ORBIT-NEWS.COM, BANJARNEGARA – Perajin tikar pandan di Dusun Mawangi, Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, masih menghadapi persoalan rendahnya harga jual produk dan ketergantungan terhadap pengepul lokal. Saat ini, satu lembar tikar pandan berukuran 125 x 175 sentimeter hanya dihargai sekitar Rp28.000 di tingkat perajin.
Padahal, proses pembuatan satu tikar membutuhkan waktu hingga beberapa hari, mulai dari pengadaan bahan baku, pemotongan, penghalusan daun pandan, penjemuran hingga proses menganyam.
Selain harga jual yang rendah, perajin juga menghadapi persoalan modal. Sebagian warga meminjam uang atau mengambil kebutuhan sehari-hari secara utang kepada pengepul. Pembayaran kemudian dilakukan dengan menyerahkan hasil produksi tikar.
“Umpama ora duwe, ya nyilih dhisit. Mengko dituker karo klasa,” ujar salah satu perajin, Mbah Wariem (70).
Sistem tersebut membuat perajin memiliki ketergantungan terhadap pengepul karena hasil anyaman harus disalurkan kepada pihak yang sama. Akibatnya, perajin memiliki keterbatasan untuk mencari pembeli lain maupun menentukan harga jual sendiri.
Baca juga: Polresta Banyumas Bongkar Penggelapan Uang ATM BRI, Dua Karyawan Jadi Tersangka
Biaya Bahan Baku Jadi Kendala
Ketua RT setempat, Siswandi mengatakan, biaya bahan baku juga menjadi salah satu persoalan. Harga satu gulung daun pandan dapat mencapai Rp80.000, sedangkan bahan tersebut hanya cukup untuk menghasilkan sekitar enam hingga delapan lembar tikar.
Pemerintah dan warga sebelumnya telah mencoba mengembangkan produk olahan lain berbahan pandan, seperti tas, dompet dan tempat tisu. Namun, pengembangan tersebut belum berjalan optimal karena terkendala pemasaran.
“Pengrajin kalau disuruh bikin produk lain sebenarnya bisa, tapi menjualnya yang tidak bisa. Pengepul tidak mau menampung selain tikar. Yang mengajari dulu tidak bertanggung jawab untuk akses pasarnya,” kata Siswandi.
Kepala Desa Somawangi, Sigro Pranantyo mengatakan, pemerintah desa terus berupaya mempertahankan keberadaan kerajinan tikar pandan dan pudak sebagai bagian dari tradisi sekaligus sumber penghasilan warga. Menurut dia, kerajinan tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi keluarga di Dusun Mawangi, terutama bagi ibu rumah tangga.
Baca juga: Kasus Dugaan Penipuan Pensiunan di Purwokerto Disidangkan, Dika Didakwa Penipuan dan Penggelapan
“Kami bersyukur, roda ekonomi ini digerakkan oleh para pengepul lokal, warga kita sendiri, yang benar-benar memahami karakter, kerja keras, dan kebutuhan para pengrajin di lapangan,” katanya.
Pemerintah Desa Somawangi, lanjut Sigro, juga akan terus mendorong keterlibatan generasi muda agar keterampilan menganyam pandan tetap bertahan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kabupaten Banjarnegara melalui Kepala Bidang Perindustrian, Yusep Handoko, mengatakan pemerintah daerah siap memberikan pendampingan kembali kepada para perajin. Menurut Yusep, pembinaan terhadap perajin tikar pandan Mawangi sebenarnya pernah dilakukan. Pada 2022, para perajin difasilitasi mengikuti magang dan pelatihan selama tiga hari di Tasikmalaya.
“Kami sangat menyambut baik jika para perajin kembali mengajukan permohonan pendampingan. Prinsipnya, kami siap kembali membina dan memfasilitasi mereka, khususnya dalam penguatan kapasitas produksi, perluasan jejaring pemasaran, serta pelatihan lanjutan agar para perajin memiliki daya saing dan kemampuan pemasaran digital yang lebih baik,” katanya.
Pemkab Banjarnegara berharap pembinaan dan perluasan akses pasar dapat meningkatkan nilai ekonomi kerajinan tikar pandan khas Mawangi sehingga produk tradisional tersebut mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan penghasilan yang lebih layak bagi para perajinnya. (*)
Baca juga: UIN Saizu Buka KIP Kuliah 2026, 315 Mahasiswa Berpeluang Dapat Bantuan Pendidikan
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.