Banner Utama

Kisah Baturraden Hidup Lewat AI, Siswa SMP Telkom Suguhkan Perspektif Baru

Caption Foto : Siswa SMP Telkom Purwokerto menggarap film animasi berbasis kecerdasan buatan bertajuk “Jejak Cahaya dari Timur”, yang mengangkat kisah Babad Baturraden dari sudut pandang berbeda.(Foto : Dok. SMP Telkom).

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Upaya pelestarian budaya lokal kini memasuki babak baru dengan sentuhan teknologi. SMP Telkom Purwokerto tengah menggarap film animasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bertajuk “Jejak Cahaya dari Timur”, yang mengangkat kisah Babad Baturraden dari sudut pandang berbeda.

Proyek ini tidak sekadar menjadi karya seni, tetapi juga bagian dari strategi edukatif untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda yang kian akrab dengan budaya global. Kepala SMP Telkom Purwokerto, Widyatmoko, menilai perkembangan teknologi justru dapat dimanfaatkan sebagai jembatan untuk menghidupkan kembali cerita-cerita tradisional.

“Di tengah arus globalisasi, generasi muda cenderung lebih mengenal budaya luar. Melalui film ini, kami ingin menghadirkan alternatif yang tetap relevan, edukatif, sekaligus mengakar pada nilai-nilai budaya lokal,” jelasnya, Selasa (14/4/2026).

Film ini mengangkat kisah Baturraden dari perspektif Syekh Maulana Maghribi, sudut pandang yang relatif jarang diangkat dalam narasi populer. Selain memperluas wawasan sejarah, cerita ini juga memuat pesan moral seperti nilai keimanan, kesetiaan, dan pengabdian.

Proses produksi film melibatkan sejumlah kreator muda dengan dukungan teknologi AI, mulai dari pengolahan visual hingga audio. Film ini disutradarai oleh Deuis Nur Astrida, dengan penggarapan animasi berbasis AI oleh Nurkintani Lisan, serta didukung tim editing dan musik yang turut memperkuat kualitas produksi.

Baca juga: Sekolah Rakyat Gunakan Seleksi Berbasis Data, Mensos Tegaskan Tanpa Titipan dan Intervensi

Rencananya, film ini akan resmi diluncurkan pada tanggal 5 Mei mendatang di Gedung Arpusda Kabupaten Banyumas, bertepatan dengan peringatan satu dekade berdirinya SMP Telkom Purwokerto.

Inovasi Perluas Jangkauan Cerita Sejarah

Sutradara film, Deuis Nur Astrida, menjelaskan bahwa pemanfaatan AI menjadi langkah inovatif dalam memperluas jangkauan penyampaian cerita sejarah kepada masyarakat.

“Teknologi AI memungkinkan proses produksi menjadi lebih efisien sekaligus membuka peluang kreativitas baru. Harapannya, cerita sejarah seperti Babad Baturraden bisa lebih mudah dipahami dan menarik bagi masyarakat luas,” ungkapnya.

Dalam proses pengembangan cerita, tim produksi juga menggandeng sejumlah tokoh Banyumas, termasuk sejarawan dan budayawan, guna memastikan akurasi serta kekuatan narasi. Koordinasi juga dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui instansi terkait.

Baca juga: Pejabat Jateng Diminta Jadi Orang Tua Asuh, Solusi Tembus Kendala Visa Beasiswa Korea Selatan

Film ini turut mengangkat kisah “babad alas” atau asal-usul pembukaan wilayah Baturraden, yang menjadi bagian penting dari identitas sejarah daerah tersebut. Berbeda dengan cerita yang selama ini dikenal luas, pendekatan baru ini diharapkan mampu memperkaya perspektif masyarakat.

Melalui perpaduan teknologi modern dan kearifan lokal, film “Jejak Cahaya dari Timur” diharapkan menjadi medium baru dalam merawat ingatan kolektif sekaligus memperkuat identitas budaya Banyumas di tengah perkembangan zaman.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: