ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Tidak ada suara lantunan ayat Al-Qur’an yang terdengar dari ruangan di lantai 5 MG Setos Hotel Semarang. Namun, suasana tetap terasa khidmat ketika sejumlah peserta mulai menggerakkan tangan mereka. Jari, telapak tangan, hingga posisi tangan bergerak mengikuti susunan ayat. Setiap gerakan memiliki makna untuk menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an melalui bahasa isyarat.
Pemandangan tersebut terlihat di MTQ Nasional XXXI Cabang Tartil Al-Qur’an Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli yang berlangsung di MG Setos Hotel Semarang, Selasa (15/9/2026). Bagi peserta tuli, membaca Al-Qur’an dilakukan dengan cara yang berbeda. Jika umumnya bacaan Al-Qur’an disampaikan melalui suara, mereka menggunakan gerakan tangan sebagai media untuk menyampaikan ayat.
Salah satu peserta yang mengikuti eksibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat adalah Aisyah Syerviyah dari Kafilah Provinsi Jawa Timur. Menurut pendamping kafilah, Innik Hikmatin, Aisyah telah menjalani lima kali latihan sebelum tampil dalam MTQ Nasional XXXI. Latihan dilakukan di Balai Disabilitas dengan fokus pada penguasaan materi sekaligus memastikan ketepatan bahasa isyarat yang digunakan. Persiapan tersebut menjadi bagian penting karena setiap gerakan tangan harus mampu merepresentasikan huruf dan harakat dalam Al-Qur’an secara tepat.
Bagi Aisyah, tampil dalam ajang tersebut bukan hanya tentang mendapatkan juara. Kesempatan untuk berpartisipasi dan membawa semangat Al-Qur’an melalui bahasa isyarat menjadi pengalaman yang patut disyukuri.
"Menang ataupun tidak bukan masalah, yang terpenting semangat Al-Qur’an," ujarnya sebelum tampil.
Baca juga: Dua Kebakaran Lahan Melanda Kebumen, 5,7 Hektare Terbakar dalam Sehari
Semangat yang sama juga terlihat dari peserta asal Kafilah Provinsi Banten, Azaroby Dwi Anggoro. Meski sempat merasa gugup tampil di hadapan banyak orang, dia berusaha mengendalikan diri agar dapat menyelesaikan penampilannya dengan baik.
"Ada deg-degan sedikit, grogi juga ada, sampai keringetan," ungkap Azaroby seusai turun dari panggung.
Azaroby mengaku telah mempersiapkan diri selama sekitar dua pekan sebelum mengikuti perlombaan. Dia mempelajari satu per satu surat yang menjadi materi dalam cabang Tartil Al-Qur’an Isyarat. Dukungan dari keluarga juga menjadi salah satu sumber semangatnya sebelum tampil di hadapan dewan juri.
Gunakan Metode Kitabah dan Tilawah
Ketua Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI), Rama Syahti mengatakan, keikutsertaan peserta tuna rungu dalam MTQ Nasional XXXI menjadi momentum penting bagi komunitas tuli muslim di Indonesia. Dalam cabang Tartil Al-Qur’an Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli, terdapat 28 peserta yang berasal dari 14 komunitas tuli muslim dari sejumlah daerah.
Baca juga: Sekda Jateng Ingatkan Pentingnya Arsip: Hari Ini Disimpan, Besok Bisa Jadi Data Berharga
"Alhamdulillah ini adalah MTQ Nasional pertama yang melibatkan teman tuli, dan tentunya kami lihat peserta sangat bersemangat, pendamping sangat bersemangat," kata Rama di lokasi.
Rama menjelaskan, terdapat dua metode yang digunakan dalam Tartil Al-Qur’an Isyarat, yaitu kitabah dan tilawah. Pada metode kitabah, bahasa isyarat mengikuti tulisan Al-Qur’an. Metode ini tidak terlalu menekankan penerapan hukum tajwid secara mendalam sehingga relatif lebih mudah dipelajari dan digunakan oleh peserta tuli.
"Sehingga untuk teman-teman tuli kebanyakan ini akan sangat mudah, tidak sulit untuk dipelajari dan diisyaratkan," jelasnya.
Sementara itu, metode tilawah menggunakan bahasa isyarat yang disesuaikan dengan ucapan atau cara membaca Al-Qur’an. Dalam metode ini, unsur hukum tajwid turut diperhatikan.
Untuk penilaian, ketepatan isyarat menjadi salah satu aspek utama. Bentuk tangan yang digunakan harus sesuai dengan huruf yang disampaikan.
Selain bentuk tangan, gerakan harakat juga harus dilakukan secara tepat. Adab peserta ketika tampil juga menjadi bagian dari penilaian. Sedangkan gerakan mulut tidak termasuk dalam komponen penilaian. Peserta boleh menggerakkan mulut atau tidak, sesuai dengan kenyamanan masing-masing dan tidak memengaruhi nilai.
Rama menegaskan, Al-Qur’an diperuntukkan bagi seluruh manusia, tetapi cara mengakses dan membacanya dapat berbeda sesuai dengan kebutuhan.
"Contoh Al-Qur’an, ini kan untuk seluruh manusia tapi aksesnya berbeda-beda. Orang dengar dia menggunakan suara membaca Qur’an begitu. Orang netral pakai Al-Qur’an braille ya. Nah, kalau tuli pakai Qur’an isyarat," terangnya.
Kehadiran cabang Tartil Al-Qur’an Isyarat dalam MTQ Nasional XXXI di Semarang menjadi ruang bagi peserta tuli untuk menunjukkan bahwa keterbatasan pendengaran bukan penghalang dalam mempelajari, membaca, dan mengekspresikan kecintaan terhadap Al-Qur’an. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.