ORBIT-NEWS.COM, PURBALINGGA – Upaya Pemerintah Kabupaten Purbalingga dalam memperkuat program pemenuhan gizi masyarakat terus berlanjut. Salah satunya ditandai dengan mulai beroperasinya Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Bukateja yang dikelola Yayasan Desa Belajar untuk Negeri, Senin (12/1/2026). Fasilitas ini menjadi dapur SPPG ke-79 dari total 83 dapur yang telah dibangun di wilayah Purbalingga.
Baca juga: BEM FEB UMP Luncurkan Program Mitra Desa 2026, Dorong Penguatan UMKM dan Pendidikan di Sunyalangu
Peresmian operasional dapur dilakukan langsung oleh Bupati Purbalingga Fahmi M Hanif bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani. Dalam agenda tersebut, bupati menegaskan bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari jaminan mutu dan keamanan makanan yang disajikan. Menurut Fahmi, penerapan quality control secara ketat wajib dilakukan di setiap dapur SPPG untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan, seperti keracunan makanan. Ia menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai program strategis yang memiliki dampak berlapis, baik bagi kesehatan penerima manfaat maupun bagi perekonomian lokal.
“Program ini bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang kualitas hidup masyarakat. Dampaknya luas, mulai dari peningkatan gizi anak-anak hingga perputaran ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di daerah,” ujarnya.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Ancaman Gagal Panen, Gubernur Jateng Dorong Pengajuan Asuransi Pertanian
Saat meninjau langsung area dapur, Bupati Fahmi juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan higienitas pada seluruh proses kerja. Ia menekankan agar pengelola dapur mematuhi standar keamanan pangan sejak tahap pengolahan bahan, pengemasan, penyajian, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
“Semua peralatan harus memenuhi standar keamanan. Makanan yang sampai ke penerima manfaat harus bersih, aman, dan bebas dari potensi kontaminasi,” tegasnya.
Baca juga: Kasus Kanker Anak Masih Tinggi, RSUP Sardjito dan Pemkab Cilacap Perkuat Deteksi Dini
Sementara itu, perwakilan Yayasan Desa Belajar untuk Negeri, Mugi Wahyudi, menjelaskan bahwa pembangunan dan pengelolaan Dapur SPPG Bukateja sepenuhnya mengacu pada Standar Operasional Prosedur yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN). Proses persiapan dilakukan secara bertahap dan terukur untuk memastikan kualitas layanan gizi tetap terjaga.
Ia mengungkapkan bahwa dapur dilengkapi sistem pengelolaan air yang aman melalui proses filtrasi dan penyinaran sinar ultraviolet (UV). Air tersebut digunakan untuk memasak, mencuci peralatan makan, hingga kebutuhan konsumsi, sehingga memenuhi standar kelayakan dan kesehatan.
“Kami berkomitmen menjalankan seluruh prosedur sesuai ketentuan BGN, mulai dari penataan dapur, penggunaan peralatan, hingga standar kebersihan. Harapannya, layanan gizi yang diberikan benar-benar optimal dan berkelanjutan,” jelas Mugi.
Dapur SPPG Bukateja dirancang untuk melayani 2.072 penerima manfaat yang berasal dari 11 sekolah di sekitar wilayah dapur. Sasaran layanan mencakup peserta didik dari jenjang taman kanak-kanak hingga SMA/SMK, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas gizi dan kesehatan generasi muda di Kabupaten Purbalingga.
Baca juga: Boyolali Jadi Incaran Investor China, Proyek Air Minum Rp160 Miliar Segera Digarap