Kemiskinan Jawa Tengah Turun, Ekonomi Tumbuh 5,71 Persen pada Triwulan II 2026

Daerah Ekonomi
By Vivin  —  On Aug 05, 2026
Caption Foto : Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah memaparkan angka kemiskinan Jateng yang turun dan pertumbuhan ekonomi Jateng, Rabu(5/8/2026). (Foto :Dok. Diskomdigi Jateng).

ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Kabar positif datang dari Jawa Tengah. Jumlah penduduk miskin di provinsi ini kembali mengalami penurunan pada Maret 2026. Di saat yang sama, perekonomian Jawa Tengah juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat hingga triwulan II 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 3,29 juta orang. Angka tersebut setara dengan 9,21 persen dari total penduduk Jawa Tengah. Jika dibandingkan dengan September 2025, jumlah penduduk miskin berkurang 59.390 orang. Sementara jika dibandingkan dengan Maret 2025, penurunannya mencapai 81.250 orang.

Penurunan juga terlihat dari sisi persentase. Tingkat kemiskinan Jawa Tengah pada Maret 2026 turun 0,18 persen dibandingkan September 2025 yang berada di angka 9,39 persen. Dibandingkan Maret 2025, angka tersebut juga turun 0,27 persen dari sebelumnya 9,48 persen.

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said mengatakan, data tersebut dihitung menggunakan pendekatan kebutuhan dasar atau basic need approach. Menurutnya, metode tersebut melihat kemampuan seseorang maupun rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan dasar, baik kebutuhan makanan maupun kebutuhan nonmakanan.

Dari penghitungan BPS, garis kemiskinan Jawa Tengah pada Maret 2026 ditetapkan sebesar Rp596.676 per kapita setiap bulan. Sedangkan garis kemiskinan rata-rata untuk satu rumah tangga miskin mencapai Rp2.571.674 per bulan.

Baca juga: Rp. 19,07 Triliun Mengarah ke Jateng, CJIBF 2026 Buka Jalan Investasi Baru

“Berdasarkan garis kemiskinan tersebut, pada Maret 2026 terdapat sebanyak 3,29 juta penduduk miskin di Jawa Tengah. Dibandingkan September 2025 jumlah penduduk miskin turun 59.390 orang dan dibandingkan Maret 2025 turun 81.250 orang,” kata Ali dalam jumpa pers daring, Rabu (5/8/2026).

Beras dan Rokok Masih Dominasi Garis Kemiskinan

BPS juga mencatat bahwa komoditas makanan masih menjadi faktor terbesar yang membentuk garis kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di perkotaan, beras menjadi salah satu komoditas dengan kontribusi terbesar. Selain beras, terdapat rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, roti, kue basah, tempe, mi instan, bawang merah, hingga gula pasir.

Untuk komoditas nonmakanan, pengeluaran perumahan menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan di perkotaan.

Sementara di wilayah perdesaan, beras dan rokok kretek filter juga memiliki kontribusi besar. Komoditas lainnya meliputi telur ayam ras, daging ayam ras, kopi bubuk dan kopi instan, bawang merah, tempe, roti, tahu, serta gula pasir. Data tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga kebutuhan sehari-hari masih memiliki pengaruh besar terhadap kondisi ekonomi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. 

Baca juga: DPU Banyumas Ingatkan Pentingnya PBG dan SLF, Legalitas Bangunan Dukung Keamanan dan Kenyamanan

Meski secara keseluruhan tingkat kemiskinan Jawa Tengah mengalami penurunan, terdapat perbedaan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin di perkotaan tercatat 8,59 persen. Sementara tingkat kemiskinan di perdesaan mencapai 9,96 persen. Dengan demikian, angka kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. 

Di tengah penurunan jumlah penduduk miskin, perekonomian Jawa Tengah juga mencatat pertumbuhan positif. BPS Jawa Tengah melaporkan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II 2026 tumbuh 5,71 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut bahkan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama, yakni 5,29 persen.

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 1,72 persen secara quarter to quarter (qtq). Sementara secara kumulatif sepanjang semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,80 persen secara cumulative to cumulative (ctc).

Ali mengatakan, kinerja ekonomi Jawa Tengah juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.

“Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional,” pungkasnya. (*)

Baca juga: DPU Banyumas Kawal Infrastruktur Pengajuan Bantuan Pembangunan 15 TPST, Dukung Pengelolaan Sampah Berkelanjutan


Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: