Setya Arinugroho Dorong Revola Jateng, Lahan Kritis Disulap Jadi Sumber Pangan dan Ekonomi Warga

Caption Foto : Wakil Ketua DPRD Jateng, Setya Arinugroho bersama Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi saat mengunjungi potensi pertanian di Banjarnegara. (Foto : Dok. Tim Setya Ari).

ORBIT-NEWS.COM, BANJARNEGARA – Lahan-lahan yang selama ini terbengkalai dan tidak produktif dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi sumber baru ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Gagasan inilah yang mendorong Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho, mendukung pengembangan program Revolusi Lahan atau Revola Jateng Optimis.

Melalui program tersebut, lahan kosong tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, tetapi dikembangkan menjadi kawasan terpadu yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, perkebunan hingga perikanan. Model ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama di wilayah perdesaan.

Menurut Setya Ari, Jawa Tengah memiliki modal besar untuk memperkuat ketahanan pangan. Sektor pertanian dan peternakan selama ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Jawa Tengah pada 2024 mencapai sekitar 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional dan produsen padi terbesar kedua di Indonesia.

Potensi besar juga datang dari sektor peternakan. Subsektor ini mampu menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja di Jawa Tengah dengan produksi daging mencapai puluhan ribu ton setiap tahunnya. Setya Ari menilai potensi tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar apabila dikembangkan secara terintegrasi dengan pemanfaatan lahan yang optimal.

Konsep itulah yang kini diterapkan dalam program Revola Jateng Optimis di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Program tersebut menjadi proyek percontohan pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum digarap secara maksimal menjadi kawasan produksi pangan terpadu.

Baca juga: Pelemparan Kereta Api di Daop 5, KAI Soroti Aksi Berbahaya yang Masih Terjadi

Setya Ari mengatakan, model seperti Revola tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pertanian. Program ini juga dapat menjadi salah satu strategi untuk mempercepat pemberdayaan ekonomi masyarakat dan menekan angka kemiskinan.

"Alhamdulillah kami dari DPRD bisa mempersamai Pak Gubernur untuk menghadiri peresmian Revolusi Lahan di Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa hal yang mungkin perlu nanti kita dorong agar bisa diduplikasi di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah. Karena ini adalah salah satu upaya kita untuk memberikan pemberdayaan ekonomi kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat petani," kata Setya Arinugroho usai menghadiri peresmian program Revola.

Konsep Integrasi Berbagai Sektor

Ia menjelaskan, keunggulan program tersebut terletak pada konsep integrasi berbagai sektor dalam satu kawasan produktif.

"Karena ini adalah integrasi antara pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan. Kita harapkan dengan adanya pola-pola seperti ini dapat menjadi langkah percepatan penanganan dan pengurangan kemiskinan," tegasnya.

Baca juga: Meresahkan Warga, Polisi Evakuasi ODGJ di Buayan ke Rumah Sakit

Program Revola di Desa Susukan sendiri dikembangkan di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare. Kawasan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal itu kini mulai ditanami berbagai komoditas bernilai ekonomi. Sejumlah tanaman seperti kopi, alpukat, padi dan berbagai komoditas hortikultura dikembangkan di kawasan tersebut. Tidak hanya mengandalkan hasil pertanian, pengelola juga memadukan kawasan itu dengan kegiatan peternakan ayam dan kambing serta pengembangan sektor perikanan.

Penanaman kopi dan alpukat juga memiliki fungsi lain bagi lingkungan. Pohon-pohon tersebut dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi untuk membantu menahan erosi dan menjaga kondisi tanah. Setya Ari juga menyoroti peran generasi muda dalam pengembangan Revola Jateng Optimis.

Pengelolaan kawasan di Banjarnegara melibatkan petani muda yang mulai menerapkan teknologi modern dalam kegiatan pertanian. Sejumlah peralatan berbasis teknologi, seperti pesawat tanpa awak atau drone dan mesin penyiram otomatis, digunakan untuk membantu meningkatkan efisiensi kerja. Pemanfaatan teknologi tersebut membuat proses pengelolaan lahan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan menghemat tenaga.

"Keterlibatan generasi muda dengan dukungan teknologi membuktikan bahwa sektor pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih maju. Ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran di desa," terangnya.

Menurutnya, keterlibatan anak muda menjadi faktor penting untuk mengubah pandangan bahwa pertanian merupakan sektor pekerjaan konvensional yang kurang menjanjikan. Dengan penerapan teknologi dan pengelolaan yang lebih modern, sektor pertanian justru memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai sumber ekonomi masa depan.

Baca juga: Polresta Banyumas Bongkar Penggelapan Uang ATM BRI, Dua Karyawan Jadi Tersangka

Setya Ari menargetkan keberhasilan Revola di Banjarnegara dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Jawa Tengah. Ia mendorong agar konsep pemanfaatan lahan kosong melalui integrasi pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan dapat direplikasi di seluruh 35 kabupaten dan kota. Menurutnya, setiap daerah memiliki potensi lahan yang bisa dikembangkan sesuai dengan karakteristik wilayah dan komoditas unggulannya masing-masing.

"Jika seluruh daerah bisa memanfaatkan lahan kosong mereka seperti di Banjarnegara, kita akan memiliki ketahanan pangan yang kuat di Jawa Tengah. Harapannya, kesejahteraan masyarakat desa juga akan semakin merata," tutupnya. (*)


Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: