ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG — Jawa Tengah tengah berupaya mengejar kebutuhan susu segar yang mencapai 100.000 liter per hari. Namun, target tersebut menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketersediaan pakan, penyakit ternak, pengelolaan limbah hingga rantai pasok.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Setya Arinugroho mengatakan, peningkatan produksi susu tidak cukup hanya mengandalkan investasi peternakan berskala besar. Penguatan peternak lokal juga harus menjadi bagian utama dari pengembangan sektor tersebut.
"Kita harus mulai menekan ketergantungan suplai pangan hewani dari luar daerah. Investasi besar untuk peternakan memang dibutuhkan, namun peternak lokal harus dilibatkan langsung," katanya.
Berdasarkan data BPS awal 2026, kebutuhan susu Jawa Tengah mencapai sekitar 100.000 liter per hari dan masih banyak dipenuhi dari luar daerah, terutama Jawa Timur. Untuk meningkatkan produksi, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan lahan sekitar 710 hektare di Kabupaten Brebes untuk kawasan peternakan sapi perah terpadu. Kawasan tersebut diproyeksikan menampung hingga 30.000 ekor sapi dengan target produksi 180.000 ton susu segar per tahun.
Proyek tersebut dirancang menggunakan pola inti-plasma. Perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut nantinya diwajibkan menggandeng peternak tradisional sebagai mitra.
Baca juga: DPR Ingatkan Koperasi Desa Merah Putih Jangan Matikan Usaha Rakyat
Penguatan Peternak
Menurut Setya Ari, penguatan peternak rakyat juga dapat dilakukan dengan mengembangkan sentra yang sudah berjalan. Salah satunya di Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Di wilayah tersebut, produksi susu peternak telah terserap pasar. Bahkan, masyarakat mulai mengolah susu segar menjadi produk bernilai tambah seperti susu siap minum dan es krim.
Meski demikian, Setya Ari mengingatkan pengembangan peternakan harus dibarengi mitigasi risiko. Ada empat hal yang menjadi perhatian, yakni ketersediaan pakan, pencegahan penyakit ternak, pengelolaan limbah, dan rantai pasok.
"Kawasan terpadu dan target produksi yang masif ini tidak boleh abai dalam memitigasi risiko. Pakan harus tersedia dengan harga terjangkau, vaksinasi untuk mitigasi PMK diperkuat, dan limbah harus dikelola agar tidak mencemari lingkungan," ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah memperhatikan sistem rantai dingin atau cold chain. Fasilitas milk cooling chiller di tingkat KUD dinilai penting untuk menjaga kualitas susu sebelum dikirim ke industri pengolahan.
Baca juga: Kekerasan Perempuan dan Anak di Banyumas-Cilacap Jadi Sorotan, Setya Ari Dorong Ketahanan Keluarga
"Yang jarang sekali diperhatikan adalah rantai pasok. Bagaimana memastikan kualitas susu tetap terjamin sampai ke pabrik pengolahan agar seluruh produksi benar-benar terserap," katanya.
Setya Ari menegaskan, target pemenuhan kebutuhan susu Jawa Tengah harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Investasi besar perlu berjalan beriringan dengan perlindungan dan penguatan peternak lokal agar peningkatan produksi sekaligus berdampak pada kesejahteraan masyarakat. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.