ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Jawa Tengah, Pemprov Jawa Tengah terus memperkuat pembangunan infrastruktur sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, pembangunan infrastruktur tidak hanya difokuskan pada jalan dan jembatan, tetapi juga embung serta sarana pengairan pertanian yang berperan penting dalam menjaga produktivitas pangan.
Berbagai pembangunan tersebut diarahkan untuk memperlancar mobilitas masyarakat, menekan biaya logistik, membuka akses antardaerah, sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi dan pariwisata Jawa Tengah.
Hingga akhir 2025, tingkat kemantapan jalan provinsi mencapai 94,01 persen. Angka tersebut setara dengan 2.293,96 kilometer dari total panjang jalan provinsi yang mencapai 2.440,12 kilometer. Sementara itu, panjang jembatan provinsi dalam kondisi mantap tercatat 22.733,45 meter atau 85,43 persen.
Sejumlah ruas strategis juga telah mendapatkan preservasi, di antaranya Jalan Parakan–Patean yang menghubungkan Temanggung dan Kendal serta Jalan Wonosobo–Dieng yang menjadi akses penting menuju kawasan wisata Dieng.
Baca juga: Rp. 19,07 Triliun Mengarah ke Jateng, CJIBF 2026 Buka Jalan Investasi Baru
Kedua ruas tersebut dikerjakan pada Juli–Desember 2025 dan diresmikan pada 2026. Perbaikan infrastruktur itu diharapkan semakin memperlancar aktivitas masyarakat sekaligus mendukung perekonomian dan pariwisata.
“Terima kasih atas perbaikan jalan yang sudah dilakukan. Itu sangat bermanfaat dalam mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat. Semoga jalan di titik lain juga dibangun agar semua ikut merasakan pembangunan yang dilakukan,” ujar Kepala Desa Ngadirejo, Muhammad Abdillah Al Kafi.
Memasuki 2026, Pemprov Jawa Tengah kembali menghadapi tantangan terhadap kondisi jalan. Hingga triwulan II-2026, tingkat kemantapan jalan provinsi tercatat 87,79 persen. Curah hujan tinggi pada triwulan pertama menjadi salah satu faktor yang menyebabkan lapisan aspal di sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan.
Percepatan Rehabilitasi Jalan
Ahmad Luthfi kemudian mengarahkan percepatan rehabilitasi jalan dengan dukungan tambahan anggaran. Penanganan diprioritaskan pada ruas yang menjadi jalur utama mobilitas masyarakat, distribusi barang, penggerak ekonomi, serta akses menuju kawasan pariwisata.
Baca juga: DPU Banyumas Ingatkan Pentingnya PBG dan SLF, Legalitas Bangunan Dukung Keamanan dan Kenyamanan
Sejumlah ruas yang telah mendapat peningkatan dan rehabilitasi pada 2026 antara lain Singget–Doplang–Cepu di Blora, Jepara–Keling di Jepara, Wiradesa–Kajen di Pekalongan, serta jalur penyelamat Kalijambe yang menghubungkan Magelang dan Purworejo.
Penanganan juga menyasar sejumlah ruas di Brebes, Pemalang, Batang, serta Randublatung–Cepu di Blora. Di Wonogiri, pembangunan dilakukan pada ruas Ngadirojo–Biting dan Ngadirojo–Giriwoyo yang berada di kawasan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Terima kasih pada Pak Gubernur mengalokasikan pembangunan jalan di Wonogiri. Setelah jadi, bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan warga,” kata Kepala DPUPR Kabupaten Wonogiri, Prihadi Ariyanto.
Tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah provinsi, pembangunan infrastruktur juga diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah pusat. Pada 2025, program Inpres Jalan Daerah (IJD) telah menyelesaikan 30 paket pekerjaan dengan total penanganan mencapai 132,62 kilometer yang tersebar di 19 kabupaten/kota.
Untuk 2026, Pemprov Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota juga telah mengusulkan penanganan jalan sepanjang 36,30 kilometer dan jembatan sepanjang 249,70 meter kepada pemerintah pusat. Ahmad Luthfi menegaskan, pembangunan jalan memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memperbaiki infrastruktur fisik.
“Jalan ini kita bangun bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman. Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah meningkat dan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.
Di sisi lain, pembangunan embung menjadi bagian penting dari strategi Jawa Tengah dalam memperkuat sektor pertanian. Sepanjang 2025, sebanyak delapan embung baru dibangun dan dua embung direvitalisasi. Hingga awal 2026, Ahmad Luthfi juga telah meresmikan 12 embung yang tersebar di berbagai daerah.
Salah satunya Embung Kerangjati di Blora yang memberikan manfaat bagi lahan pertanian sekitar 40 hektare. Sebelum embung dibangun, petani setempat lebih banyak mengandalkan air hujan sehingga hanya mampu menanam padi satu kali dalam setahun. Setelah embung tersedia, pola tanam dapat ditingkatkan hingga tiga kali dalam setahun.
“Sumber air di sini tadah hujan. Tanam padi cuma sekali, kalau coba dua kali banyak gagalnya karena kurang air. Dengan bantuan embung ini bisa menanam sampai tiga kali,” ujar perwakilan Kelompok Tani Sidodadi Kelurahan Karangjati, Karyono.
Ahmad Luthfi mengatakan ketersediaan air merupakan salah satu kunci utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Karena itu, pembangunan embung diarahkan untuk menampung air hujan agar dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau.
Baca juga: Antisipasi Aksi Aliansi BEM, Polda Jateng Siagakan Ratusan Polwan Negosiator
“Dalam pertanian itu kuncinya air. Orang menanam itu kuncinya air. Oleh karena itu kita bangun embung untuk menampung air hujan supaya saat kemarau masih bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah,” kata Ahmad Luthfi saat meresmikan Embung Plosorejo di Desa Guworejo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.
Momentum HUT Jateng ke-81 menjadi penanda bahwa pembangunan infrastruktur terus diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat. Jalan yang semakin terkoneksi, jembatan yang lebih aman, serta embung yang mampu menjaga ketersediaan air diharapkan menjadi modal penting untuk mendorong ekonomi, pariwisata, dan ketahanan pangan Jawa Tengah secara berkelanjutan. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.