Tabayun Lirboyo: Ketika Kiai Memilih Islah Mengalahkan Ego

Opini
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Dec 28, 2025
Caption Foto : Guru Besar UIN Saizu Purwokerto, Prof. Dr. Kholid Mawardi, M.Hum. (Foto : Dok. UIN Saizu).
ORBIT-NES.COM, PURWOKERTO - Islah yang terjadi di Pesantren Lirboyo antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU bukan sekadar peristiwa organisasi. Ia adalah peristiwa kultural keilmuan, yang memperlihatkan bagaimana tradisi tabayun ala Nahdlatul Ulama bekerja: senyap, mendalam, dan berakar kuat pada kitab kuning.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, tabayun tidak dipahami sebatas klarifikasi administratif atau manuver politik internal. Ia adalah laku etik yang bersumber dari Al-Qur’an dan diwariskan oleh ulama klasik, terutama dalam kitab-kitab akhlak dan fiqh sosial.

Al-Qur’an menegaskan prinsip ini secara eksplisit dalam QS. al-Ḥujurāt ayat 6: fatabayyanū lakukan klarifikasi agar tidak menjatuhkan keputusan yang berujung penyesalan. Namun, NU tidak berhenti pada ayat. Prinsip tersebut diturunkan menjadi tradisi hidup melalui pesantren dan musyawarah kiai sepuh.

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa konflik sering kali tidak lahir dari perbedaan pendapat, melainkan dari penyakit batin: cinta pada kehormatan diri, nafsu ingin menang, dan tergesa-gesa membuka aib orang lain.  Karena itu, al-Ghazali menegaskan bahwa menahan lisan dan mengklarifikasi dengan hati yang bersih lebih utama daripada membela diri di ruang publik.

Inilah yang tercermin di Lirboyo. Ketika perbedaan pandangan muncul di pucuk kepemimpinan NU, para kiai tidak memilih mikrofon, tetapi memilih majelis. Tidak ada adu narasi di media sosial, tidak ada mobilisasi emosi jamaah. Yang ada adalah duduk bersama, mendengar, dan menimbang maslahat.

Etika ini sejalan dengan panduan Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar, bahwa pihak yang bersengketa wajib memenuhi undangan ishlah, mendengarkan lawan bicara, dan tidak menolak perdamaian tanpa alasan syar‘i. Dalam perspektif ini, menolak tabayun justru lebih tercela daripada mengalah.

Lebih jauh, keputusan untuk mengedepankan islah juga berakar pada kaidah fiqh yang dijelaskan Imam as-Suyuthi dalam Al-Asybah wa an-Nazhair: dar’ul mafāsid muqaddam ‘alā jalbil maṣāliḥ mencegah kerusakan harus didahulukan daripada mengejar manfaat. Dalam konteks NU, kerusakan terbesar bukan kalah argumentasi, melainkan retaknya persatuan jamaah.

Kitab Bughyat al-Mustarsyidin, yang sangat populer di kalangan pesantren NU, bahkan mengingatkan agar ulama dan tokoh umat sangat berhati-hati dalam sikap publik, sebab kesalahan elite dapat menjadi fitnah yang menjalar ke bawah. Karena itu, konflik elite harus diselesaikan secepat mungkin, secara tertutup, dan bermartabat.

Islah Lirboyo menunjukkan bahwa wibawa ulama tidak lahir dari kerasnya pernyataan, tetapi dari kemampuannya menundukkan ego. Di tengah budaya digital yang mendorong reaksi cepat dan polarisasi, NU justru mempraktikkan “kelambatan yang bermakna” tabayun yang memberi ruang pada akal, nurani, dan tradisi.

Barangkali inilah pesan penting dari Lirboyo bagi publik luas bahwa tidak semua konflik harus diumumkan, tidak semua perbedaan harus dipertajam dan tidak semua kebenaran harus dimenangkan. Dalam tradisi kitab kuning, kebenaran yang paling tinggi adalah yang melahirkan ishlah, bukan sorak-sorai. Dan di situlah tabayun NU menemukan martabatnya.

(Oleh : Guru Besar UIN Saizu Purwokerto, Prof. Dr. Kholid Mawardi, M.Hum)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.

Belum ada data Orbit Vox.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: