ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO — Momentum Ramadan 1447 Hijriah diproyeksikan kembali mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di Jawa Tengah. Namun di saat yang sama, potensi gangguan ketertiban serta gejolak harga kebutuhan pokok juga menjadi perhatian serius. Hal ini mengemuka dalam dialog radio yang digelar DPRD Provinsi Jawa Tengah di Mitra FM Purwokerto.
Dialog bertema peran DPRD dalam mendorong geliat ekonomi sekaligus menjaga ketertiban umum selama Ramadan itu menghadirkan empat legislator, yakni Agus Widjayanto, Shinta Laila, Edris Santoso, dan Juli Krisdiyanto.
Anggota Komisi A DPRD Jateng, Agus Widjayanto, menilai denyut ekonomi Ramadan sudah mulai terasa bahkan sebelum bulan puasa dimulai. Ia menyebut maraknya pedagang takjil musiman hingga meningkatnya aktivitas pasar tradisional sebagai indikator bergeraknya ekonomi kerakyatan.
“Kita melihat banyak pedagang dadakan bermunculan, tidak hanya ibu rumah tangga tetapi juga mahasiswa. Ini menunjukkan efek berantai yang positif, mulai dari produksi hingga penjualan,” kata Agus.
Menurutnya, fenomena tersebut bukan sekadar peluang ekonomi jangka pendek, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kewirausahaan bagi generasi muda.
Sementara itu, Anggota Komisi E DPRD Jateng, Shinta Laila, menekankan pentingnya pengawasan distribusi dan harga bahan pokok menjelang Idulfitri. Ia mengakui tren kenaikan harga menjelang Lebaran hampir selalu terjadi setiap tahun.
Pihaknya, kata Shinta, akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memantau stok di gudang Bulog maupun pasar tradisional. Jika ditemukan lonjakan harga yang tidak wajar, DPRD akan mendorong pelaksanaan operasi pasar.
“Kami ingin memastikan masyarakat tetap bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Pengawasan akan kami perkuat,” ujarnya.
Jaga Kondusivitas
Baca juga: Perkuat Toleransi di Momentum Imlek, Anggota MPR RI H. Wastam Soroti Ancaman Judi Daring
Di bidang ketertiban umum, Edris Santoso mengingatkan pentingnya menjaga suasana kondusif selama Ramadan. Ia mengimbau pelaku usaha hiburan malam untuk menyesuaikan jam operasional sebagai bentuk toleransi terhadap umat yang menjalankan ibadah puasa.
“Pembatasan jam operasional bukan untuk menghambat usaha, tetapi wujud saling menghormati di bulan suci,” tegasnya.
Edris juga menyoroti masih ditemukannya penggunaan petasan dan aksi perang sarung di sejumlah wilayah. Ia mengingatkan bahwa aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan gangguan keamanan bahkan risiko kecelakaan.
Sementara itu, Sekretaris Komisi A DPRD Jateng, Juli Krisdiyanto, mengangkat isu ketertiban di ruang digital. Ia menilai penyebaran hoaks selama Ramadan perlu diwaspadai karena dapat memicu keresahan publik.
“Masyarakat harus lebih kritis. Pastikan informasi berasal dari sumber resmi pemerintah sebelum dipercaya atau dibagikan,” pesannya.
Baca juga: Perbaikan Jalan Semarang–Godong Dikebut, Target Fungsional Sebelum Arus Mudik
Menutup dialog, para legislator berharap Ramadan tahun ini tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan kestabilan ekonomi di Jawa Tengah. Sinergi antara pemerintah, DPRD, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar suasana Ramadan tetap aman, tertib, dan membawa manfaat luas bagi warga.