ORBIT-NEWS.COM, WONOSOBO – Dataran Tinggi Dieng, yang berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, kembali menjadi sorotan saat musim kemarau. Penyebabnya adalah kemunculan embun es atau yang dikenal masyarakat sebagai embun upas, fenomena alam yang membuat hamparan rumput dan tanaman tampak memutih layaknya diselimuti salju. Fenomena ini menjadi daya tarik wisata sekaligus tantangan bagi para petani di kawasan tersebut.
Embun es terbentuk ketika suhu permukaan tanah turun hingga mencapai atau berada di bawah titik beku pada dini hari. Dalam kondisi langit cerah, kelembapan rendah, dan angin yang relatif tenang, uap air yang menempel di permukaan rumput maupun daun langsung membeku menjadi kristal-kristal es tipis. Berbeda dengan salju, embun es Dieng tidak jatuh dari langit, melainkan terbentuk langsung di permukaan tanah dan tanaman.
Fenomena embun es umumnya terjadi pada periode Juni hingga September, bahkan dapat berlanjut hingga Oktober jika musim kemarau berlangsung lebih kering. Pada musim kemarau 2026, BMKG memperkirakan peluang kemunculan embun upas lebih sering karena kondisi cuaca diprediksi lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya.
BMKG juga menjelaskan bahwa suhu nol derajat Celsius atau bahkan minus yang sering diberitakan saat embun upas muncul merupakan suhu minimum permukaan rumput, bukan suhu udara yang dirasakan manusia. Suhu udara di Dieng umumnya masih berada di atas titik beku.
Menjadi Magnet Wisata
Baca juga: Tak Perlu Mahal, Masakan Rumahan Sederhana Ini Bisa Bikin Nasi Nambah
Kemunculan embun es selalu menarik perhatian wisatawan. Sejak sebelum matahari terbit, banyak pengunjung datang ke kawasan seperti Kompleks Candi Arjuna untuk menyaksikan hamparan kristal es yang berkilau saat terkena sinar matahari pagi. Fenomena ini kerap dijuluki sebagai "salju tropis" karena memberikan pemandangan yang jarang ditemui di Indonesia.
Fenomena embun es di Dieng menjadi bukti bahwa kawasan pegunungan tropis Indonesia memiliki karakter iklim yang unik. Meski hanya berlangsung beberapa jam pada pagi hari, kehadirannya selalu dinantikan wisatawan sekaligus menjadi pengingat akan tantangan alam yang dihadapi masyarakat setempat setiap musim kemarau. (*)
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.