokeling,
bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wahana pewarisan nilai. Setiap
istilah, simbol, dan ungkapan menyimpan makna filosofis yang dalam. Pendidikan
yang mengabaikan bahasa lokal kehilangan pintu masuk menuju pemahaman kultural
peserta didik. Teori pendidikan multikultural menegaskan pentingnya pengakuan
terhadap bahasa dan identitas lokal. Banokeling menunjukkan bahwa bahasa adalah
memori kolektif yang hidup. Melalui bahasa, nilai-nilai diwariskan lintas
generasi. Pendidikan yang menghormati bahasa lokal adalah pendidikan yang
menghormati martabat manusia. Dengan demikian, bahasa Banokeling layak menjadi
medium pedagogis, bukan sekadar artefak budaya.
Ritual dalam tradisi Banokeling
sering dipahami secara sempit sebagai praktik keagamaan atau adat semata.
Padahal, ritual juga merupakan proses pedagogis yang sarat makna. Dalam konteks
ini, pendidikan mengajarkan disiplin, kesabaran, kebersamaan, dan penghormatan
terhadap yang sakral. Dalam perspektif pedagogi simbolik, ritual adalah teks
pendidikan yang hidup. Pendidikan modern cenderung menyingkirkan dimensi
simbolik demi efisiensi. Akibatnya, pembelajaran kehilangan kedalaman emosional
dan spiritual. Banokeling menunjukkan bahwa simbol dan ritual adalah bahasa
pendidikan yang kuat. Pendidikan yang mampu membaca simbol akan lebih menyentuh
kesadaran terdalam manusia.
Falsafah Banokeling
Pendidikan dalam spirit Banokeling
juga menekankan etika kesederhanaan. Nilai ini menjadi kritik tajam terhadap
budaya konsumerisme global. Pendidikan modern sering kali tanpa sadar
mereproduksi nilai materialistik. Banokeling mengajarkan bahwa martabat manusia
tidak ditentukan oleh kepemilikan, melainkan oleh laku hidup. Dalam teori
pendidikan karakter, nilai kesederhanaan merupakan fondasi pembentukan
kepribadian yang tangguh. Pendidikan yang berakar pada falsafah Banokeling akan
membentuk peserta didik yang tahan terhadap godaan materialisme. Mereka belajar
mencukupkan diri dan menghargai proses. Nilai ini sangat relevan di tengah
krisis makna global.
Kearifan Banokeling juga memandang
waktu secara siklikal, bukan linear semata. Pandangan ini berbeda dengan
modernitas yang memuja kecepatan dan percepatan. Pendidikan modern sering
terjebak dalam obsesi target dan hasil instan. Sementara itu, Banokeling
mengajarkan kesabaran dan keberlanjutan. Dalam perspektif pendidikan
berkelanjutan, cara pandang ini sangat penting. Pendidikan tidak boleh hanya
mengejar hasil jangka pendek, tetapi membangun fondasi jangka panjang.
Banokeling mengingatkan bahwa proses adalah bagian dari pembelajaran.
Pendidikan yang sabar adalah pendidikan yang bijaksana.
Relasi antargenerasi dalam komunitas
Banokeling menunjukkan model pendidikan intergenerasional. Pengetahuan tidak
terputus, tetapi mengalir dari tua ke muda. Pendidikan modern sering kali
meminggirkan peran orang tua dan tetua adat. Padahal, mereka adalah sumber
pengetahuan kontekstual yang berharga. Teori lifelong learning menegaskan bahwa
belajar berlangsung sepanjang hayat dan lintas usia. Banokeling telah
mempraktikkan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Ada relasi spiritual
antara generasi muda dengan tetua (Bedogol). Pendidikan yang mengintegrasikan
kearifan intergenerasional akan lebih kaya dan membumi. Pendidikan ala
Banokeling tidak memutus sejarah, tetapi merawatnya.
Dalam masyarakat Banokeling, etika
sosial dibangun melalui teladan, bukan ceramah. Nilai diajarkan melalui
tindakan nyata yang konsisten. Ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial
yang menekankan peran modeling. Pendidikan modern sering kali terlalu
verbalistik dan normatif. Banokeling menunjukkan bahwa nilai lebih efektif
diajarkan melalui laku hidup. Pendidikan dalam spirit ini menuntut guru menjadi
teladan, bukan sekadar pengajar. Keteladanan adalah kurikulum yang paling kuat.
Tanpa keteladanan, pendidikan kehilangan legitimasi moralnya.
