Program Durenisasi Aiptu Eko Suroso Ubah Lahan Tidur Menjadi Sumber Harapan Warga Desa Pekuncen

Polisi Penggerak Ekonomi Desa
Caption Foto : Bhabinkamtibmas Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Aiptu Eko Suroso merawat kebun duriannya selepas bertugas. (Foto ; Hermiana E. Effendi).

ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Deru sepeda motor memecah jalan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Sapa warga di sepanjang jalan, dijawab pengendara berseragam Polresta Banyumas dengan senyuman dan lambaian tangan.

“Ke kebun Pak Bhabin,” sapa warga. 

Sore itu, selepas bertugas di Polsek Jatilawang, Bhabinkamtibmas Aiptu Eko Suroso, menuju ke kebun durian miliknya. Masih mengenakan seragam lengkap, ia mengambil slang air dan mulai menyiram kebun durian. Peluh berjatuhan, namun ia terus menyiram dari satu pohon ke pohon lain. Rasa lelah seketika hilang, saat melihat batang-batang pohon mulai dipenuhi dengan bunga.

“Ini lahan durian pertama saya, lahan tidur seluas 700 meter persegi milik mertua. Awalnya saya menanam 16 pohon, sekarang sudah berkembang. Lahan tidur di sebelah kebun, saya beli dan ditanami durian juga. Total sekarang ada 10 lahan, dengan tanaman durian sekitar 400 pohon,” tuturnya.

Aiptu Eko mulai bertugas di Polresta Banyumas Tahun 2010, sebagai samapta penjagaan di Polsek Jatilawang. Tahun 2017, ia ditempatkan sebagai bhabinkamtibmas di Desa Pekucen, kampung halaman istrinya, Dwi Fitriani.

Baca juga: Kerja Sama Jateng-Malaka Diperluas, Gus Yasin Dorong Pertukaran Santri dan Guru Antar Pesantren

Sejak awal bertugas, ia memiliki keyakinan seorang Bhabinkamtibmas tidak hanya hadir untuk menyelesaikan persoalan keamanan, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Ia mempelajari karakter masyarakat, kondisi geografis, hingga budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Desa Pekuncen memiliki karakter yang unik. Berada di wilayah perbatasan Banyumas dan Cilacap, desa ini masih memegang teguh adat istiadat leluhur. Komunitas Bonokeling yang dikenal menjaga tradisi Jawa masih berkembang dengan baik. Berbagai ritual adat seperti unggahan, sedekah bumi, hingga tradisi keagamaan masih rutin dilaksanakan setiap tahun.

Caption : Caption Foto : Aiptu Eko Suroso memberikan saat memberikan pelatihan kepada para petani yang berminat menanap durian. (Foto : Hermiana E. Effendi).

Baca juga: Doktor Ke-92 UIN Saizu Purwokerto Teliti Internalisasi Nilai Humanistik dalam Kurikulum Merdeka

Lahan Tidur Masih Bertebaran

Di balik kekayaan budaya tersebut, Aiptu Eko melihat persoalan lain. Saat berkeliling desa, pandangannya kerap tertuju pada hamparan perbukitan yang luas. Banyak lahan hanya ditumbuhi semak atau pohon jati. Sebagian besar warga memang berprofesi sebagai petani. Namun, lahan yang dimiliki belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi optimal.

"Masyarakat di sini sebagian besar adalah petani, tetapi masih banyak lahan tidur. Karena itu saya berpikir bagaimana caranya lahan yang belum dimanfaatkan bisa menghasilkan nilai ekonomi yang lebih cepat dibanding hanya ditanami kayu jati," kata ayah dua anak ini.

Dari berbagai pertimbangan, ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada durian premium. Alasannya, harga durian premium relatif tinggi dan permintaan pasar terus meningkat. 

Aiptu Eko sadar, mengajak masyarakat mengubah pola pikir bukanlah perkara mudah, warga membutuhkan bukti nyata. Karena itulah ia memutuskan menjadi orang pertama yang mengambil risiko. Ia mulai belajar budidaya durian dengan mendatangi sentra durian di Kecamatan Kemranjen. Eko juga memperluas pengetahuan dengan berdiskusi bersama petani, pelaku usaha durian, hingga jaringan pengepul. Tak hanya itu, berbagai informasi mengenai teknik budidaya durian premium juga dipelajarinya melalui media sosial.

Baca juga: Aspal Perlintasan Sebidang JPL 501 Sumpiuh Diperbaiki, KAI Daop 5 Purwokerto Apresiasi Dukungan Pemkab Banyumas

Bibit yang dipilih pun bukan sembarang bibit. Ia membeli varietas premium seperti Durian Bawor, Musang King dan Duri Hitam langsung dari petani di Kemranjen. 

