ORBIT-NEWS.COM - Kebakaran lahan kembali menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan. Di sejumlah daerah, lahan kering dengan cepat berubah menjadi titik-titik api. Asap mengepul, udara menjadi pengap, sementara masyarakat kembali dihadapkan pada ancaman yang sebenarnya bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba.
Persoalannya bukan semata-mata soal siapa yang membakar lahan atau bagaimana api dipadamkan. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa setiap kali musim kering datang, kita masih terlihat seperti terkejut menghadapi kebakaran lahan?
Ancaman El Nino bukan kabar yang muncul kemarin sore. Fenomena ini sudah lama digaungkan. Pemerintah, pemerintah daerah, lembaga terkait, hingga masyarakat sebenarnya telah mengetahui bahwa perubahan pola cuaca dapat membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kondisi lahan semakin kering.
Artinya, potensi kebakaran seharusnya bukan lagi sesuatu yang sulit diprediksi.
Justru karena ancamannya sudah diketahui, persiapan seharusnya dilakukan jauh sebelum api muncul. Pemetaan wilayah rawan, penyediaan peralatan pemadaman, kesiapan personel, pengawasan lahan, pembuatan sekat bakar, hingga edukasi kepada masyarakat mestinya menjadi pekerjaan rutin menjelang musim kemarau.
Baca juga: Menanti Tetes Hujan Pertama: Antara Takut, Harapan, dan Solidaritas
Namun ketika kebakaran mulai terjadi, respons yang terlihat sering kali masih berkutat pada hal yang sama: mencari titik api, mengerahkan petugas, melakukan pemadaman, kemudian memberikan imbauan agar masyarakat berhati-hati.
Tentu pemadaman penting. Tetapi pemerintah tidak seharusnya hanya hadir ketika api sudah membesar. Jika El Nino sudah lama diperingatkan, lalu mengapa kesiapsiagaan menghadapi kebakaran lahan masih terasa seperti pekerjaan yang dilakukan setelah masalah muncul?
Agenda Rutin yang Minim Antisipasi
Pemerintah semestinya tidak menjadikan kebakaran sebagai agenda musiman yang baru mendapat perhatian ketika asap mulai mengganggu aktivitas warga. Pencegahan jauh lebih murah, lebih aman, dan lebih efektif dibandingkan pemadaman setelah api menjalar ke area yang lebih luas.
Lebih dari itu, kebakaran lahan bukan hanya persoalan lingkungan. Ada dampak kesehatan, ekonomi, transportasi, pendidikan, hingga kualitas hidup masyarakat yang harus diperhitungkan.
Baca juga: Trans Banyumas Kembali, Kepercayaan Penumpang Harus Dijemput Lagi
Ketika asap menyelimuti permukiman, masyarakat tidak hanya kehilangan kenyamanan. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan dapat mengalami gangguan akibat buruknya kualitas udara. Aktivitas warga pun bisa terganggu. Dalam skala yang lebih besar, kebakaran lahan dapat menimbulkan kerugian ekonomi dan kerusakan ekosistem yang tidak mudah dipulihkan.
Karena itu, pendekatan pemerintah tidak boleh berhenti pada pemadaman. Harus ada evaluasi menyeluruh mengenai mengapa kebakaran terus berulang, wilayah mana yang paling rentan, siapa yang bertanggung jawab melakukan pengawasan, dan apakah seluruh perangkat penanggulangan bencana benar-benar sudah siap sebelum musim kemarau tiba.
Masyarakat juga memiliki tanggung jawab. Pembakaran sampah atau pembukaan lahan dengan cara membakar mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam kondisi lahan yang sangat kering, percikan kecil dapat berubah menjadi persoalan besar.
Namun meminta masyarakat berhati-hati saja tidak cukup. Pemerintah juga harus memberikan alternatif, pendampingan, pengawasan, serta penegakan hukum bagi mereka yang dengan sengaja menyebabkan kebakaran.
Jangan sampai setiap tahun kita mengulang pola yang sama: kemarau datang, lahan mengering, kebakaran muncul, petugas berjibaku memadamkan api, masyarakat mengeluhkan asap, kemudian setelah hujan turun persoalan dianggap selesai. Siklus semacam itu tidak boleh menjadi sesuatu yang dianggap normal.
Baca juga: Menguatkan Kebangsaan, Memaknai Kemerdekaan
Ancaman El Nino seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat sistem pencegahan, bukan sekadar menjadi bahan peringatan dalam konferensi pers. Jika tanda-tanda ancaman sudah diketahui jauh hari, maka ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya seberapa cepat memadamkan api, tetapi seberapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah.
Pada akhirnya, kebakaran lahan bukan sekadar cerita tentang api. Ia adalah cermin tentang seberapa serius kita mempersiapkan diri menghadapi risiko yang sebenarnya sudah dapat diperkirakan.
Jangan menunggu hutan dan lahan terbakar untuk kemudian bertanya mengapa kita tidak siap. Sebab jika ancaman sudah lama digaungkan, tetapi persiapan baru dilakukan ketika api berkobar, maka yang perlu dipadamkan bukan hanya apinya, melainkan juga budaya bekerja setelah masalah terjadi. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.