Caption Foto : Diskusi Babad Banyumas digelar di Bale Babad Banyumas, Minggu (19/7/2026). (Foto : Dok.Pribadi).
ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Budayawan Banyumas, NasSirun PurwOkartun, mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat anak-anak dan keturunan pendiri Kabupaten Banyumas, Raden Jaka Kaiman atau Adipati Warga Utama II (Adipati Mrapat). Ajakan itu disampaikan dalam diskusi "Bahas Babad Banyumas" bertajuk Melacak Jejak Anak-Anak Keturunan Jaka Kaiman yang digelar di Bale Babad Banyumas, Minggu (19/7/2026).
Menurut NasSirun, masyarakat Banyumas umumnya mengetahui sosok Raden Jaka Kaiman sebagai pendiri kabupaten serta lokasi makamnya di Astana Dawuhan. Namun, masih sedikit yang mengetahui siapa saja anak-anaknya.
"Karena itu, saya ingin mengajak orang-orang Banyumas mengenali leluhurnya," tuturnya.
Acara yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah, seperti Banyumas, Purbalingga, Tegal, Jakarta, hingga Sidoarjo. Mereka hadir untuk memperdalam pengetahuan mengenai sejarah Banyumas yang bersumber dari naskah Babad Banyumas.
Dalam pemaparannya, NasSirun menjelaskan silsilah keluarga Raden Jaka Kaiman berdasarkan Babad Banyumas Mertadiredjan, naskah yang ditulis pada masa Bupati Banyumas Adipati Mertadiredja I sekitar tahun 1816–1830-an. Naskah tersebut terdiri atas 23 pupuh dan 617 bait dalam bentuk tembang macapat.
Enam Anak Raden Jaka Kaiman
Melalui Pupuh XVIII Asmarandana, dijelaskan bahwa Raden Jaka Kaiman memiliki enam orang anak, terdiri atas empat laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Ki Mertasuta di Koripan, Ngabehi Janah yang kemudian menjadi Bupati Banyumas kedua, Ki Mertawedana di Piasa, Ki Mertamenggala di Selamerta, Nyai Sutapraya di Pakikiran Somagede, serta Nyai Wirakusuma di Papringan Mandirancan.
Sebelum diskusi dimulai, peserta diajak belajar melantunkan tembang macapat yang dipandu Ahmad Ainul Anam, pegiat Bale Babad Banyumas. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru bagi banyak peserta yang belum pernah mempelajari tembang Jawa klasik.
Usai diskusi, peserta diajak mengunjungi salah satu makam tua yang diduga merupakan makam Nyai Wirakusuma di Mandirancan. Kunjungan itu menjadi penutup kegiatan sekaligus memperkuat pemahaman peserta mengenai sejarah dan silsilah Banyumas. (*)