Majelis Taklim untuk Gen Masa Depan

Opini
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Dec 25, 2025
Caption Foto : Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad. (Foto : Dok. Kemenag).

Oleh : Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad.

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Tanpa publikasi dan tuntutan aspirasi, majelis taklim terus berkiprah menebar kebaikan dan merawat keberagamaan yang iklusif bagi umat. Majelis taklim terus tumbuh dan hidup, secara alamiah, agile dan adaptif terhadap perubahan meski tidak mendapat perhatian yang memadai.

Ia selama dan hingga kini, mungkin juga hingga akhir zaman ikut berperan menanam, merawat, dan menjaga fondasi dan dasar-dasar keagamaan Islam mulai dari akidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Dalam sepi, majelis taklim terus berkontribusi agar agama menjadi faktor pemersatu dan faktor penting dalam pembungunan bangsa.

Baca juga: Kritik, Komedi, dan Bullying: Pelajaran Kitab Akhlak Pesantren dari Kontroversi Pandji–Gibran

Dalam PMA 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim, ia dirumuskan telah berperan strategis untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam dan menjaga keutuhan NKRI. Dalam PMA ini, majelis taklim didefinisikan sebagai lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam nonformal sebagai sarana dakwah.   

Data yang dihimpun sementara oleh Direktorat Penerangan Agama Islam (ditpenais) menunjukkan, jumlah majelis taklim sekitar 134 ribu lebih. Jumlah ini berdasarkan majelis taklim yang mencatatkan diri pada Kementerian Agama/ KUA setempat.

Baca juga: Luka di Kaki Gunung Slamet: Membaca Ulang Ekstraktivisme dengan Nalar Kritis

Secara faktual, jumlah majelis taklim mungkin berlipat-lipat dibanding yang tercatat. Meningat jumlah masjid dan musolla saja lebih dari 750.000. Bila ditambah dengan majelis taklim yang homebase-nya di rumah atau komunitas masyarakat lainnya, tentu jumlahnya lebih banyak lagi.  

Karena itu, penting dilakukan pendataan yang mudah dan sederhana namun tetap akurat. Para penyuluh agama dan penghulu—yang nota bene merupakan pengasuh atau pengajar di majelis taklim—perlu memberikan layanan jemput bola atau turun langsung mendata majelis taklim yang ada di lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Tabayun Lirboyo: Ketika Kiai Memilih Islah Mengalahkan Ego

Setelah pendataan, perlu dilakukan pembinaan dan pemberdayaan secara berkelanjutan. Berbagai pelatihan atau bimbingan teknis pengelolaan masjid perlu digelar untuk memberikan bekal bagi takmir dan jajarannya dalam memberikan layanan terbaik bagi jemaahnya. Negara perlu hadir di sini.

Berbagai Sebutan

Baca juga: Pendidikan dalam Spirit Kearifan Lokal Banokeling

Di masyarakat, majelis taklim dikenal dengan berbagai sebutan atau nama, sesuai dengan kultur masyarakat setempat. Pada masyarakat kota, kata majelis taklim lazim digunakan. Biasanya, ditambahkan nama di belakang kata majelis taklim sebagai ciri khas masing-masing jemaah atau wilayah. Kata majelis taklim pula yang secara formal tercantum dalam PMA Nomor 29 Tahun 2019 di atas.

Pada masyarakat pedesaan di Jawa, dan tidak menutup kemungkinan di luar Jawa, majelis taklim mungkin tidak begitu populer. Yang lebih dikenal biasanya jemaah pengajian/ yasinan/ tahlilan/ muslimatan/ fatayatan dan sejenisnya, yang lazim digunakan.

Pada sebagian kelompok, mereka lebih memilih istilah kajian, daurah atau halaqah, yang substansinya sama, yaitu majlis dimana jemaahnya belajar agama Islam. Sebagai satu kumpulan, majelis taklim atau sejenisnya memiliki pemimpin/ pengasuh dan Jemaah yang memiliki agenda rutin, yaitu yang utama adalah pengajian, seringkali ditambah dengan kegiatan sosial dan ekonomi lainnya.

Basis sosial majelis taklim bervariasi, tergantung karakteristik jemaah dan atau pengasuhnya. Majelis taklim dapat tumbuh lingkungan RT hingga RW, masjid atau musala. Majelis taklim juga berdiri dan tumbuh di lingkungan perkantoran, pabrik, bahkan profesi dan hoby. Di kalangan artis atau eksekutif muda, majelis taklim menjadi trend tersendiri yang diasuh oleh ustaz/ zah dengan segmen tersendiri.

Di dunia pendidikan, majelis taklim mengambil bentuk kerohanian Islam (Rohis) atau nama lainnya. Materi dan durasi rohis bisa lebih dalam dan lama, melebihi jam Pendidikan Agama Islam (PAI) yang seharusnya. Pengampu materinya berasal dari internal atau eksternal sekolah atau kampus tersebut.

Dalam semua jenis dan variasi majelis taklim—yang pada dasarnya berbasis komunitas itu, selalu dibedakan antara majelis taklim untuk laki-laki dan perempuan. Materi pengajaran majelis taklim umumnya berkaitan dengan dasar-dasar agama Islam, termasuk fiqh dan baca tulis (tahsin) al-qur’an.

Menyambut Perubahan

Materi terkait perkawinan, keluarga sakinan, bahaya narkoba, isu KDRT dan stunting, moderasi beragama serta tema-tema aktual lainnya juga menjadi menu yang secara rutin disampaikan kepada jemaah. Secara umum, sudah ada semacam ‘kurikulum’ yang dapat dijadikan pedoman oleh pengasuh majelis taklim. Waktu, tempat dan jemaah pengajian yang fleksibel dan luwes merupakan kekuatan dari majelis taklim.

Sekalipun sama-sama mengajarkan agama, majelis taklim bukanlah pesantren. Majelis taklim mengajarkan dasar-dasar keagamaan Islam kepada umat agar dapat menjadi muslim yang baik dan dapat menjalankan kewajiban agamanya secara kaffah. Majelis taklim mungkin tidak mampu menjadikan seorang jemaah ahli agama atau ahli dalam bidang ilmu keagamaan Islam tertentu.

Hal ini sangat berbeda dengan pesantren yang lebih sistematis dan terstruktur dalam pembelajarannya. Termasuk disediakan boarding sebagai tempat tinggal santri dengan segala konsekuensinya. Sedangkan majelis taklim umumnya disediakan secara gratis.

Dengan segala keterbatasannya, majelis taklim telah berperan penting dan strategis dalam upaya menanam, merawat, menjaga dan menyebarluaskan ajaran Islam, baik dalam bidang akiqad, ibadah, muamalah/ fiqh dan juga akhlak. Majelis ini tumbuh dari, oleh dan untuk umat dan telah berjasa besar membantu pemerintah dalam upaya merawat toleransi dan kerukunan intern maupun antar umat beragama.

Bagaimanapun nanti dunia tumbuh dan berkembang, agama tetap relevan bagi manusia. Ia tetap akan menjadi pedoman, kompas atau obor bagi kehidupan umat manusia. Agama masih akan dibutuhkan, baik oleh manusia yang merana maupun yang bahagia. Majelis taklim akan menjadi agen kunci bagi operasionalisasi agama yang asyik dan mencerahkan di masyarakat.

Kebutuhan terhadap agama memang bersifat fluktuatif. Tidak sama bagi setiap orang atau generasi. Bahwa rerata anak muda sedikit lebih jauh dari agama dibanding dengan generasi di atasnya, ini hanya soal prioritas, tidak permanen dan tidak dapat disamaratakan.

Zaman memang dan akan berubah. Spiritualitas juga dapat berubah. Manusia ikut berubah dan semua lanskap kehidupan juga mengalami hukum yang sama. Agama akan tetap dibutuhkan manusia, karena itu merupakan bagian dari fitrahnya.

Dalam situasi yang serba berubah, majelis taklim dan pengasuhnya perlu menyesuaikan dengan perubahan zaman. Majelis taklim harus selalu relevan dengan semua umur dan semua kalangan. Ia memang harus berjiwa khidmah dan melayani, bukan sekedar selera pengasuhnya saja. Gen-Z dan Gen-Alfa juga perlu disapa oleh majelis taklim dengan pendekatan agama yang lebih asyik dan kekinian.



Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.

Belum ada data Orbit Vox.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: