ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO – Satu bulan pasca-Lebaran, suasana aktivitas perdagangan di Pasar Wage Purwokerto masih dalam tahap penyesuaian. Setelah relokasi pedagang dari Jalan Vihara ke dalam area pasar, sejumlah pedagang mengaku masih menghadapi tantangan berupa menurunnya jumlah pembeli. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (DKUKMP) memastikan bahwa proses penataan pasar masih berjalan dan akan terus dioptimalkan.
Kepala DKUKMP Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi SE menjelaskan, kondisi Pasar Wage saat ini sebenarnya mulai menunjukkan tren positif. Penataan di lantai 1 telah dilakukan, dan perlahan jumlah pengunjung mulai meningkat meskipun belum signifikan.
“Pasar Wage ini masih berproses, belum selesai. Nantinya akan dilakukan zonasi, revitalisasi pintu masuk di Jalan Jenderal Sudirman, dan sejumlah pembenahan lainnya. Setelah semua proses selesai, saya optimis Pasar Wage akan lebih ramai lagi,” jelasnya, Selasa (5/5/2026).
Menurut Gatot, proses revitalisasi pasar memang membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, termasuk untuk pembebasan lahan yang saat ini tengah berjalan. Pemerintah daerah juga terus mendorong percepatan realisasi program tersebut.
“Kita terus berupaya agar revitalisasi bisa segera direalisasikan. Pak Bupati juga sudah mengajukan permohonan bantuan ke gubernur. Dari APBD, juga akan ada dukungan pada perubahan anggaran nanti,” ungkapnya.
Adaptasi Pedagang dan Perubahan Perilaku Pembeli
Di sisi lain, para pedagang mengungkapkan bahwa perubahan lokasi berdampak pada kebiasaan pembeli. Supari, pedagang umbi-umbian di Blok B yang sebelumnya berjualan di Jalan Vihara, mengaku kehilangan sejumlah pelanggan setia sejak relokasi dilakukan.
“Ada pelanggan yang bilang mereka pindah pasar karena tidak bisa menemukan saya. Dulu mereka sudah hafal lokasi, sekarang harus mencari lagi,” tuturnya.
Ia menambahkan, sebagian pelanggan merasa kesulitan karena akses masuk ke pasar dinilai kurang nyaman. Kondisi pintu masuk yang sempit, ditambah aktivitas pedagang di kanan-kiri akses, membuat pembeli enggan masuk ke dalam.
Baca juga: Polresta Banyumas Gagalkan Peredaran Setengah Kilogram Ganja, Pengedar Asal Wangon Dibekuk
Keluhan juga muncul terkait sistem parkir. Beberapa pembeli merasa keberatan karena harus membayar parkir lebih dari satu kali saat memasuki area pasar.
Selain itu, masih adanya pedagang yang berjualan di luar pasar turut memengaruhi kondisi di dalam. Menurut Supari, hal ini menciptakan persaingan yang tidak seimbang bagi pedagang yang telah tertib menempati kios.
Hal senada disampaikan Faizin, pedagang bandeng presto. Ia menilai keberadaan pedagang “mobile” di luar pasar membuat pembeli lebih memilih bertransaksi di luar tanpa masuk ke dalam area pasar.
“Sebenarnya kalau semua kompak berjualan di dalam, kondisi pasar akan lebih baik dan pembeli juga lebih mudah,” ucapnya.
Baca juga: Ahmad Luthfi Ajak Semua Elemen Bergerak Cegah Kekerasan di Pesantren
Penataan Parkir dan Zonasi Jadi Fokus Pembenahan
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, DKUKMP memastikan bahwa sistem parkir telah diatur melalui zonasi, dengan masing-masing zona memiliki pengelola resmi. Gatot menegaskan bahwa penarikan parkir seharusnya hanya dilakukan satu kali.
“Tarikan parkir di pintu masuk itu tidak boleh. Kita sudah sering diskusikan dengan pengelola parkir dan mereka sepakat bahwa parkir hanya satu kali. Ini penting karena menyangkut citra Pasar Wage,” tegasnya.
Sebagai salah satu pasar terbesar di Purwokerto, Pasar Wage memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perdagangan yang lebih modern dan nyaman. Saat ini, posisi pasar yang dikelilingi ruko membuat keberadaannya kurang terlihat. Namun, hal ini akan berubah seiring rencana pembangunan pintu masuk utama yang lebih representatif di jalan protokol.
“Ke depan, Pasar Wage akan memiliki akses utama yang lebih besar dan terlihat. Ini sudah menjadi komitmen Pak Bupati untuk menjadikan Pasar Wage lebih ramai dan berkembang,” tambah Gatot.
Baca juga: Rumah di Kemranjen Banyumas Ludes Dibakar, Pelaku Diduga Anak Kandung yang Alami Gangguan Jiwa
Ke depan, Pasar Wage bukan hanya tempat bertransaksi, tetapi juga ruang ekonomi rakyat yang hidup, tertata, dan semakin diminati masyarakat. Saat semua proses rampung, optimisme kebangkitan Pasar Wage bukan lagi sekadar harapan, melainkan keniscayaan.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.