ORBIT-NEWS.COM, PURBALINGGA – Pengelolaan sampah di tingkat kelurahan dan desa di Kabupaten Purbalingga terus diperkuat. Pemkab Purbalingga memberikan bantuan kendaraan bermotor listrik roda tiga kepada kelompok-kelompok pengelola sampah untuk mempercepat pengangkutan sekaligus memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat.
Salah satu penerima bantuan adalah KSM Resik Kelurahan Kedungmenjangan. Sebelumnya, para pengelola sampah di wilayah tersebut masih mengandalkan gerobak dorong. Untuk mengangkut sampah warga, mereka bahkan harus berulang kali menempuh perjalanan.
“Sekali narik sampah biasanya sampai tiga kali bolak-balik. Dalam satu hari bisa tiga kali narik gerobak,” ujar Trino dari KSM Resik usai menerima bantuan kendaraan, Senin (24/8/2026).
Bantuan kendaraan listrik roda tiga ini diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan sarana yang selama ini dihadapi kelompok pengelola sampah. KSM Resik saat ini melayani sekitar 600 kepala keluarga yang tersebar di tujuh RT di Kelurahan Kedungmenjangan.
Dari wilayah tersebut, sampah yang dikelola mencapai sekitar 1,5 ton setiap bulan. Dengan adanya kendaraan baru, KSM Resik kini menargetkan perluasan layanan hingga 12 RT atau seluruh wilayah Kelurahan Kedungmenjangan.
Baca juga: Bukan Sekadar Bermain, Ini Manfaat Main Bola untuk Anak Laki - Laki
Kendaraan listrik yang diberikan memiliki kapasitas angkut hingga 380 kilogram. Dalam sekali pengisian daya, kendaraan tersebut mampu menempuh jarak sekitar 51 kilometer dengan biaya pengisian sekitar Rp3.000. Dengan biaya operasional yang relatif murah, kendaraan itu diharapkan membuat proses pengangkutan sampah dari rumah-rumah warga menjadi lebih cepat dan efisien.
Tidak hanya KSM Resik, bantuan serupa juga diserahkan kepada sembilan kelompok pengelola sampah lainnya. Penerima bantuan terdiri atas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Kelompok Pengelola Sampah (KPS), dan bank sampah yang aktif menjalankan pengelolaan sampah serta belum pernah menerima bantuan kendaraan roda tiga.
Tingkatkan Kapasitas Pelayanan
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLHPKP Purbalingga, Nurdin Luthofa, mengatakan kendaraan tersebut diberikan untuk memperkuat pelayanan pengumpulan sampah langsung dari sumbernya.
“Harapannya bantuan kendaraan ini dapat meningkatkan kapasitas pelayanan dalam pengumpulan dan pengelolaan sampah serta memperluas jangkauan pelayanan,” katanya.
Baca juga: Sampah Jadi Energi, Jateng Raih Penghargaan Berkat Strategi Pengelolaan Berbasis Kawasan
Penguatan kelompok pengelola sampah di tingkat desa dan kelurahan menjadi bagian penting dari strategi Pemkab Purbalingga dalam menangani persoalan sampah. Sebab, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari cukup besar, sementara tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Purbalingga, Mukodam mengungkapkan, potensi sampah di Kabupaten Purbalingga mencapai sekitar 500 ton setiap hari. Namun, sampah yang masuk ke TPA Kalipancur baru sekitar 115 ton per hari. Selebihnya ditangani melalui berbagai jalur, mulai dari pemulung, bank sampah, hingga fasilitas pengelolaan seperti TPS3R yang dijalankan KSM dan KPS.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan TPA. Peran kelompok masyarakat yang berada dekat dengan sumber sampah menjadi semakin penting untuk melakukan pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan.
“Peran panjenengan sungguh sangat penting membantu membersihkan Purbalingga dari sampah dan menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Mukodam.
Pemkab Purbalingga sendiri telah memasang target besar dalam pengelolaan sampah. Pada 2028 mendatang, pemerintah menargetkan TPA Kalipancur hanya menerima residu atau sisa akhir dari proses pengolahan sampah. Artinya, sampah yang masih memiliki nilai guna diharapkan sudah selesai dipilah dan diolah di tingkat masyarakat, KSM, KPS, maupun TPS3R sebelum residunya dikirim ke TPA.
Baca juga: Kekerasan Perempuan dan Anak di Banyumas-Cilacap Jadi Sorotan, Setya Ari Dorong Ketahanan Keluarga
Untuk mendukung target tersebut, DLHPKP Purbalingga meluncurkan dua gerakan, yakni SIPLAH atau Siap Pilah Olah Sampah dan ORBIT atau Organik Bersih Terolah. Melalui program SIPLAH, masyarakat didorong membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah. Sampah anorganik seperti botol plastik yang telah dipisahkan dapat dikumpulkan melalui drop box sebelum dikelola oleh bank sampah dan dijual kepada pengepul.
Saat ini telah tersedia 20 unit drop box sebagai tahap awal program. Sebanyak satu unit disediakan oleh DLHPKP, sedangkan 19 unit lainnya merupakan dukungan program tanggung jawab sosial atau CSR dari dunia usaha. Drop box tersebut akan didistribusikan ke sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Purbalingga. Ke depan, fasilitas serupa juga direncanakan tersedia secara bertahap di sekolah, hotel, rumah sakit, kawasan pertokoan, dan berbagai fasilitas umum lainnya.
Sementara itu, melalui gerakan ORBIT, perhatian diarahkan pada penanganan sampah organik. Daun, hasil pangkasan pohon, hingga sisa makanan didorong untuk tidak langsung dibuang, melainkan diolah menjadi kompos. Sebagai langkah percontohan, DLHPKP Purbalingga telah membangun dan memanfaatkan dua unit sumur resapan biopori untuk membantu pengolahan sampah organik. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.