ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan hasil analisis kondisi cuaca dan perairan saat sejumlah kecelakaan kapal motor terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Meski sebagian besar lokasi kejadian dilaporkan berada dalam kondisi cerah hingga berawan tanpa hujan, kekuatan angin, tinggi gelombang, dan arus laut menunjukkan karakteristik yang berbeda-beda.
Data tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, analisis teknis dilakukan untuk memberikan gambaran faktual mengenai kondisi atmosfer dan laut di sekitar lokasi kecelakaan. Parameter yang dikaji mencakup cuaca, kecepatan dan arah angin, tinggi gelombang, hingga arus permukaan laut.
“Data ini kami hadirkan sebagai dukungan faktual untuk mendukung proses evaluasi dan koordinasi keselamatan pelayaran,” ujar Faisal.
Salah satu insiden yang menjadi perhatian adalah kecelakaan KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, pada 2 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB.
Berdasarkan analisis BMKG, cuaca di sekitar lokasi kejadian berada dalam kondisi cerah hingga berawan. Citra radar cuaca Surabaya pada periode pukul 06.03 hingga 07.33 WIB juga tidak menunjukkan adanya hujan di wilayah sekitar kejadian.
Baca juga: Logo Mandiri Hilang dari Gedung Thamrin, Ada Apa??
Namun, kondisi angin saat itu berada pada kategori sedang hingga kencang dengan kecepatan sekitar 15–20 knot dari arah timur-tenggara. Gelombang laut tercatat memiliki ketinggian sekitar 1,25–1,5 meter atau masuk kategori sedang.
BMKG juga mencatat arus permukaan laut bergerak dengan kecepatan sekitar 0,6–1,6 knot menuju arah barat hingga barat laut. Data tersebut kemudian menjadi salah satu bahan pendukung dalam perencanaan operasi pencarian dan pertolongan.
Sebelum kejadian, BMKG telah menyebarkan prakiraan cuaca maritim wilayah tersebut kepada para pemangku kepentingan melalui sejumlah kanal informasi, mulai dari media elektronik, situs resmi, media sosial, hingga aplikasi percakapan. Dalam penanganan insiden, BMKG turut terlibat dalam rapat yang dipimpin Menteri Perhubungan, koordinasi lanjutan pencarian dan pertolongan, serta mendukung operasi SAR gabungan.
KMP Putri Yasmin Dihadapkan Gelombang hingga 3 Meter dan Arus Kencang
Kondisi perairan yang lebih dinamis ditemukan BMKG saat menganalisis insiden KMP Putri Yasmin di Pantai Sekotong, perairan Lombok, pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 04.15 WITA.
Baca juga: Haedar Nashir Raih Penghargaan Achmad Bakrie 2026
Citra satelit Himawari pada pukul 04.00 WITA menunjukkan kondisi cuaca secara umum cerah hingga berawan. Tidak ada indikasi hujan yang terpantau di sekitar lokasi kejadian. Kecepatan angin saat itu berkisar 5–15 knot dari arah tenggara. Meski demikian, tinggi gelombang laut mencapai sekitar 2–3 meter, sehingga masuk kategori sedang hingga tinggi.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah arus permukaan laut. BMKG mencatat arus bergerak dengan kecepatan sekitar 2–4 knot atau berada dalam kategori kencang hingga sangat kencang, dengan arah dominan menuju selatan hingga barat.
Analisis berikutnya dilakukan terhadap insiden KMP Nurul Salsa di perairan Pulau Kalatoa, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 15 Juli 2026 sekitar pukul 11.10 WITA.
Berdasarkan citra satelit Himawari pada pukul 11.00 WITA, kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian terpantau cerah hingga cerah berawan. BMKG tidak menemukan indikasi hujan pada periode tersebut. Angin bertiup dari arah timur laut hingga timur dengan kecepatan sekitar 15–20 knot. Sementara tinggi gelombang berada pada kisaran 1,25–2,5 meter dan masuk kategori sedang.
Arus permukaan laut juga tercatat cukup kuat, dengan kecepatan sekitar 0,9–1,6 knot. Arah pergerakan arus dominan menuju barat daya hingga barat.
Baca juga: Karhutla Jadi Ancaman, Polri Ingatkan Pembakaran Sampah Bisa Berujung Bencana
Berbeda dengan tiga lokasi lainnya, kondisi perairan di sekitar Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, saat insiden kapal motor penumpang Prince Soya terjadi pada 1 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 WITA relatif lebih tenang.
Berdasarkan pemantauan citra satelit dan radar cuaca, langit di sekitar lokasi berada dalam kondisi cerah hingga berawan tanpa adanya hujan. Kecepatan angin juga tergolong lemah, yakni sekitar 4–5 knot, dengan arah bertiup dari timur hingga tenggara.
Dari empat insiden kapal tersebut, BMKG mencatat pola yang menarik. Cuaca di sebagian besar lokasi kejadian memang didominasi kondisi cerah hingga berawan tanpa hujan. Namun, kondisi laut tidak selalu sama karena kekuatan angin, tinggi gelombang, dan kecepatan arus berbeda di setiap wilayah.
Faisal menegaskan, data yang dipaparkan BMKG hanya memberikan gambaran kondisi meteorologi dan oseanografi pada waktu serta lokasi terjadinya kecelakaan.
“Informasi ini menggambarkan kondisi meteorologi dan oseanografi pada saat, waktu, dan lokasi kejadian, dan tidak dimaksudkan untuk menetapkan penyebab terjadinya kecelakaan. Untuk penetapan penyebab kecelakaan, tentunya menjadi kewenangan lembaga yang berwenang, termasuk KNKT,” tegasnya.
Baca juga: Karhutla Mengganas di Dua Daerah, BNPB Catat Ratusan Hektare Lahan Terbakar
Hasil analisis tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat sistem keselamatan pelayaran. BMKG menekankan pentingnya pemanfaatan informasi cuaca maritim dan kondisi perairan sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko sebelum kapal melakukan pelayaran. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.