ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Perum Bulog menutup tahun 2025 dengan capaian strategis dalam memperkuat perannya sebagai penyangga utama ketahanan pangan nasional. Di tengah dinamika produksi dan distribusi pangan, Bulog mencatat rekor penyerapan gabah tertinggi sepanjang sejarah sekaligus memastikan stabilitas harga dari tingkat petani hingga konsumen.
Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan, tahun 2025 menjadi fase konsolidasi penting bagi Bulog untuk menegaskan kembali fungsi negara dalam mengelola pangan secara menyeluruh, dari hulu sampai hilir.
“Sepanjang 2025, kami fokus memastikan negara benar-benar hadir di sektor pangan. Petani terlindungi, cadangan pangan terjaga, dan masyarakat memperoleh akses pangan yang stabil serta terjangkau,” ujarnya.
Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, Bulog berhasil mengamankan pengadaan beras nasional setara beras sebanyak 3,19 juta ton. Angka tersebut berasal dari penyerapan 4,53 juta ton Gabah Kering Panen (GKP), 6.863 ton Gabah Kering Giling (GKG), serta 765.504 ton beras. Capaian penyerapan GKP tersebut menjadi yang tertinggi sejak Bulog berdiri. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi kehadiran langsung Bulog di sentra produksi untuk memastikan gabah petani terserap dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.
Baca juga: Kementan Gerak Cepat Pulihkan Sektor Pertanian Terdampak Banjir
“Penyerapan ini bukan sekadar capaian statistik, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada petani. Ini menjadi fondasi penting menuju penguatan swasembada pangan,” tegas Ahmad Rizal.
Tak hanya beras, Bulog juga memperkuat pasokan komoditas jagung. Sepanjang 2025, pengadaan jagung dalam negeri mencapai 101.968 ton, mayoritas melalui penugasan pelayanan publik (PSO). Langkah tersebut dinilai efektif menjaga harga jagung di tingkat produsen sekaligus memastikan kontinuitas pasokan nasional.
Baca juga: Menaker Dorong Sertifikasi Profesi Lebih Inklusif, Murah, dan Menjangkau Penyandang Disabilitas
Di sisi hilir, Bulog menjalankan peran stabilisasi pasar melalui berbagai skema distribusi. Penyaluran Bantuan Pangan mencapai hampir 785 ribu ton untuk melindungi kelompok masyarakat rentan. Sementara itu, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencatat penyaluran sekitar 795 ribu ton beras dan 51.211 ton jagung guna meredam fluktuasi harga di tingkat konsumen.
“Intervensi pasar dilakukan secara terukur dan terawasi. Prinsipnya menjaga keseimbangan harga tanpa mengganggu mekanisme pasar, sekaligus melindungi konsumen dan petani,” jelasnya.
Baca juga: Dirjen Haji Tegaskan PPIH Harus Hadir Nyata, Layanan Jemaah Jadi Ukuran Keberhasilan
Upaya memperluas akses pangan murah juga dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak yang digelar di 4.337 titik di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Dalam Negeri. Program ini bahkan mengantarkan Bulog meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Dari sisi cadangan, stok PSO Bulog hingga akhir 2025 tercatat sekitar 3,25 juta ton. Angka ini melanjutkan tren positif setelah sebelumnya mencetak rekor stok tertinggi sepanjang sejarah, yakni sekitar 4,2 juta ton pada pertengahan 2025.
Bulog juga menunjukkan perannya dalam respons darurat bencana. Sepanjang tahun lalu, bantuan pangan bencana yang disalurkan di wilayah Sumatera mencapai 14.227 ton, dengan distribusi terbesar ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Ketahanan pangan juga berarti kesiapan negara hadir dalam kondisi darurat. BULOG memastikan bantuan pangan tersedia cepat dan tepat sasaran,” imbuhnya.
Memasuki 2026, Bulog mengemban penugasan strategis penyerapan gabah dan beras setara 4 juta ton. Penugasan ini sekaligus menegaskan kepercayaan pemerintah kepada Bulog sebagai pilar utama stabilisasi pangan nasional. Selain itu, Bulog menyiapkan pembangunan 100 infrastruktur pascapanen untuk memperkuat pengelolaan hasil pertanian dari hulu ke hilir, sekaligus menjaga mutu dan meningkatkan nilai tambah produksi petani.
Baca juga: “Lapor Pak Amran” Bongkar Mafia Pupuk hingga Pangan Ilegal
“Penguatan pascapanen adalah investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional,” pungkas Ahmad Rizal.
Belum ada komentar.
Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.