Warga desa mulai melihat aktivitas Pak Bhabin mereka yang rajin ke kebun. Mereka terkadang menunggui Eko saat sedang menyiram tanaman durian dan perbincangan seputar prospektif durian pun mulai mengalir. Sampai akhirnya, ajakannya untuk menanam durian, mendapat sambutan positif dari warga.

Dalam berbagai kesempatan bertemu warga, selain menyampaikan pesan-pesan kamtibmas, Eko juga selalu menyertakan cerita tentang durian, hingga impiannya menjalankan program durenisasi desa. Dukungan pun mengalir dari para tokoh hingga kepala desa. Hal tersebut semakin memantapkan langkah Eko untuk mengkampanyekan durenisasi. 

“Di Pekuncen sudah ada tanaman durian, tetapi jenis lokal dan harga jualnya tidak tinggi. Saya sampaikan ke warga, bahwa ada durian premium yang harganya sangat bagus, satu kilogram Durian Bawor misalnya, di tingkat petani harganya Rp 100.000 per Kg,” ungkapnya.

Memulai durenisasi desa sejak Tahun 2018, saat ini sudah lebih dari seribu pohon durian varietas premium yang tertanam di Desa Pekuncen. Bibit durian yang terbilang mahal, harga satu pohon dengan ketinggian 1 meter seharga Rp 100.000, diselesaikan Pak Bhabin dengan tuntas.

Baca juga: Oknum Kades di Banyumas Jadi Tersangka Penganiayaan

Aiptu Eko mengajak warga untuk membeli bibit sambung pucuk yang harganya hanya Rp 7-10 ribu per batang. Hanya saja, untuk usia bibit sambung pucuk membutuhkan perawatan ekstra. Untuk menjaga bibit tersebut, Aiptu Eko meluangkan waktu untuk merawat bibit-bibit tersebut. Setelah berusia 1 tahun dan tanaman dalam kondisi lebih kuat, baru diberikan kepada warga untuk ditanam di lahan masing-masing.

“Jadi jika memberi Rp 100.000 warga hanya mendapatkan satu bibit durian setinggi satu meter, maka dengan cara tersebut, dengan harga yang sama, warga bisa mendapatkan 10 bibit durian,” tuturnya.

Selama proses pemeliharaan bibit pucuk sambung tersebut, pemilik bibit sering menyambangi kebun Eko untuk melihat perkembangan bibit duriannya. Waktu berkumpul dan bercengkrama tersebut, tidak hanya dimanfaatkan Eko untuk memberikan pengetahuan seputar bercocok tanam durian saja, tetapi juga selalu menyelipkan pesan kamtibmas kepada warga.

“Sebagai bhabinkamtibmas, saya mempunyai tugas melekat untuk melakukan pembinaan, deteksi dini, problem solving, kemitraan, dan pelayanan kepolisian, sehingga dalam setiap momen berkumpul dengan warga, pesan-pesan kamtibmas selalu saya sampaikan, karena kita berkewajiban untuk menciptakan lingkungan yang aman dan tertib,” ucapnya.

Salah satu warga Desa Pekuncen yang merasakan betul kiprah Aiptu Eko dalam upaya meningkatkan perekonomian warga desa, Saprijal mengaku, mulai tertarik untuk menanam durian sejak melihat kesibukan Eko di kebun. Ia kerap berkunjung ke kebun Eko yang memang terbilang nyaman, karena terdapat gazebo serta kolam ikan di tengah kebun. Saprijal kemudian ikut memesan bibit durian dari Eko dan membuka lahan durian seluas 2.500 meter persegi. Saat ini tanaman duriannya sebanyak 60 pohon.

Baca juga: Dugaan TPPU Eks Karyawan Mandiri Taspen Masuk Tahap Penyidikan

“Harga bibit durian lebih murah dan Pak Bhabin juga selalu siap untuk mendampingi serta memberikan solusi jika kita mengalami kendala. Meskipun belum pernah panen, tetapi saya optimis hasilnya nanti akan bagus, sebab yang saya tanam durian premium,” tuturnya.

Tak hanya itu, Saprijal mengaku kerap kebagian buah durian, saat Eko panen. Menurutnya, warga desa lainnya juga merasakan manfaat dari menanam durian, karena hasil panen harganya bagus.

“Kalau sedang panen, Pak Bhabin pasti bagi-bagi durian ke para tetangga, baik tetangga rumah maupun kebun,” ucapnya.

Untuk pemasaran hasil panen durian, Eko mengaku tidak pernah kesulitan dalam hal pemasaran. Bahkan, cenderung kekurangan stok. Jaringan petani durian di Kemranjen serta pengepul  masih terjaga dengan baik. Durian dari Desa Pekuncen pun kini sudah merambah ke supermarket.

