ORBIT-NEWS.COM, CILACAP – Fenomena terdamarnya dua hiu paus dalam waktu berdekatan di pesisir selatan Kabupaten Cilacap memicu perhatian serius kalangan akademisi dan pemerhati lingkungan. Untuk mengungkap penyebab kejadian langka tersebut, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menerjunkan tim peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) guna melakukan investigasi ilmiah secara menyeluruh.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Unsoed dalam mendukung pelestarian ekosistem laut sekaligus membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang diduga memicu keterdamparan hiu paus di kawasan pesisir Jawa Tengah.
Peristiwa terbaru terjadi ketika seekor hiu paus jantan dewasa dengan panjang mencapai 8,36 meter ditemukan terdampar di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Temuan tersebut menjadi sorotan karena hanya berselang sekitar satu pekan setelah hiu paus lain berukuran sekitar 4 meter ditemukan terdampar di wilayah yang sama dengan jarak kurang lebih enam kilometer. Menyikapi kondisi tersebut, tim peneliti Unsoed berkolaborasi dengan Jejaring Penanganan Biota Laut Terdampar Kabupaten Cilacap, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan Yayasan Sealife Indonesia untuk melakukan pengamatan lapangan, pengambilan sampel, hingga analisis laboratorium.
Dosen Ilmu Kelautan FPIK Unsoed, Mukti Trenggono menjelaskan, kondisi oseanografi perairan selatan Jawa saat ini menunjukkan karakteristik yang berpotensi menarik kehadiran hiu paus ke wilayah perairan dangkal. Berdasarkan hasil analisis citra satelit MODIS Aqua pada Mei 2026, perairan Cilacap hingga Kebumen memiliki tingkat konsentrasi klorofil-a yang cukup tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya produktivitas perairan yang menjadi habitat ideal bagi plankton dan ikan-ikan kecil, sumber makanan utama hiu paus.
"Kondisi oseanografi tersebut mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas perairan dan potensi agregasi plankton serta nekton kecil. Hal inilah yang menjadi faktor ekologis pendorong bagi hiu paus untuk mendekati perairan dangkal Cilacap guna berburu sumber makanan utama mereka, seperti udang rebon maupun ikan teri," jelas Mukti.
Dugaan tersebut diperkuat oleh hasil nekropsi yang dilakukan tim gabungan. Dari pemeriksaan lambung hiu paus, ditemukan sejumlah ikan teri nasi yang masih belum tercerna, menandakan satwa tersebut sedang aktif mencari makan sebelum akhirnya terdampar.
Ancaman Pencemaran Laut Jadi Sorotan
Meski faktor ketersediaan pakan diduga menjadi alasan hiu paus mendekati pantai, para peneliti juga menemukan indikasi kuat adanya pengaruh aktivitas manusia terhadap kondisi satwa tersebut. Dalam pemeriksaan bangkai hiu paus, tim menemukan luka yang diduga akibat benturan atau sayatan baling-baling kapal. Selain itu, sampah plastik juga ditemukan di dalam sistem pencernaan satwa laut yang berstatus dilindungi tersebut.
Peneliti FPIK Unsoed, Dr. Nuning Vita Hidayati menyebut, pencemaran laut dan penurunan kualitas perairan berpotensi memengaruhi kesehatan hiu paus hingga menyebabkan gangguan navigasi.
"Penurunan kualitas perairan akibat pencemaran, termasuk akumulasi logam berat, dapat memengaruhi kondisi fisiologis, sistem imun, dan kemampuan navigasi hiu. Gangguan tersebut berpotensi meningkatkan risiko disorientasi, stres lingkungan, bahkan yang terparah dapat menyebabkan keracunan akut yang berkontribusi langsung pada kejadian keterdamparan," ungkapnya.
Baca juga: Polres Kebumen Bongkar Jaringan Narkoba, Sita 38 Gram Sabu dan Ekstasi
Untuk memastikan penyebab pasti kematian dan keterdamparan hiu paus yang terjadi berulang dalam waktu singkat, tim peneliti Unsoed kini melakukan serangkaian pengujian lanjutan di laboratorium. Sejumlah sampel air laut, jaringan biologis, dan data lingkungan yang diambil dari lokasi kejadian telah diamankan untuk dianalisis lebih mendalam. Penelitian tersebut mencakup pengujian kualitas perairan, analisis genetik, hingga kajian oseanografi yang berkaitan dengan pola migrasi dan perilaku hiu paus.
Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran ilmiah yang lebih jelas mengenai faktor penyebab keterdamparan hiu paus di pesisir selatan Jawa. Selain itu, temuan tersebut akan menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan perlindungan habitat serta jalur migrasi hiu paus secara berkelanjutan. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.