ORBIT-NEWS.COM, REMBANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang mencatat tingkat inflasi sebesar 0,26 persen secara bulanan (month to month/m-to-m) pada Desember 2025. Sementara itu, inflasi kumulatif sepanjang tahun (year to date/y-to-d) serta inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sama-sama berada di angka 2,47 persen, masih dalam rentang sasaran inflasi nasional.
Kepala BPS Kabupaten Rembang, Jubaedi, menyebut capaian tersebut mencerminkan kondisi ekonomi daerah yang relatif stabil, khususnya dari sisi daya beli masyarakat. Menurutnya, inflasi yang berada di kisaran 2,47 persen menunjukkan aktivitas konsumsi rumah tangga masih berjalan dengan baik.
Baca juga: Boyolali Jadi Incaran Investor China, Proyek Air Minum Rp160 Miliar Segera Digarap
“Angka inflasi ini mengindikasikan masyarakat masih mampu membelanjakan kebutuhannya. Permintaan terhadap berbagai komoditas juga masih terserap dengan cukup baik,” kata Jubaedi.
Ia menjelaskan, secara teori ekonomi, peningkatan permintaan akan mendorong kenaikan harga dan memicu inflasi. Namun, kondisi inflasi yang terjadi di Kabupaten Rembang hingga akhir 2025 masih tergolong normal dan terkendali.
Baca juga: Inovasi Bioflok Bumdes Banyumili Dorong Ketahanan Pangan Purbalingga
“Ketika permintaan meningkat, harga cenderung ikut naik. Dari situ inflasi muncul, tetapi dalam konteks Rembang, angkanya masih berada pada level yang wajar,” ujarnya.
BPS mencatat, penyumbang terbesar inflasi Desember 2025 secara m-to-m berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,20 persen. Kelompok ini dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas strategis. Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi bulanan antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, bensin, telur ayam ras, emas perhiasan, minyak goreng, wortel, udang basah, serta kacang tanah.
Baca juga: Ratusan Mahasiswa Dikukuhkan, Relawan Pajak Jateng II Siap Dampingi Wajib Pajak Sepanjang 2026
Secara tahunan (y-on-y), kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil mencapai 1,30 persen. Komoditas dominan pada kelompok ini meliputi cabai merah, cabai rawit, beras, daging ayam ras, serta sigaret kretek tangan (SKT).
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang inflasi sebesar 0,48 persen. Kenaikan harga emas perhiasan, pembalut wanita, pasta gigi, sabun mandi, hingga biaya fotokopi menjadi faktor pendorong pada kelompok ini. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,20 persen, dipengaruhi oleh kenaikan harga mi, es, kue kering berminyak, bakso siap santap, dan sate.
Baca juga: Menutup 2025, Ekonomi Jawa Tengah Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Fiskal Nasional
Menanggapi perkembangan inflasi tersebut, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Mardi, menilai kinerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Rembang masih berjalan efektif.
“Meski terjadi kenaikan inflasi secara bulanan sekitar 0,06 persen dibandingkan November, dampaknya tidak signifikan, termasuk di tengah momentum Natal dan Tahun Baru,” ujar Mardi.
Ia menambahkan, inflasi tahunan Kabupaten Rembang yang berada di angka 2,47 persen masih sejalan dengan target inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi ±1 persen.
“Ini menunjukkan langkah-langkah pengendalian inflasi yang dilakukan TPID Kabupaten Rembang masih on the track dan berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Belum ada komentar.
Orbit-News.com membuka ruang bagi suara publik melalui rubrik Orbit Vox. Di sini, setiap pembaca dapat menyampaikan aspirasi, kritik, gagasan, maupun laporan terkait berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Kami percaya, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk menghadirkan informasi yang lebih jernih, berimbang, dan bermanfaat bagi semua.