ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Di tengah geliat pertokoan modern di kawasan Kebondalem, Kota Purwokerto, keberadaan pasar tradisional masih bisa ditemukan. Pasar Sarimulyo menjadi salah satu pasar legendaris yang hingga kini tetap bertahan, meski aktivitas jual beli di dalamnya tidak seramai dahulu.
Pasar Sarimulyo sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Pasar yang berada di kawasan pusat kota tersebut mulai mengalami penurunan aktivitas. Sebagian besar pedagang memilih menutup los mereka. Namun, sebagian lainnya masih bertahan dan terus menjalankan usaha, meski jumlah pembeli yang datang tidak sebanyak sebelumnya.
Menariknya, meski banyak los yang sudah tidak digunakan untuk berjualan, para pedagang Pasar Sarimulyo masih tertib dalam membayar retribusi. Kondisi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa para pedagang masih memiliki harapan terhadap keberlangsungan pasar tradisional tersebut.
Staf Administrasi Pasar Sarimulyo, Ika Setiani mengatakan, saat ini terdapat 179 los dan sembilan kios di Pasar Sarimulyo. Namun, hanya sebagian kecil pedagang yang masih aktif berjualan setiap hari. Pada pagi hari, misalnya, hanya sekitar empat pedagang sayuran yang masih membuka dagangan. Sementara pedagang ikan laut yang masih berjualan berjumlah sekitar lima orang.
Aktivitas perdagangan tersebut berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Pedagang sayuran biasanya mulai berjualan sejak pagi hingga sekitar pukul 10.00 WIB, sedangkan pedagang ikan laut masih melayani pembeli hingga sekitar pukul 12.00 WIB.
Baca juga: Pelemparan Kereta Api di Daop 5, KAI Soroti Aksi Berbahaya yang Masih Terjadi
“Pedagang sayur berjualan sejak pagi sampai jam 10.00 WIB, kalau pedagang ikan laut masih ramai sampai jam 12.00 WIB. Pasar Sarimulyo terkenal dengan seafoodnya, jadi pedagang sudah punya pelanggan tetap,” tutur Ika dalam perbincangan bersama Orbit-News.com, Rabu (12/8/2026).
Memasuki siang hari, suasana Pasar Sarimulyo kembali berubah. Pedagang bordir, sepatu, tas dan topi mulai membuka lapak hingga sore hari sekitar pukul 16.00 WIB.
Setelah aktivitas perdagangan sore berakhir, pasar kembali sepi. Namun, suasana berbeda justru muncul pada malam hari. Area depan Pasar Sarimulyo dimanfaatkan untuk aktivitas kuliner seafood yang hingga kini masih memiliki banyak pelanggan.
Kondisi tersebut membuat Pasar Sarimulyo tetap memiliki denyut aktivitas meski tidak seramai pasar tradisional lainnya di Kabupaten Banyumas.
Baca juga: Meresahkan Warga, Polisi Evakuasi ODGJ di Buayan ke Rumah Sakit
Sepi Sejak Terminal Kebondalem Ditutup
Ika menjelaskan, perubahan aktivitas Pasar Sarimulyo mulai terasa sejak Terminal Kebondalem ditutup pada Tahun 2017. Sebelumnya, keberadaan pasar yang berada di kawasan tersebut turut mendapatkan keuntungan dari mobilitas masyarakat. Setelah terminal tidak lagi beroperasi, jumlah orang yang datang ke sekitar pasar ikut berkurang.
Sebagian kecil pedagang memilih bertahan dengan membuka losnya. Namun, lebih banyak pedagang yang akhirnya menutup tempat usaha mereka. Meski tidak lagi aktif berjualan, para pedagang tersebut tetap tertib membayar retribusi pasar. Bahkan ketika terjadi kenaikan retribusi, kewajiban tersebut tetap dipenuhi.
“Saat ada kenaikan retribusi, target kita Rp11 juta per bulan dan itu tercapai, meskipun banyak los yang tutup. Setelah retribusi kembali turun, per bulan kita mendapatkan sekitar Rp5 juta dari setoran retribusi pasar,” kata Ika.
Kepatuhan pedagang dalam membayar retribusi tersebut menjadi hal menarik di tengah kondisi pasar yang relatif sepi. Di balik pembayaran retribusi, terdapat harapan agar keberadaan Pasar Sarimulyo tetap dipertahankan dan suatu saat mendapatkan penataan yang lebih baik.
Baca juga: Polresta Banyumas Bongkar Penggelapan Uang ATM BRI, Dua Karyawan Jadi Tersangka
Harapan tersebut juga disampaikan salah seorang pedagang yang masih bertahan membuka losnya, Apet. Menurutnya, sebagian pedagang yang saat ini tidak lagi berjualan tetap mempertahankan kewajiban membayar retribusi karena berharap keberadaan los mereka tetap diakui dan tidak hilang ketika Pasar Sarimulyo nantinya direvitalisasi.
“Harapannya ada revitalisasi, pasar ditata lebih bagus, lebih terlihat dari jalan, pintu masuk tidak tertutup bangunan kantor pasar, sehingga pasar kembali ramai. Karena itu, mereka masih tertib bayar retribusi,” tuturnya.
Apet sendiri memilih tetap membuka los karena sudah memiliki pelanggan. Pedagang asal Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas tersebut, sebelumnya menjalankan usaha bordir di kawasan belakang Matahari. Setelah lokasi usaha tersebut tidak lagi digunakan, Apet kemudian pindah ke Pasar Sarimulyo. Meski berpindah tempat, sejumlah pelanggan lamanya masih tetap datang dan menggunakan jasanya.
Kondisi tersebut menjadi alasan Apet untuk terus membuka los setiap hari, meski kondisi pasar tidak seramai dahulu.
Baca juga: Kasus Dugaan Penipuan Pensiunan di Purwokerto Disidangkan, Dika Didakwa Penipuan dan Penggelapan
Revitalisasi Pasar Sarimulyo Diusulkan dalam Anggaran 2027
Harapan pedagang untuk melihat Pasar Sarimulyo kembali ramai mendapat perhatian dari Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan (DKUKMP) Kabupaten Banyumas. Kepala DKUKMP Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi SE mengatakan, revitalisasi Pasar Sarimulyo menjadi salah satu wacana yang ingin diwujudkan.
Menurut Gatot, posisi Pasar Sarimulyo yang berada di pusat kota sekaligus berdampingan dengan kawasan pertokoan modern menjadi tantangan tersendiri. Pasar tersebut telah berdiri sejak lama, jauh sebelum terdapat ketentuan yang mengatur jarak antara pasar tradisional dan pasar modern.
“Pasar ini berdirinya sudah lama, saat belum ada ketentuan yang mengatur jarak pasar tradisional dengan pasar modern. Dan keberadaan pasar di tengah pusat perputaran ekonomi perbelanjaan modern ini, menjadi tantangan tersendiri untuk bisa meramaikan kembali Pasar Sarimulyo, terlebih dengan kondisi bangunan yang desainnya kurang menjual,” terangnya.
Menurut Gatot, persoalan Pasar Sarimulyo bukan sekadar bagaimana meningkatkan pendapatan pasar. Lebih dari itu, pihaknya harus memastikan para pedagang tetap mendapatkan kesempatan untuk menjalankan usaha dengan dukungan sarana dan prasarana yang layak. Penataan kembali juga harus dilakukan dengan memperhatikan keberadaan para pedagang yang selama ini telah menjadi bagian dari Pasar Sarimulyo.
Baca juga: Rp. 19,07 Triliun Mengarah ke Jateng, CJIBF 2026 Buka Jalan Investasi Baru
Gatot menegaskan, dalam proses penataan nantinya tidak boleh ada pedagang yang dirugikan. Terlebih, para pedagang selama ini tetap menunjukkan kepatuhan dalam membayar retribusi meski aktivitas perdagangan di pasar mengalami penurunan.
“Pasar Sarimulyo punya sejarah yang panjang, jadi jangan sampai hilang. DKUKMP Banyumas sudah lama ingin mengusulkan revitalisasi pasar tersebut, tetapi karena keterbatasan anggaran daerah, maka belum terlaksana. Tetapi, kita akan usulkan di anggaran 2027 nanti,” tuturnya.
Keberadaan Pasar Sarimulyo menjadi gambaran bahwa perkembangan pusat kota tidak selalu harus menghilangkan wajah pasar tradisional. Di tengah pertumbuhan pertokoan modern di kawasan Kebondalem, Pasar Sarimulyo masih menyimpan cerita panjang para pedagang yang memilih bertahan. Ada pedagang sayur, ikan laut, bordir, sepatu, tas hingga kuliner seafood yang tetap menjaga aktivitas pasar tetap hidup.
Revitalisasi diharapkan bukan hanya mempercantik bangunan, tetapi juga membuka kembali akses dan daya tarik Pasar Sarimulyo bagi masyarakat. Penataan pintu masuk, kondisi bangunan, sarana perdagangan hingga ruang bagi pedagang menjadi bagian penting agar pasar kembali memiliki daya saing.
Dengan sejarah panjang dan keberadaan pedagang yang masih setia bertahan, Pasar Sarimulyo layak mendapat perhatian sebagai salah satu pasar tradisional yang menjadi bagian dari perjalanan Kota Purwokerto. Jika revitalisasi dapat direalisasikan, Pasar Sarimulyo bukan hanya diharapkan kembali ramai, tetapi juga dapat menjadi ruang ekonomi yang nyaman bagi pedagang sekaligus pilihan berbelanja bagi masyarakat. (*)
Baca juga: UIN Saizu Buka KIP Kuliah 2026, 315 Mahasiswa Berpeluang Dapat Bantuan Pendidikan
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.