ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG — Pendekatan pembangunan berbasis kolaborasi mulai menunjukkan hasil nyata di Provinsi Jawa Tengah. Dalam satu tahun pemerintahan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen, Pemprov Jateng mencatat sejumlah indikator makro yang bergerak positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga penyerapan tenaga kerja.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan buah kerja bersama berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten/kota serta kalangan perguruan tinggi. Menurutnya, kompleksitas wilayah dengan 35 daerah otonom menuntut model pemerintahan yang mengedepankan sinergi lintas sektor.
“Gubernur bukan superman, melainkan harus menggunakan super tim. Dengan wilayah yang luas dan beragam, collaborative government menjadi kebutuhan yang harus kita bangun,” ujarnya dalam ajang Anugerah Collaborative Award 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (20/2/2026) malam.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemprov Jateng memberikan penghargaan kepada sejumlah daerah dan kampus yang dinilai berkontribusi aktif dalam pembangunan. Untuk kategori pemerintah daerah, penghargaan diberikan kepada Kabupaten Banyumas, Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Pemalang, Kota Magelang, dan Kabupaten Magelang.
Baca juga: Perbaikan Jalan Semarang–Godong Dikebut, Target Fungsional Sebelum Arus Mudik
Adapun pada kategori perguruan tinggi, penghargaan diraih oleh Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Muria Kudus, UIN Walisongo, Universitas Wahid Hasyim, serta Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Pemprov Jateng sendiri terus memperluas jejaring kerja sama dengan dunia akademik. Sepanjang tahun terakhir, tercatat 44 perguruan tinggi telah bermitra aktif menyumbangkan riset dan gagasan kebijakan. Pada 2026, jumlah tersebut bertambah dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama 73 perguruan tinggi, dan sekitar 123 kampus lainnya disiapkan menyusul.
Pertumbuhan Ekonomi
Dari sisi kinerja ekonomi, Jawa Tengah mencatat pertumbuhan sebesar 5,37 persen sepanjang 2025, melampaui rata-rata nasional. Di sektor pangan, provinsi ini mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung beras nasional dengan produksi padi mencapai sekitar 9,5 juta ton.
Perbaikan juga terlihat pada indikator kesejahteraan. Tingkat kemiskinan tercatat turun menjadi 9,39 persen, dengan jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 3,34 juta orang—berkurang dibandingkan periode Maret 2025 maupun September 2024. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,66 persen.
Baca juga: D’Modifest 2026 Semarang Menggelegar, Panggung Modest Fashion Jateng Siap Tembus Pasar Dunia
Kinerja investasi turut mencatat rekor. Sepanjang 2025, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp88,50 triliun, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Nilai tersebut berasal dari Penanaman Modal Asing sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri Rp37,64 triliun.
Dari total investasi itu, terealisasi 105.078 proyek yang mampu menyerap 418.138 tenaga kerja. Pemerintah provinsi menegaskan bahwa investasi padat karya tetap menjadi prioritas karena dinilai efektif menekan pengangguran, meski peluang investasi padat modal tetap dibuka.
Untuk menjaga momentum, Pemprov Jateng mendorong pemerintah kabupaten/kota memberikan berbagai insentif bagi investor, termasuk relaksasi pajak, terutama bagi proyek yang mengedepankan prinsip ekonomi hijau dan berkelanjutan.