Pendidikan dalam Spirit Kearifan Lokal Banokeling

Opini
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Dec 24, 2025
Caption Foto : Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Saizu Purwokerto, Dr. Dimas Indianto S.,M.Pd.I. (Foto : Dok. Pribadi).

Oleh : Dr. Dimas Indianto S.,M.Pd.I. (Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Saizu Purwokerto)

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan upaya panjang membentuk manusia agar mampu hidup selaras dengan dirinya, sesama, alam, dan Tuhannya. Dalam konteks globalisasi yang bergerak cepat dan kerap mencabut manusia dari akar kulturalnya, pendidikan sering kali terjebak dalam logika seragam dan teknokratis. Sekolah menjadi ruang administratif yang miskin makna, sementara peserta didik kehilangan hubungan emosional dengan lingkungan sosial-budayanya.

Di titik inilah kearifan lokal Banokeling menemukan relevansinya sebagai tawaran epistemologis sekaligus etis. Banokeling tidak hanya hadir sebagai komunitas adat, tetapi sebagai lanskap nilai yang menyimpan pandangan hidup tentang harmoni, kesederhanaan, dan keberlanjutan. Pendidikan yang berangkat dari spirit Banokeling sesungguhnya adalah pendidikan yang mengakar, bukan melayang di udara globalisasi. Masyarakat Banokeling mengajarkan bahwa menjadi modern tidak harus berarti tercerabut dari tradisi.

Baca juga: Kritik, Komedi, dan Bullying: Pelajaran Kitab Akhlak Pesantren dari Kontroversi Pandji–Gibran

Banokeling sebagai komunitas adat di Kabupaten Banyumas (Jawa Tengah) merepresentasikan pengetahuan lokal yang lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan alam dan sejarah. Pengetahuan ini tidak ditulis dalam buku teks modern, tetapi diwariskan melalui laku, ritus, dan tuturan kolektif (hafalan dan tutur tinular). Dalam perspektif teori pendidikan berbasis budaya (culturally responsive education), pengetahuan lokal semacam ini adalah modal utama pembelajaran yang bermakna.

Pendidikan menjadi relevan ketika mampu berbicara dalam bahasa kebudayaan peserta didiknya. Banokeling mengajarkan bahwa nilai tidak selalu hadir dalam konsep abstrak, melainkan dalam praktik keseharian yang konsisten. Ketika mengabaikan dimensi ini, pendidikan berisiko melahirkan manusia terdidik yang asing di tanahnya sendiri. Oleh karena itu, pendidikan dalam spirit Banokeling adalah pendidikan yang mendengar suara lokal sebagai sumber kebijaksanaan. Di sanalah pendidikan menemukan wajah manusianya.

Baca juga: Luka di Kaki Gunung Slamet: Membaca Ulang Ekstraktivisme dengan Nalar Kritis

Ekopedagogi

Globalisasi membawa arus informasi, teknologi, dan nilai yang tak terhindarkan. Namun globalisasi juga membawa ancaman homogenisasi budaya yang perlahan menggerus identitas lokal. Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang tidak kritis akan menjadi alat penindasan yang halus. Dalam konteks ini, pendidikan yang tercerabut dari kearifan lokal berpotensi melanggengkan kolonialisme kultural baru. Banokeling menawarkan sikap berbeda, yakni keterbukaan yang selektif dan reflektif. Masyarakat Banokeling tidak menolak perubahan, tetapi menimbangnya dengan nilai-nilai leluhur. Sikap ini dapat dibaca sebagai praktik pendidikan kritis yang hidup dalam budaya. Pendidikan seharusnya meniru kebijaksanaan ini dalam menghadapi globalisasi.

Baca juga: Tabayun Lirboyo: Ketika Kiai Memilih Islah Mengalahkan Ego

Spirit kearifan lokal Banokeling bertumpu pada keseimbangan antara manusia, alam, dan Yang Transenden. Nilai ini sejalan dengan gagasan ekopedagogi yang menempatkan pendidikan sebagai sarana membangun kesadaran ekologis. Di tengah krisis lingkungan global, pendidikan modern sering kali gagal menanamkan etika ekologis yang mendalam. Banokeling justru mempraktikkan pendidikan ekologis melalui tradisi dan laku hidup. Alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan. Pendidikan yang berangkat dari nilai ini akan melahirkan kesadaran ekologis yang otentik. Dengan demikian, kearifan Banokeling menjadi jawaban atas krisis global yang dihasilkan oleh pendidikan yang terlalu antroposentris.

Dalam tradisi Banokeling, pendidikan tidak dipisahkan dari kehidupan sosial dan spiritual. Belajar bukan aktivitas terpisah dari bekerja, berdoa, dan bermasyarakat. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan holistik yang menolak fragmentasi manusia. Pendidikan holistik memandang manusia sebagai kesatuan tubuh, akal, rasa, dan spiritualitas. Banokeling telah lama mempraktikkan prinsip ini tanpa harus menyebutnya sebagai teori. Ketika pendidikan modern sering kali terjebak pada capaian kognitif semata, Banokeling mengingatkan pentingnya dimensi afektif dan etis. Pendidikan semacam ini melahirkan manusia yang utuh, bukan sekadar cerdas secara akademik. Di sinilah pendidikan menemukan kedalaman maknanya.

