ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Agama menyoroti tingginya kebutuhan tenaga pendidik tahfidz perempuan di pesantren-pesantren Indonesia, khususnya untuk membimbing santriwati. Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai kondisi tersebut membuka ruang pengabdian yang luas bagi para hafizah untuk mengambil peran strategis dalam penguatan pendidikan Al-Qur’an di berbagai daerah.
Menag menjelaskan, pertumbuhan lembaga tahfidz putri yang semakin pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan guru perempuan yang kompeten. Padahal, kehadiran pengajar tahfidz perempuan dinilai penting tidak hanya dari sisi pedagogis, tetapi juga dalam membangun kedekatan psikologis dan keteladanan bagi santriwati.
Baca juga: Kementan Gerak Cepat Pulihkan Sektor Pertanian Terdampak Banjir
“Lembaga tahfidz putri membutuhkan pendampingan yang kuat dari guru-guru perempuan yang memiliki kapasitas keilmuan, spiritualitas, dan integritas. Ini peluang sekaligus tantangan bagi para hafizah untuk berkontribusi nyata bagi pendidikan Islam nasional,” ujar Nasaruddin Umar saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-15 Jam’iyyah Hafidzotil Qur’an (JHQ) di Kendal.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyoroti potensi besar Kabupaten Kendal sebagai salah satu daerah dengan jumlah hafizah yang signifikan. Menurutnya, keberadaan ribuan perempuan penghafal Al-Qur’an merupakan modal sumber daya manusia yang bernilai strategis, terutama dalam pembangunan karakter dan moral masyarakat.
Baca juga: Menaker Dorong Sertifikasi Profesi Lebih Inklusif, Murah, dan Menjangkau Penyandang Disabilitas
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, lembaga keagamaan, dan komunitas tahfidz dalam membina serta memberdayakan para hafizah agar perannya tidak berhenti di ruang pendidikan formal semata.
Lebih jauh, Menag mengingatkan bahwa proses menghafal dan membaca Al-Qur’an perlu disertai pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai yang dikandungnya. Para hafizah diharapkan mampu menerjemahkan ajaran Al-Qur’an ke dalam praktik kehidupan sosial, termasuk kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan.
Baca juga: Mahasiswa PGSD UMP Tembus Program Internasional SEA Teacher
“Penguasaan Al-Qur’an tidak hanya bersifat tekstual. Nilai-nilainya harus hadir dalam sikap sosial, kepedulian terhadap sesama, serta tanggung jawab menjaga alam sebagai amanah Tuhan,” pungkasnya.
Baca juga: Dirjen Haji Tegaskan PPIH Harus Hadir Nyata, Layanan Jemaah Jadi Ukuran Keberhasilan
Belum ada komentar.
Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.