Pendampingan yang dilakukan Aiptu Eko pun akhirnya tidak hanya mengajarkan masyarakat cara menanam durian. Lebih dari itu, ia membangun sebuah ekosistem, mulai dari pembibitan, budidaya, hingga pemasaran, sehingga warga memiliki peluang nyata untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Baca juga: Rumah Sailah Berubah Total Berkat Program RTLH Pemprov Jateng, Gus Yasin Dorong Peningkatan Ekonomi Keluarga

Sumur Bor yang Menghidupi Desa

Perjalanan Program Durenisasi Desa tidak selalu berjalan mulus. Salah satu kendala terbesar yang dihadapi Aiptu Eko Suroso adalah persoalan air. Melihat kebutuhan air yang semakin besar, muncul tekad dalam dirinya untuk membuat sumur bor.

Awalnya, sumur tersebut hanya ditujukan agar kebun durian yang dirintisnya tetap bertahan. Namun, ternyata menghadirkan manfaat yang jauh lebih besar. Setelah pengeboran selesai dilakukan, air yang keluar dari sumur itu mengalir deras tanpa henti. Air tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan ratusan pohon durian, tetapi juga mengisi dua kolam ikan yang dibangun di tengah kebun. 

Air dari sumur bor itu kini tidak hanya dimanfaatkan untuk menyiram kebun miliknya. Warga sekitar turut merasakan manfaatnya. Air tersebut digunakan untuk mengairi sawah, memenuhi kebutuhan rumah tangga, hingga membantu masyarakat ketika musim kemarau datang. Dan Aiptu Eko tidak pernah memungut biaya sedikit pun. 

Caption : Caption Foto : Bhabinkamtibmas Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Aiptu Eko Suroso yang sukses menanam durian. (Foto : Hermiana E. Effendi).

Kesuksesan kebun durian tentu menghadirkan tantangan baru. Ratusan pohon durian premium dengan nilai ekonomi tinggi berpotensi menjadi sasaran pencurian. Namun Eko memilih cara yang tidak biasa untuk menjaga kebunnya. Alih-alih membangun pagar tinggi atau memasang penjagaan khusus, ia justru mengandalkan apa yang ia sebut sebagai "pagar hidup", yakni kepercayaan masyarakat. Hubungan baik yang telah ia bangun selama bertahun-tahun membuat warga merasa memiliki kebun tersebut.

"Kalau ada warga yang mencari rumput di kebun durian, saya persilakan. Kebun ini terbuka," ujarnya.

Kepercayaan yang diberikan itu justru melahirkan rasa tanggung jawab dari masyarakat untuk ikut menjaga kebun tersebut. Bagi Aiptu Eko, keamanan tidak selalu diwujudkan melalui pagar atau kunci. Keamanan yang sesungguhnya lahir dari hubungan baik antara polisi dan masyarakat.

Menggerakkan Ekonomi, Menekan Kriminalitas

Apa yang dilakukan Aiptu Eko mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Kepala Desa Pekuncen, Karso menyebut Bhabinkamtibmas tersebut sebagai motor penggerak berkembangnya perkebunan durian premium di desanya. Menurutnya, Program Durenisasi bukan sekadar kegiatan menanam pohon, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Menanam durian itu susah-susah gampang. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan konsistensi. Pak Bhabin berhasil membuktikan bahwa kerja keras yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan membuahkan hasil," tuturnya.

Apresiasi juga datang dari Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Petrus P. Silalahi. Menurutnya, inovasi yang dilakukan Aiptu Eko menjadi contoh nyata bahwa kehadiran Bhabinkamtibmas tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan masyarakat. Kapolresta menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat akan berbanding lurus dengan menurunnya angka kriminalitas.

"Banyak tindak kriminal dipicu oleh persoalan ekonomi. Ketika masyarakat semakin sejahtera, potensi terjadinya kejahatan juga akan semakin kecil. Selain itu, hubungan yang baik antara Bhabinkamtibmas dan masyarakat akan semakin memudahkan tugas kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban," jelas Kapolresta. 

Kapolresta juga menyampaikan optimistis, jika Program Durenisasi terus berkembang, Desa Pekuncen akan dikenal sebagai salah satu destinasi agrowisata durian di Banyumas.

Senja perlahan turun di perbukitan Desa Pekuncen. Aiptu Eko kembali menggulung selang air setelah memastikan setiap pohon durian mendapat cukup siraman.  Di desa itu, ribuan pohon durian bukan lagi sekadar tanaman, namun menjelma menjadi simbol perubahan. Dari lahan tidur yang dahulu nyaris tak bernilai, kini tumbuh harapan baru bagi masa depan keluarga-keluarga petani.

Program Durenisasi yang dirintis seorang Bhabinkamtibmas membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dilakukan dengan menangkap pelaku kejahatan. Terkadang, pengabdian terbaik justru dimulai dari menanam satu pohon, menggerakkan satu warga, lalu mengubah satu desa. (*)


Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: