ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Bulan Ramadan kerap dimanfaatkan banyak orang sebagai momentum untuk memperbaiki pola hidup, termasuk menurunkan berat badan. Waktu makan yang terbatas selama berpuasa secara teori memang bisa membantu mengontrol asupan kalori. Namun, kenyataannya tidak sedikit orang justru mengalami kenaikan berat badan selama bulan suci ini.
Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh perubahan pola makan dan gaya hidup yang kurang tepat. Jika tidak disadari sejak awal, manfaat puasa bagi kesehatan bisa berkurang. Berikut sejumlah faktor yang sering menjadi penyebab berat badan meningkat selama Ramadan.
Pola makan berlebihan saat berbuka
Rasa lapar setelah seharian berpuasa sering mendorong seseorang untuk makan dalam porsi besar saat berbuka. Tanpa kontrol yang baik, kebiasaan ini dapat menyebabkan asupan kalori harian melonjak.
Tubuh memang beradaptasi selama puasa, tetapi “balas dendam” saat berbuka justru membuat energi yang masuk lebih besar daripada yang dibutuhkan. Jika berlangsung terus-menerus hingga sahur, penambahan berat badan sulit dihindari.
Baca juga: Tips Tetap Produktif Bekerja Selama Ramadan
Dominasi makanan tinggi kalori
Menu berbuka yang manis, gorengan, hingga junk food memang menggoda. Sayangnya, jenis makanan ini umumnya tinggi gula, lemak jenuh, dan kalori, tetapi rendah serat serta protein. Konsumsi berlebihan makanan semacam ini membuat tubuh mudah menyimpan lemak. Dalam jangka waktu satu bulan Ramadan, kebiasaan tersebut bisa berdampak nyata pada kenaikan berat badan.
Aktivitas fisik menurun
Banyak orang memilih mengurangi aktivitas karena merasa lemas saat berpuasa. Padahal, tubuh tetap membutuhkan gerak agar metabolisme berjalan optimal. Kurangnya aktivitas fisik membuat pembakaran kalori menurun. Jika di sisi lain asupan makanan meningkat, keseimbangan energi menjadi positif dan berat badan pun naik.
Durasi tidur berkurang
Baca juga: Puasa Aman untuk Penderita Diabetes, Ini 9 Aturan yang Harus Diketahui
Perubahan jadwal karena harus bangun sahur sering membuat waktu tidur malam berkurang. Orang dewasa idealnya membutuhkan 7–9 jam tidur setiap hari. Kurang tidur diketahui dapat memengaruhi hormon pengatur nafsu makan. Dampaknya, seseorang cenderung lebih mudah lapar dan terdorong makan lebih banyak pada malam hari.
Metabolisme tubuh melambat
Penurunan asupan kalori secara mendadak dapat memicu tubuh menghemat energi dengan memperlambat metabolisme. Ketika metabolisme melambat, jumlah kalori yang dibakar juga menurun. Jika kondisi ini disertai pola makan yang tidak terkontrol, tubuh akan lebih mudah menyimpan kelebihan energi sebagai lemak.
Kendalikan porsi makan saat berbuka dan sahur sesuai kebutuhan kalori.
Prioritaskan makanan tinggi serat dan protein agar kenyang lebih lama.
Baca juga: Kemenkes Waspadai Lonjakan Campak, Puluhan Ribu Kasus Suspek Terdeteksi
Batasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Penuhi kebutuhan cairan sekitar delapan gelas per hari dengan pola bertahap.
Usahakan tidur cukup setiap malam.
Lakukan olahraga ringan, seperti jalan santai atau yoga, menjelang berbuka atau sekitar satu jam setelah makan.
Baca juga: Tak Perlu Lemas Saat Puasa, Ini Penyebab dan Cara Efektif Menjaga Energi
Puasa Ramadan pada dasarnya dapat memberikan banyak manfaat kesehatan, termasuk membantu pengendalian berat badan. Namun, tanpa pengaturan pola makan, aktivitas, dan istirahat yang tepat, hasilnya justru bisa sebaliknya. Dengan disiplin menjaga kebiasaan harian, berat badan tetap bisa terkontrol sepanjang bulan puasa.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.