ORBIT-NEWS.COM - Ada satu hal yang sering luput ketika sebuah layanan publik kembali beroperasi, masyarakat tidak hanya menunggu kendaraan datang, tetapi juga menunggu kepastian.
Trans Banyumas kembali melayani masyarakat setelah sempat berhenti sekitar 20 hari. Bus kembali melintas, halte kembali memiliki aktivitas, pelajar kembali bisa mengandalkan angkutan umum, dan para pekerja memiliki pilihan untuk bepergian tanpa harus selalu membawa kendaraan pribadi.
Namun, kembalinya bus tidak otomatis berarti kembalinya seluruh penumpang.
Hari-hari pertama operasional memang mulai menunjukkan geliat. Tetapi jumlah penumpang belum sepenuhnya kembali seperti sebelum layanan dihentikan. Ini menjadi catatan penting. Sebab persoalan transportasi publik tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidak adanya bus, melainkan juga soal kepercayaan.
Selama bus berhenti, masyarakat tentu mencari alternatif. Ada yang kembali menggunakan sepeda motor, meminta diantar keluarga, menggunakan ojek, atau memilih cara lain untuk sampai ke sekolah dan tempat kerja.
Baca juga: Menanti Tetes Hujan Pertama: Antara Takut, Harapan, dan Solidaritas
Sebagian bahkan mungkin sudah menemukan kebiasaan baru. Di sinilah tantangannya.
Transportasi dan Kebiasaan yang Terbangun
Transportasi publik memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebiasaan. Ketika seseorang sudah merasa nyaman menggunakan sepeda motor selama beberapa minggu, tidak mudah membuatnya kembali naik bus hanya karena bus sudah beroperasi lagi. Karena itu, pekerjaan rumah Trans Banyumas bukan berhenti pada memastikan 52 bus kembali mengaspal.
Yang lebih penting adalah meyakinkan masyarakat bahwa layanan tersebut benar-benar bisa diandalkan.
Masyarakat ingin tahu bahwa besok bus tetap ada. Lusa tetap ada. Minggu depan tetap ada. Mereka ingin jadwal yang jelas, rute yang konsisten, tarif yang terjangkau, serta pelayanan yang membuat perjalanan terasa aman dan nyaman.
Baca juga: Kebakaran Lahan di Musim Kemarau, Saat Peringatan El Nino Tak Diikuti Kesiapan
Bagi pelajar, satu bus yang terlambat bisa berarti terlambat masuk kelas.
Bagi pekerja, keterlambatan berarti berpotensi terlambat masuk kerja.
Bagi orang tua, kepastian transportasi berarti ketenangan ketika anak mereka berangkat dan pulang sekolah.
Karena itu, ukuran keberhasilan Trans Banyumas seharusnya tidak semata-mata berapa banyak bus yang berjalan, tetapi berapa banyak warga yang kembali percaya untuk meninggalkan kendaraan pribadinya.
Ada persoalan lain yang juga perlu diperhatikan. Jika masyarakat sudah telanjur membeli sepeda motor atau mengambil keputusan finansial lain selama Trans Banyumas berhenti, maka menarik mereka kembali tentu membutuhkan lebih dari sekadar pengumuman bahwa bus sudah beroperasi.
Baca juga: Menguatkan Kebangsaan, Memaknai Kemerdekaan
Promosi layanan, kemudahan pembayaran, ketepatan waktu, informasi digital mengenai kedatangan bus, hingga pelayanan di halte menjadi bagian penting untuk membangun kembali kebiasaan menggunakan transportasi umum.
Trans Banyumas juga perlu melihat siapa yang sebenarnya paling membutuhkan layanan tersebut.
Pelajar dan pekerja merupakan kelompok yang sangat bergantung pada kepastian waktu. Warga di wilayah yang jauh dari pusat kota juga membutuhkan akses transportasi yang murah dan mudah. Jangan sampai transportasi publik hanya ramai pada titik-titik tertentu, sementara masyarakat di kawasan pinggiran masih kesulitan mendapatkan layanan.
Kita juga perlu melihat persoalan ini dari sisi yang lebih besar. Setiap warga yang memilih naik bus berarti ada satu kendaraan pribadi yang berpotensi tidak turun ke jalan. Jika semakin banyak orang menggunakan transportasi umum, tekanan terhadap lalu lintas, kebutuhan parkir, konsumsi bahan bakar, dan biaya perjalanan rumah tangga juga dapat berkurang.
Jadi, Trans Banyumas bukan sekadar soal bus.Ia adalah bagian dari wajah sebuah kota.
Kota yang transportasi publiknya mudah diakses akan memberikan pilihan kepada masyarakat. Orang tidak harus memiliki sepeda motor hanya untuk bisa sekolah, bekerja, berobat, atau beraktivitas.
Tetapi untuk sampai ke titik itu, pemerintah dan pengelola harus memahami satu hal: kepercayaan publik tidak bisa dinyalakan dan dimatikan seperti mesin bus.
Sekali masyarakat merasa layanan tidak pasti, mereka akan mencari pilihan lain. Karena itu, setelah Trans Banyumas kembali beroperasi, tantangan sesungguhnya justru baru dimulai. Bukan bagaimana membuat bus kembali berjalan, melainkan bagaimana membuat masyarakat kembali berkata:
"Kalau ada Trans Banyumas, saya tidak perlu membawa motor."
Jika kalimat itu kembali menjadi kebiasaan warga Banyumas, barulah kembalinya Trans Banyumas benar-benar memiliki arti. (*)
Baca juga: Dosen, ChatGPT, dan Masa Depan Otoritas Pendidikan
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.