Resolusi Konflik dan Identitas
Kultural
Kearifan lokal Banokeling juga
mengajarkan resolusi konflik berbasis musyawarah dan harmoni. Nilai ini sangat
relevan dalam dunia global yang penuh polarisasi. Pendidikan modern sering
gagal mengajarkan keterampilan dialog dan empati. Banokeling menawarkan model
pendidikan damai yang hidup dalam budaya. Dalam perspektif peace education,
praktik-praktik ini adalah sumber belajar yang berharga. Pendidikan yang
mengintegrasikan nilai musyawarah akan melahirkan warga global yang toleran. Di
sinilah pendidikan menemukan perannya sebagai penjaga peradaban.
Globalisasi sering memosisikan
lokalitas sebagai sesuatu yang tertinggal. Namun Banokeling justru menunjukkan
bahwa lokalitas adalah sumber kebaruan. Pendidikan yang berangkat dari
lokalitas mampu menghasilkan pengetahuan alternatif. Dalam teori dekolonisasi pendidikan,
pengakuan terhadap pengetahuan lokal adalah langkah pembebasan epistemik.
Banokeling menjadi bentuk perlawanan halus terhadap dominasi pengetahuan
global. Pendidikan yang memuliakan kearifan lokal adalah pendidikan yang
merdeka, tidak sekadar meniru, tetapi mencipta dari akar sendiri.
Pendidikan dalam spirit Banokeling
juga mengajarkan spiritualitas yang membumi. Spiritualitas tidak dipisahkan
dari kerja dan kehidupan sosial. Ini sejalan dengan kritik terhadap
sekularisasi pendidikan modern yang kering makna. Banokeling menghadirkan
spiritualitas yang membentuk etos hidup, bukan sekadar ritual formal.
Pendidikan yang mengintegrasikan dimensi spiritual akan melahirkan manusia yang
berorientasi nilai. Di tengah krisis eksistensial global, spiritualitas menjadi
kebutuhan mendasar. Banokeling menawarkan model spiritualitas yang kontekstual
dan inklusif.
Kearifan Banokeling mengajarkan
bahwa identitas tidak bersifat statis, tetapi terus dirawat. Pendidikan
berperan sebagai ruang perawatan identitas kultural. Tanpa pendidikan yang
sadar budaya, identitas mudah terkikis. Teori identitas budaya menegaskan
pentingnya pendidikan dalam membangun rasa memiliki. Banokeling menunjukkan
bahwa identitas dirawat melalui praktik kolektif. Pendidikan yang berakar pada
Banokeling menumbuhkan kebanggaan tanpa eksklusivisme. Ia membuka diri tanpa
kehilangan jati diri.
Dalam konteks kebijakan pendidikan,
kearifan Banokeling menantang paradigma sentralistik. Pendidikan tidak bisa
diseragamkan tanpa kehilangan konteks. Banokeling menunjukkan pentingnya
otonomi lokal dalam pendidikan. Ini sejalan dengan gagasan pendidikan
kontekstual dan berbasis komunitas. Pendidikan yang memberi ruang pada
lokalitas akan lebih adaptif. Banokeling menjadi contoh bagaimana pendidikan
bisa tumbuh dari bawah. Dari sanalah pendidikan memperoleh legitimasi sosial.
Pendidikan dalam spirit Banokeling
juga mengajarkan ketahanan budaya. Ketahanan ini bukan penolakan terhadap
perubahan, tetapi kemampuan menyaring. Pendidikan modern sering kali menjadi saluran
penetrasi budaya global tanpa filter. Banokeling mengajarkan sikap kritis dan
reflektif. Dalam teori literasi kritis, kemampuan menyaring informasi adalah
kompetensi utama abad ke-21. Banokeling telah mempraktikkan literasi kritis
dalam bentuk budaya. Pendidikan yang belajar dari Banokeling akan lebih siap
menghadapi banjir informasi global.
Pendidikan dalam spirit kearifan
lokal Banokeling adalah ajakan untuk kembali mendefinisikan makna kemajuan.
Kemajuan tidak selalu identik dengan teknologi dan angka statistik. Banokeling
mengajarkan bahwa kemajuan adalah harmoni, keberlanjutan, dan kebermaknaan
hidup. Pendidikan yang berangkat dari nilai ini akan melahirkan manusia yang
bijak, bukan sekadar kompetitif. Di tengah globalisasi yang sering kehilangan
arah, Banokeling menjadi kompas nilai. Pendidikan yang mendengarkan kearifan
lokal akan menemukan masa depan yang lebih manusiawi.
Belum ada komentar.
Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.