ORBIT-NEWS.COM, CILACAP – Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman menegaskan bahwa wacana pembentukan Provinsi Jawa Selatan (Jasela) harus ditempatkan sebagai upaya strategis untuk mendorong pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar isu pemekaran wilayah. Penegasan tersebut disampaikan Syamsul saat membuka diskusi publik yang digelar Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Cilacap di Pendopo Wijayakusuma Cakti, Sabtu (10/1/2026). Diskusi ini membahas prospek dan tantangan pembentukan Provinsi Jawa Selatan bagi wilayah selatan Pulau Jawa.
Baca juga: Rentetan Keracunan MBG Jadi Sorotan DPR, Pengawasan Keamanan Pangan Dinilai Masih Rapuh
Menurut Syamsul, kawasan selatan Jawa memiliki potensi sumber daya alam yang besar, mulai dari sektor kelautan, pertanian, hingga pariwisata. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pemerataan infrastruktur dan optimalisasi pelayanan publik.
“Pemerintah Kabupaten Cilacap pada prinsipnya terbuka terhadap setiap gagasan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi wacana Provinsi Jawa Selatan harus dikaji secara matang dan berorientasi pada kepentingan rakyat,” jelasnya.
Baca juga: Kasus Kanker Anak Masih Tinggi, RSUP Sardjito dan Pemkab Cilacap Perkuat Deteksi Dini
Ia menambahkan, diskursus Jasela perlu dibahas secara komprehensif dengan mempertimbangkan kesiapan daerah, kapasitas fiskal, serta dampak jangka panjang terhadap tata kelola pemerintahan. Syamsul berharap forum diskusi mampu melahirkan rekomendasi yang realistis dan aplikatif.
Sementara itu, Koordinator Presidium MD KAHMI Cilacap, Hamidan Majdi, menyebutkan bahwa diskusi ini merupakan bagian dari kontribusi pemikiran KAHMI untuk mendorong pembangunan daerah yang lebih berkeadilan. Ia menilai gagasan Provinsi Jawa Selatan perlu disosialisasikan secara lebih luas agar masyarakat memahami tujuan dan manfaatnya.
Diskusi bertajuk “Prospek Provinsi Jawa Selatan (JASELA) untuk Kemajuan dan Kesejahteraan Masyarakat” ini menghadirkan sejumlah panelis dari berbagai latar belakang, di antaranya Anggota Kelompok DPD di MPR RI Abdul Kholik, pengusaha Bambang Suharto, serta akademisi Djadjat Sudradjat, dengan Supriyatno sebagai moderator.