Baca juga: Majelis Taklim untuk Gen Masa Depan

Kearifan Lokal         

Kearifan lokal Banokeling juga menempatkan komunitas sebagai ruang belajar utama. Pengetahuan tidak dimonopoli oleh individu, tetapi menjadi milik bersama. Ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial. Pendidikan modern sering kali terlalu individualistik, menilai keberhasilan berdasarkan prestasi personal. Banokeling justru menekankan kebersamaan dan tanggung jawab kolektif. Dalam perspektif ini, pendidikan bukan kompetisi, melainkan kolaborasi. Nilai ini sangat relevan untuk menghadapi dunia global yang membutuhkan kerja sama lintas identitas. Pendidikan yang berakar pada falsafah Banokeling menyiapkan manusia global yang tetap berjiwa komunal.

Bahasa, dalam masyarakat Banokeling, bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wahana pewarisan nilai. Setiap istilah, simbol, dan ungkapan menyimpan makna filosofis yang dalam. Pendidikan yang mengabaikan bahasa lokal kehilangan pintu masuk menuju pemahaman kultural peserta didik. Teori pendidikan multikultural menegaskan pentingnya pengakuan terhadap bahasa dan identitas lokal. Banokeling menunjukkan bahwa bahasa adalah memori kolektif yang hidup. Melalui bahasa, nilai-nilai diwariskan lintas generasi. Pendidikan yang menghormati bahasa lokal adalah pendidikan yang menghormati martabat manusia. Dengan demikian, bahasa Banokeling layak menjadi medium pedagogis, bukan sekadar artefak budaya.

Ritual dalam tradisi Banokeling sering dipahami secara sempit sebagai praktik keagamaan atau adat semata. Padahal, ritual juga merupakan proses pedagogis yang sarat makna. Dalam konteks ini, pendidikan mengajarkan disiplin, kesabaran, kebersamaan, dan penghormatan terhadap yang sakral. Dalam perspektif pedagogi simbolik, ritual adalah teks pendidikan yang hidup. Pendidikan modern cenderung menyingkirkan dimensi simbolik demi efisiensi. Akibatnya, pembelajaran kehilangan kedalaman emosional dan spiritual. Banokeling menunjukkan bahwa simbol dan ritual adalah bahasa pendidikan yang kuat. Pendidikan yang mampu membaca simbol akan lebih menyentuh kesadaran terdalam manusia.

Falsafah Banokeling

Pendidikan dalam spirit Banokeling juga menekankan etika kesederhanaan. Nilai ini menjadi kritik tajam terhadap budaya konsumerisme global. Pendidikan modern sering kali tanpa sadar mereproduksi nilai materialistik. Banokeling mengajarkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh kepemilikan, melainkan oleh laku hidup. Dalam teori pendidikan karakter, nilai kesederhanaan merupakan fondasi pembentukan kepribadian yang tangguh. Pendidikan yang berakar pada falsafah Banokeling akan membentuk peserta didik yang tahan terhadap godaan materialisme. Mereka belajar mencukupkan diri dan menghargai proses. Nilai ini sangat relevan di tengah krisis makna global.

Kearifan Banokeling juga memandang waktu secara siklikal, bukan linear semata. Pandangan ini berbeda dengan modernitas yang memuja kecepatan dan percepatan. Pendidikan modern sering terjebak dalam obsesi target dan hasil instan. Sementara itu, Banokeling mengajarkan kesabaran dan keberlanjutan. Dalam perspektif pendidikan berkelanjutan, cara pandang ini sangat penting. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar hasil jangka pendek, tetapi membangun fondasi jangka panjang. Banokeling mengingatkan bahwa proses adalah bagian dari pembelajaran. Pendidikan yang sabar adalah pendidikan yang bijaksana.

Relasi antargenerasi dalam komunitas Banokeling menunjukkan model pendidikan intergenerasional. Pengetahuan tidak terputus, tetapi mengalir dari tua ke muda. Pendidikan modern sering kali meminggirkan peran orang tua dan tetua adat. Padahal, mereka adalah sumber pengetahuan kontekstual yang berharga. Teori lifelong learning menegaskan bahwa belajar berlangsung sepanjang hayat dan lintas usia. Banokeling telah mempraktikkan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Ada relasi spiritual antara generasi muda dengan tetua (Bedogol). Pendidikan yang mengintegrasikan kearifan intergenerasional akan lebih kaya dan membumi. Pendidikan ala Banokeling tidak memutus sejarah, tetapi merawatnya.

Dalam masyarakat Banokeling, etika sosial dibangun melalui teladan, bukan ceramah. Nilai diajarkan melalui tindakan nyata yang konsisten. Ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial yang menekankan peran modeling. Pendidikan modern sering kali terlalu verbalistik dan normatif. Banokeling menunjukkan bahwa nilai lebih efektif diajarkan melalui laku hidup. Pendidikan dalam spirit ini menuntut guru menjadi teladan, bukan sekadar pengajar. Keteladanan adalah kurikulum yang paling kuat. Tanpa keteladanan, pendidikan kehilangan legitimasi moralnya.

Resolusi Konflik dan Identitas Kultural

Kearifan lokal Banokeling juga mengajarkan resolusi konflik berbasis musyawarah dan harmoni. Nilai ini sangat relevan dalam dunia global yang penuh polarisasi. Pendidikan modern sering gagal mengajarkan keterampilan dialog dan empati. Banokeling menawarkan model pendidikan damai yang hidup dalam budaya. Dalam perspektif peace education, praktik-praktik ini adalah sumber belajar yang berharga. Pendidikan yang mengintegrasikan nilai musyawarah akan melahirkan warga global yang toleran. Di sinilah pendidikan menemukan perannya sebagai penjaga peradaban.

Globalisasi sering memosisikan lokalitas sebagai sesuatu yang tertinggal. Namun Banokeling justru menunjukkan bahwa lokalitas adalah sumber kebaruan. Pendidikan yang berangkat dari lokalitas mampu menghasilkan pengetahuan alternatif. Dalam teori dekolonisasi pendidikan, pengakuan terhadap pengetahuan lokal adalah langkah pembebasan epistemik. Banokeling menjadi bentuk perlawanan halus terhadap dominasi pengetahuan global. Pendidikan yang memuliakan kearifan lokal adalah pendidikan yang merdeka, tidak sekadar meniru, tetapi mencipta dari akar sendiri.

Pendidikan dalam spirit Banokeling juga mengajarkan spiritualitas yang membumi. Spiritualitas tidak dipisahkan dari kerja dan kehidupan sosial. Ini sejalan dengan kritik terhadap sekularisasi pendidikan modern yang kering makna. Banokeling menghadirkan spiritualitas yang membentuk etos hidup, bukan sekadar ritual formal. Pendidikan yang mengintegrasikan dimensi spiritual akan melahirkan manusia yang berorientasi nilai. Di tengah krisis eksistensial global, spiritualitas menjadi kebutuhan mendasar. Banokeling menawarkan model spiritualitas yang kontekstual dan inklusif.

Kearifan Banokeling mengajarkan bahwa identitas tidak bersifat statis, tetapi terus dirawat. Pendidikan berperan sebagai ruang perawatan identitas kultural. Tanpa pendidikan yang sadar budaya, identitas mudah terkikis. Teori identitas budaya menegaskan pentingnya pendidikan dalam membangun rasa memiliki. Banokeling menunjukkan bahwa identitas dirawat melalui praktik kolektif. Pendidikan yang berakar pada Banokeling menumbuhkan kebanggaan tanpa eksklusivisme. Ia membuka diri tanpa kehilangan jati diri.

Dalam konteks kebijakan pendidikan, kearifan Banokeling menantang paradigma sentralistik. Pendidikan tidak bisa diseragamkan tanpa kehilangan konteks. Banokeling menunjukkan pentingnya otonomi lokal dalam pendidikan. Ini sejalan dengan gagasan pendidikan kontekstual dan berbasis komunitas. Pendidikan yang memberi ruang pada lokalitas akan lebih adaptif. Banokeling menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa tumbuh dari bawah. Dari sanalah pendidikan memperoleh legitimasi sosial.

Pendidikan dalam spirit Banokeling juga mengajarkan ketahanan budaya. Ketahanan ini bukan penolakan terhadap perubahan, tetapi kemampuan menyaring. Pendidikan modern sering kali menjadi saluran penetrasi budaya global tanpa filter. Banokeling mengajarkan sikap kritis dan reflektif. Dalam teori literasi kritis, kemampuan menyaring informasi adalah kompetensi utama abad ke-21. Banokeling telah mempraktikkan literasi kritis dalam bentuk budaya. Pendidikan yang belajar dari Banokeling akan lebih siap menghadapi banjir informasi global.

Pendidikan dalam spirit kearifan lokal Banokeling adalah ajakan untuk kembali mendefinisikan makna kemajuan. Kemajuan tidak selalu identik dengan teknologi dan angka statistik. Banokeling mengajarkan bahwa kemajuan adalah harmoni, keberlanjutan, dan kebermaknaan hidup. Pendidikan yang berangkat dari nilai ini akan melahirkan manusia yang bijak, bukan sekadar kompetitif. Di tengah globalisasi yang sering kehilangan arah, Banokeling menjadi kompas nilai. Pendidikan yang mendengarkan kearifan lokal akan menemukan masa depan yang lebih manusiawi.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.

Belum ada data Orbit Vox.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: