ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya berbicara soal ritual keagamaan, tetapi juga tentang kehadiran negara dalam melayani warganya di Tanah Suci. Hal inilah yang ditekankan kepada para calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M dalam pembekalan yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Direktur Bina Petugas Haji Reguler, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menegaskan bahwa setiap petugas haji membawa nama baik Indonesia selama bertugas di Arab Saudi. Menurutnya, kualitas layanan yang diterima jemaah menjadi cerminan langsung kehadiran negara.
“Petugas haji adalah wajah Indonesia di Tanah Suci. Seragam dengan lambang Merah Putih bukan sekadar pakaian kerja, tetapi simbol kehormatan negara yang harus dijaga,” ujar Chandra.
Ia menekankan, petugas dituntut menjaga sikap, etika, serta integritas dalam setiap situasi. Seragam, kata dia, wajib dikenakan selama bertugas dan hanya boleh dilepas saat beristirahat di dalam kamar. Aturan ini dimaksudkan untuk menjaga identitas sekaligus wibawa petugas di hadapan jemaah maupun otoritas setempat.
Baca juga: Kementan Gerak Cepat Pulihkan Sektor Pertanian Terdampak Banjir
Dalam arahannya, Chandra mengingatkan pentingnya penguasaan wilayah kerja. Petugas diminta memahami secara detail daerah penugasan masing-masing, baik di Makkah, Madinah, bandara, maupun sektor layanan lainnya. Tak hanya itu, kesiapsiagaan juga menjadi poin utama. Setiap petugas diharapkan sudah berada di lokasi minimal satu jam sebelum jemaah tiba.
“Pelayanan haji tidak bisa dilakukan secara individual. Kerja tim, komunikasi yang lancar, dan koordinasi lintas sektor adalah kunci agar seluruh rangkaian layanan berjalan tanpa hambatan,” jelasnya.
Baca juga: Menaker Dorong Sertifikasi Profesi Lebih Inklusif, Murah, dan Menjangkau Penyandang Disabilitas
Chandra juga mengapresiasi para peserta diklat yang dinilainya merupakan sumber daya manusia terpilih hasil seleksi ketat. Dari ribuan pendaftar, hanya mereka yang dipercaya untuk melayani sekitar 221 ribu jemaah haji Indonesia.
Siap Ditugaskan di Mana Pun
Baca juga: Dirjen Haji Tegaskan PPIH Harus Hadir Nyata, Layanan Jemaah Jadi Ukuran Keberhasilan
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa petugas harus siap ditempatkan di layanan dan daerah kerja mana pun sesuai kebutuhan operasional. Tidak ada ruang untuk memilih-milih lokasi atau jenis tugas.
“Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi adalah keharusan. Semua petugas harus siap menjalankan amanah di mana pun ditempatkan,” tegasnya.
Dalam era digital, penggunaan media sosial juga tak luput dari perhatian. Chandra mengingatkan bahwa aktivitas daring petugas selama berada di Arab Saudi berada dalam pengawasan ketat. Di akhir pembekalan, Chandra menekankan pentingnya keikhlasan dalam melayani jemaah, termasuk saat menghadapi situasi sulit di lapangan.
“Jika jemaah menyampaikan keluhan dengan emosi, hadapi dengan senyum dan bahasa yang lembut. Ingat, mereka telah menempuh perjalanan panjang dan kita sedang berada di Tanah Suci,” katanya.
Baca juga: “Lapor Pak Amran” Bongkar Mafia Pupuk hingga Pangan Ilegal
Ia juga mengingatkan larangan tegas terkait integritas. Petugas dilarang keras meminta atau menerima uang, tip, maupun pemberian apa pun dari jemaah. “Tidak boleh ada gratifikasi. Bahkan, jemaah perlu diingatkan agar tidak memberikan apa pun kepada petugas,” pungkasnya.
Belum ada komentar.
Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.