Banner Utama

Indonesia Kuasai 80 Persen Pasar Nilam Dunia, Kisah Petani Sulawesi Dibawa ParagonCorp ke Forum Internasional di London

EKBIS
By Hermiana E. Effendi  —  On Jun 04, 2026
Caption Foto : ParagonCorp, membawa hasil produksi para petani nilam Sulawesi ke ajang internasional Partnership for Forests Conference (P4F) 2026 yang digelar di Barbican Conservatory, London, Inggris.(Foto : Dok. Paragon).

ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Indonesia selama lebih dari satu abad dikenal sebagai pemasok utama minyak nilam atau patchouli dunia. Di balik dominasi tersebut, terdapat ribuan petani yang menjadi tulang punggung rantai pasok industri parfum global. Kini, kisah mereka mulai mendapat perhatian dunia. Perusahaan kecantikan nasional, ParagonCorp, membawa cerita para petani nilam Sulawesi ke ajang internasional Partnership for Forests Conference (P4F) 2026 yang digelar di Barbican Conservatory, London, Inggris.

Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan global, mulai dari pelaku industri, investor hingga organisasi yang bergerak di bidang keberlanjutan. Dalam kesempatan itu, ParagonCorp menjadi satu-satunya perusahaan kecantikan asal Indonesia yang turut berpartisipasi.

Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa mengatakan, Indonesia saat ini memasok sekitar 80 persen kebutuhan patchouli dunia. Namun, menurutnya, kontribusi besar tersebut belum banyak diiringi dengan pengakuan terhadap peran para petani yang mengelola komoditas bernilai tinggi tersebut.

"Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam rantai pasok patchouli dunia. Namun yang sering terlupakan adalah para petani yang berada di balik komoditas tersebut. Melalui forum ini, kami ingin membawa cerita mereka ke percakapan yang lebih luas," jelasnya, Kamis (4/6/2026).

Rantai Pasok Nilam

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Jumat 5 Juni 2026 Naik atau Turun? Simak Harga UBS, Galeri24 dan Perhiasan

Dalam presentasinya di London, ParagonCorp menyoroti jaringan rantai pasok nilam berkelanjutan yang melibatkan lebih dari 700 petani aktif di Sulawesi. Para petani tersebut tergabung dalam sistem yang telah mengantongi sertifikasi For Life dari Ecocert, sebuah standar yang menekankan aspek keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil pertanian, tetapi juga mencakup pelatihan budidaya, pendampingan kesehatan dan keselamatan kerja, hingga penerapan praktik pertanian yang menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.

Nilam sendiri merupakan bahan baku penting dalam industri parfum internasional. Aroma khas yang dihasilkan minyak nilam menjadikannya salah satu komponen utama dalam berbagai produk wewangian premium. Tingginya permintaan pasar membuat komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia.

Meski demikian, keberlanjutan produksi nilam sangat bergantung pada kondisi tanah dan kesejahteraan petani. Karena itu, ParagonCorp menerapkan pendekatan pertanian regeneratif dalam rantai pasoknya.

Melalui sistem tersebut, lahan yang telah digunakan untuk empat kali masa panen selama kurang lebih 15 bulan akan diistirahatkan melalui rotasi tanaman. Langkah ini dilakukan untuk membantu mengembalikan kesuburan tanah dan menjaga produktivitas pertanian dalam jangka panjang.

Baca juga: Libur Sekolah 2026, Tiket Kereta Ekonomi dari Purwokerto Diskon 30 Persen, Ini Daftar KA dan Syaratnya

Selain itu, limbah hasil penyulingan daun nilam juga dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang kemudian dikembalikan ke lahan sebagai pupuk alami. Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan siklus pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Dr. Sari mengungkapkan bahwa proses produksi minyak nilam membutuhkan kerja yang tidak sedikit. Untuk menghasilkan satu kilogram minyak nilam, dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun segar yang dipanen dan diolah oleh para petani.

"Dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun patchouli segar untuk menghasilkan 1 kilogram minyak. Angka tersebut menunjukkan betapa besar kerja keras para petani dalam menghasilkan bahan yang kemudian digunakan dalam berbagai produk parfum di pasar global," jelasnya.

Partisipasi ParagonCorp dalam konferensi internasional tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun rantai pasok yang lebih transparan, berkelanjutan, dan bertanggung jawab. Sebagai perusahaan beauty tech asal Indonesia, ParagonCorp menegaskan bahwa inovasi produk harus berjalan beriringan dengan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Baca juga: Dikawal Dirjen PKH, BBPTUHPT Baturraden Tancap Gas Menuju Status BLU dan Pusat Peternakan Modern

"Kami menyadari perjalanan ini masih panjang. Namun kami percaya bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah yang dilakukan secara konsisten. Bagi kami, kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan," tutup Sari. (*)

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: