Pemkab Banyumas Raih Initiative of the Year ISRA 2026, Inovasi Sampah Terintegrasi Jadi Perhatian Nasional

Berita Advertorial
Caption Foto : Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono menerima penghargaan Initiative of the Year dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Berkat inovasi pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu hingga hilir, Pemkab Banyumas berhasil meraih penghargaan Initiative of the Year dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono dalam rangkaian Awarding of ISRA 2026 yang digelar Prospectus Media di Solo, Kamis malam, (6/8/2026).

Penghargaan Initiative of the Year menjadi apresiasi atas langkah Banyumas dalam mengubah paradigma pengelolaan sampah. Sampah tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Penghargaan Initiative of the Year ini diberikan karena adanya inovasi pengelolaan sampah terintegrasi yang dikembangkan Pemkab Banyumas. Inovasi ini dinilai menunjukkan komitmen dalam menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Sadewo.

Bagi Pemkab Banyumas, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus memperkuat berbagai inovasi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga: Pelemparan Kereta Api di Daop 5, KAI Soroti Aksi Berbahaya yang Masih Terjadi

Caption : Caption Foto : Pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas. (Foto L Dok. DLH Banyumas).

Dari Sampah Menjadi Sumber Daya Bernilai

Sebelum menerima penghargaan, Bupati Sadewo juga tampil sebagai pembicara dalam forum ISRA 2026 dengan memaparkan perjalanan Banyumas dalam membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi. Ia menjelaskan, Banyumas kini mengembangkan konsep waste to value dan waste to money, yakni mengubah sampah menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya dengan melibatkan masyarakat. Sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan,” ujar Sadewo.

Konsep tersebut menjadi bagian dari perubahan besar dalam tata kelola sampah di Banyumas. Pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pengangkutan sampah, melainkan membangun sebuah ekosistem yang melibatkan masyarakat, kelompok swadaya, teknologi digital hingga mitra industri. 

Baca juga: Meresahkan Warga, Polisi Evakuasi ODGJ di Buayan ke Rumah Sakit

Tantangan yang dihadapi Banyumas memang tidak kecil. Berdasarkan data Pemkab Banyumas, timbulan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga di Kabupaten Banyumas mencapai 738,84 ton per hari.

Dari jumlah tersebut, sekitar 574,52 ton per hari atau 77,76 persen telah berhasil dikelola. Sementara sekitar 164,32 ton per hari atau 22,24 persen masih belum tertangani secara optimal. Sampah yang belum terkelola itu tersebar di 15 kecamatan, terutama wilayah perbatasan kabupaten yang masih menggunakan pola pengelolaan secara konvensional. Kondisi tersebut menjadi alasan Pemkab Banyumas terus memperluas jangkauan infrastruktur sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. 

Model yang dikembangkan Banyumas mengusung prinsip upstream to downstream waste management, atau pengelolaan sampah secara menyeluruh dari sumber hingga produk akhir. Pada tahap hulu, masyarakat didorong untuk menjadi bagian penting dalam proses pengelolaan. Pemilahan sampah dimulai dari rumah, sementara sampah organik dapat diolah melalui komposter dan biopori.

Peran bank sampah juga terus diperkuat agar sampah yang masih memiliki nilai dapat kembali masuk ke rantai ekonomi. Untuk memperluas partisipasi masyarakat, Pemkab Banyumas juga memanfaatkan teknologi digital melalui aplikasi Salinmas dan Jeknyong.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah sendirian. Keterlibatan masyarakat menjadi fondasi utama untuk menciptakan sistem yang berjalan secara berkelanjutan. 

Baca juga: Polresta Banyumas Bongkar Penggelapan Uang ATM BRI, Dua Karyawan Jadi Tersangka

Pada tahap pengolahan, sampah ditangani oleh Kelompok Swadaya Masyarakat atau KSM melalui fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan TPS 3R. Model ini sekaligus menciptakan sistem pengelolaan yang lebih mandiri di tingkat masyarakat. Warga memberikan iuran langsung kepada KSM pengelola untuk mendukung operasional pengolahan sampah di wilayah masing-masing.

RDF hingga Paving Block, Sampah Diolah Menjadi Produk Baru

Pada sektor hilir, residu sampah tidak langsung berakhir sebagai limbah. Berbagai teknologi dan inovasi diterapkan untuk mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Hasil pengolahan tersebut antara lain Refuse Derived Fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif industri semen. Selain itu, terdapat Solid Recovered Fuel (SRF) dan biomassa yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti batu bara di PLTU.

Produk lainnya pun terus dikembangkan, mulai dari paving block, pallet plastik, bijih plastik, kompos, maggot hingga kasgot.

Baca juga: Kasus Dugaan Penipuan Pensiunan di Purwokerto Disidangkan, Dika Didakwa Penipuan dan Penggelapan

Pemkab Banyumas juga membangun kerja sama dengan sejumlah mitra industri sebagai pengguna produk hasil pengolahan sampah tersebut. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan produk hasil pengolahan memiliki pasar dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. 

Untuk mempercepat penanganan sampah yang masih belum terkelola, Pemkab Banyumas mengusulkan pembangunan 15 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di sejumlah kecamatan prioritas. Program tersebut ditargetkan mampu menangani sekitar 164 ton sampah per hari yang hingga kini belum tertangani secara optimal.

“Program pembangunan 15 TPST ini diharapkan mampu mengatasi sekitar 164 ton sampah yang belum terkelola setiap hari. Dengan begitu, pelayanan pengelolaan sampah semakin baik, pencemaran lingkungan dapat ditekan, dan Banyumas menjadi daerah yang lebih bersih, sehat, serta berkelanjutan,” tutur Sadewo.

Melalui pengembangan sistem dari hulu hingga hilir, Banyumas menunjukkan bahwa penanganan sampah dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi sirkular dan perlindungan lingkungan. 

Penghargaan Initiative of the Year yang diraih Pemkab Banyumas menjadi bukti bahwa inovasi yang dibangun dari daerah mampu mendapat perhatian di tingkat nasional. Ke depan, penghargaan tersebut diharapkan menjadi pemacu bagi Banyumas untuk terus memperluas inovasi pengelolaan sampah, memperkuat partisipasi masyarakat dan membangun sistem lingkungan yang semakin berkelanjutan.

Baca juga: Rp. 19,07 Triliun Mengarah ke Jateng, CJIBF 2026 Buka Jalan Investasi Baru

Dengan target pembangunan TPST baru, pemanfaatan teknologi, pemberdayaan KSM hingga kerja sama dengan dunia industri, Banyumas terus melangkah menuju satu tujuan besar: menjadikan sampah bukan lagi masalah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: